Tiga Pentigraf: Helm Puncak Anak Guru

 


Pentigrafis
: Anthie Irdiyanti

Helm

Bismillah, di atas boncengan Ojek Online aku menata kembali niatku. Aku berjanji hari ini akan mengawali hari dengan bahagia, tenang, dan damai. Aku berjanji akan semakin memperbaiki diri, menebar senyum kepada orang-orang, menjadi pribadi yang lebih banyak bersyukur, lebih suka membantu orang lain, lebih dermawan dan baik hati.

Sesampainya di tempat tujuan, aku turun dari motor dan memberikan ongkos yang aku lebihkan. "Kembaliannya buat Bapak saja. Maturnuwun sanget nggih, Pak". Si Bapak menolak, aku balik menolak. Si Bapak menolak lagi, aku balik menolak lagi. Karena tidak mau terus-menerus berebut tidak mau menerima uang lebihan, aku segera meninggalkan motor.

Bapak ojek online memanggil-manggil namaku, aku membiarkannya. Dalam hati aku benar-benar sudah tulus dan ikhlas, jadi tidak perlu repot-repot dikembalikan. Tapi, Si Bapak terus-menerus memanggil dan berteriak "Helmnya, Neng. Helm saya! " Aku reflek memegang kepala. Helmnya masih kupakai ternyata. Plak!

23-12-20


Puncak

Melati ingin sekali mengeluh tentang perjalanan yang sudah terlampau jauh ini. Ia ingin pulang, tapi tidak bisa. Pendaki telah membawa hatinya, bagaimana mungkin ia tetap hidup?

"Kenapa Kau begitu jahat? Aku mohon kembalikan hatiku dan aku akan pulang. Oke, kalau tak mau, bisa tolong berikan hatimu? Tolong. Sakit sekali kulewati seluruh perjalanan kita yang datar, yang tak tahu ujungnya akan bagaimana. Kenapa kau begitu egois? Tak mau melakukan keduanya untuk aku tetap hidup! Di puncak ada apa? Ada siapa? Mau menikahi matahari? Apa tujuanmu membawaku kesana? Menyematkan tubuhku di telinganya? Atau apa?! "

Pendaki tetap diam. Ia hanya tersenyum datar lalu melanjutkan perjalanan. Melati punya dua pilihan: melepaskan Pendaki lalu mati. Atau melewati perjalanan menyakitkan setengah mati tanpa tahu akhir dari perjalanannya nanti.

27-12-20


Anak Guru

Yuri anak guru. Bapaknya guru, ibunya guru. Pak De - Bu de, Pak Lik - Bu Lik, semua keluarga besarnya rata-rata jadi guru. Keseharian mereka mengajar, mengabdi, memberikan ilmu untuk generasi milenial. Mulia sekali. Tapi, Yuri tidak pintar. Kalau sedang dibacakan rangking, nama Yuri akan terpampang di deretan akhir kedua setelah Sela -kakak kelasnya yang sudah tiga tahun ini belum juga naik kelas itu-. Dan para tetangga sekalian akan berceloteh "Lah, kok bisa. padahal anak guru. " "Nah yo, moso gak pinter. Kan anak guru. " "Belajar, Yuri. Masa anak guru bodoh" Dan seterusnya.. Dan seterusnya....

Yuri yang capek dengan celotehan tetangga sekitar dan orang-orang, berusaha keras untuk berubah. Ia belajar siang- malam, dengan tekun, meski terkantuk-kantuk. Ia berusaha keras memahami semua pelajaran yang selama ini cuma lewat saja di otaknya.

Usaha tidak mengkhianati hasil. Ketika kelulusan, Yuri menuai hasil yang sangat memuaskan. Tidak disangka-sangka Yuri menjadi lulusan terbaik kedua di daerahnya! Rasanya semua jerih payah usaha belajarnya tidak sia-sia. Lalu para tetangga berfirman "lah.. Pantes aja pinter. Kan anak guru. "

18-12-21

Sumber: FB Kampung Penrigraf Indonesia


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2917830002621919007

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal


 

item