Tembak-Tembakan Gaya Jawa

Presiden Joko Widodo saat membuka acara Festival Keraton dan Masyarakat Adat ke 5 2018 di Sumenep (foto: Rulis)
Sudibyo Glendoh

Selain kecanggihan kemampuan menyembunyikan dirinya yang lihai, licin, penuh kelabu yang menipu, karena dicekel ndhase kena buntute, ditangkap kepala ternyata ekornya, kesaktian Jawa lain adalah kecanggihan kemampuan menembaknya yang sangat halus, lembut, dan mengena tanpa menggoyahkan sedikit pun yang ditembak karena yang ditembak bisa tak merasa ditembak, itulah gaya nembak lor kena kidul, menembak utara kena selatan.

Kecanggihan menembak tersebut biasanya digunakan sesama orang Jawa terhormat. Orang terhormat adalah orang yang memiliki kekuatan. Bagi orang Jawa, orang yang kuat harus dijaga keseimbangannya. Kegoyahannya karena ketidakseimbangannya bisa mengundang kegaduhan dan kekacauan, menimbulkan ketidaktenangan, sebuah situasi yang tidak harmoni.

Dalam pandangan Jawa, kunci keseimbangan orang Jawa terletak pada mukanya. Jika muka diambil, orang Jawa akan kehilangan muka. Orang Jawa yang kehilangan mukanya akan mudah lepas kendali. Orang terhormat Jawa yang kehilangan mukanya bisa menimbulkan banyak korban karena lepas kendali itu.

Jika orang terhormat Jawa harus dikalahkan, maka teknik mengalahkannya harus dengan terhormat pula, yaitu, dengan tetap menjaga kehormatannya, keseimbangannya. Ia harus ditembak dengan tidak ditembak. Tembakan harus diarahkan ke yang lain untuk mengenainya. Tembakan itu harus sangat terasakan oleh yang tertembak tanpa bisa dilihat oleh siapa pun selain yang menembak dan yang ditembak.

Demikianlah, kesaktian menembak ini digunakan ketika orang Jawa merasa harus memenangkan pertarungannya, tetapi harus tanpa menimbulkan gejolak apa pun. Situasi yang tenang harus terjaga. Keharmonian lahir yang tampak oleh umum kebanyakan harus bisa dipastikan.

Orang Jawa sasaran tembak harus ditembak tanpa goyah sedikit pun. Orang harus terjaga kehormatan harga dirinya, tanpa kehilangan mukanya, tetap dalam keseimbangannya. Orang harus dikalahkan tanpa harus dikalahkan, ngalahke tanpa ngasorake, mengalahkan tanpa menjatuhkannya.

Orang yang menjadi sasaran tembak tidak boleh menjadi sasaran tembak agar tak dilihat umum. Orang tidak boleh dipermalukan di muka umum. Untuk menembaknya, tembakan harus diarahkan ke yang lain, nembak lor kena kidul, menembak ke utara kena selatan.

Tapi orang Jawa dalam sejarah tak punya senapan. Orang Jawa hanya punya keris, tombak, panah, dan ketapil. Jadi bila dalam urusan menembak, orang Jawa umum biasanya pakai kata-kata, orang Jawa terhormat pakai kejadian atau peristiwa. Remaja Jawa pakai lambang-lambang cinta. Anak-anak kecil Jawa pakai suara belahan pelepah pisang.

Ada yang sedang bisa kaulihat orang Jawa yang sedang tembak-tembakan ini? Simpan di hati saja, nggak usah kaukatakan di sini.

Sumber: FB Sudibyo Glendoh


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2981917438460113054

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA