Sejumput Puisi Safrina Muzdhalifah


Safrina Muzdhalifah
, lahir di timur daya Madura, te patnya Totosan, Batangbatang Sumenep. Tutor Bahasa. Inggris sekaligus pengurus tunggal ma’had Darus Salam Puteri MAN 1 Pamekasan. Menulis fiksi dan non-fiksi, tapi lebih mencintai sepi dan puisi. Anggota Komparasi Rulis (Rumah Literasi Sumenep)

Beberapa puisinya pernah dimuat di buletin Jejak Jawa Barat (2015), di Media online Jejak Publisher (2017 dan 2018), kawaca.com (2019), simalaba.net (2019), apajake.id (2020), mbludus.com (2020).

Pernah memenangkan juara II Lomba Karya Tulis Ilmiah Alquran Universitas Trunojoyo Madura (2018), juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa se Jawa Timur di Universitas Nusantara PGRI Kediri (2019), Paper Presenter pada  8th HERO International and national conference of Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIE) Fakultas Eknomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2020),  penulis terpilih (10 besar) pada event Indonesia Berpuisi #9 oleh CV. Poetry Publisher (2020), dan nominasi 30 karya terbaik dalam lomba menulis puisi nasional oleh Dema Fahum UIN Sunan Ampel Surabaya (2020).

Puisinya termuat dalam beberapa antologi bersama; Antologi Puisi Sasoma diterbitkan oleh Lesehan Sastra Annuqayah (LSA) (2015), Antologi Puisi Negeri Kertas (2016), Antologi Puisi Nusantara diterbitkan oleh CTA Creation (2016), Antologi Puisi Perempuan Yang Tak Layu Merindu Tunas Baru diterbitkan oleh FAM Publishing (2018), Antologi Puisi Mengeja Komposisi Mie Instan diterbitkan oleh LPM Arena UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2019), Antologi Puisi Perempuan Seberang Jalan diterbitkan oleh CV. Poetry Publisher Indhependhent (2020). Antologi puisi solo ‘Jejak’ diterbitkan secara gratis oleh FAM Publishing (2019).

Bisa dihubungi melalui; email: bulir.air@yahoo.com, ig: bulir.air11, fb: Safrina Muzdhalifah, blog: safrinamz.blogspot.com, WA: 082330322823

*****

Ekspedisi Sepi
    : Ainur Rofiq

Engkau terlalu dini merintis musim gugur pada pengharapanku
Sebelum musim semi seri di singgasana matahari
Sementara aku masih tersisih dari silsilah kerinduan
Yang tercantum pada gerai angin siang tadi

Ketika malam melafalkan riwayat Muharram di atas purnama
Riak angin menilawahkan penantian pada hitungan yang lebih dari satu
Huruf-huruf sunyi meluruh sendu dalam sukmaku
Akan kusanggulkan sajak yang yang terpenggal
Sebab angin kian kencang berlari dari pucuk dedaunan

Annuqayah, Januari 2015


Hujan Deras Sekali

Hujan deras sekali malam tadi
Aku tidak tahu kapan tertidur
Ketika tiba-tiba riuh hujan berkesiur
Di atap rumah yang catnya meluntur

Hujan deras sekali
Aku tidak tahu kapan terjaga
Saat semilir angin serta irama guntur memberi tanda
Gerimis seketika leluasa menggagahi bebunga
Begitu pula halaman tetangga

Hujan deras sekali malam tadi
Membangunkan pemimpi
Dari fantasi yang dianggitnya sendiri
Dengan gigil yang mencucuk hingga ke sendi

Pamekasan, 2016


Perempuan Bercadar

Di balik kibar cadar
Bunga luka tumbuh mekar
Berduri, menarik simpati umpama mawar

Ia berupaya, bersandar pada diri yang gusar
Dengan sinar tanpa pendar
Berkelebat camar-camar
Menghayati ilustrasi hidup hingga ke akar

Rupanya dalam tipuan samar
Wajah bunda gelisah dan bergetar
Ah, betapa lancang maha duka menyandera
Deritaku ia tanggungkan jua
Pamekasan, 08 November 2016

 

Menuju Khusyu’

Terdapat hasrat yang memikat
Saat adzan menggema lamat-lamat
Kuutus rohani ke arah-Mu tanpa ragu
Dengan indera setia, tak mendua
Sebab dunia, juga surga dan neraka    

Dalam shalatku,
Sambutlah jiwaku penuh gairah
Agar ia taah menolak lelah
Sehinnga temu singkat pada sisa raka’at
Menjadi demikian hangat

Dalam hening,
Sambutlah aku diluar keramaian yang memuakkan
Cukup jamu aku dengan khusyu’ idaman
Di ujung kepulangan
Supaya sujud panjang
Meraih abadi dalam tenang

Batangbatang, 5 February 2017



Ragu

Bila dzikir mulai getir
Bagian mana dari takdir
Yang luput saya tafsir

Bulir pada senja yang desir
Tak lain hanya pemberontakan halus
Semasih arus, dimana ketegangan saya berhembus, terus misterius

Pamekasan, 15 April 2018


Kepada Penyair

Bersembunyi dibalik puisi
Sepengecut itukah penyair ?
Menggugat dan mencaci dalam puisi
Semunafik itukah penyair ?
Menangis dan mengutuk diri dalam puisi
Seegois itukah penyair ?
Berbagi hanya pada puisi
Begitu kesepiankah penyair ?
Beri aku jawaban
Meski keraguan salah satu jalan menemukan 

Batangbatang, 23 Januari 2018



Jejak Pena

Puisiku bukan Tuhan
Yang Maha dalam segala
Ia hanya Tuhan bagi pikiran
Dan sejumlah peristiwa

Puisiku bukan Rasul
Kekasih kebenaran
Ia hanya penyimpul
Bagian tertentu berbagai kenangan

Puisiku bukan malaikat
Yang merdeka dari dosa
Ia hanya mencoba lebih dekat
Dengan kharisma kata-kata

Puisiku bukan ulama
Penuntun ummat
Ia hanya tanda paling nyata
Kesetiaan ide dan imajinasi yang tak bersyarat

Puisiku bukan apa-apa
Ia hanya warna
Yang menemukan kehidupan
Dibalik macam-macam kekosongan

Dan puisiku bukan siapa-siapa
Ia hanya jejak pena sederhana
Yang menhindari kesia-siaan
Dari jalan panjang kehidupan

Pamekasan, 28 Mei 2019



Gumam

Bagaimana mencintai maha Cinta?
Saat engkau mulai lupa pada tipu daya dunia
Barangkali.

Pamekasan, Februari 2020



POSTING PILIHAN

Related

Utama 7160447444881594894

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item