Puisi-puisi Wafiqatun Nuraniyya

Wafiqatun Nuraniyya, gadis asal: Sumenep, kini menempuh pendidikan tingkat SMP, mempunyai hobi Menyanyi. Mempunya pengalaman menulis menulis puisi yang diterbitkan di madding pondok, menulis opini yang diterbitkan di bulletin pondok



Kepada-Nya

Saat keheningan malam
Memjadi pengiring munajat Kepadanya
Saat surban hijau tua
Menjadi saksi sujud Kepadanya
Kepadanya……
Tempat kucurahkan
segala asa dan harapan
Kepadanya…….
Yang selalu merawat hamba hambanya
Dia yang lebih dari kata sempurna
Meski dinginyya malam mengusik
Tak kuhiraukan itu
Tuk membalas apa yang ia berikan padaku
Dariku….
Hambanya yang jauh dari kata sempurna


Sang Pendekar Jalanan Bersenjata Gitar

Tetesan air dari langit
Yang semu berkelabu
Gemuruh yang seolah
Menjadi pengiring jatuhnya
Ke dunia yang fana
Angina dingin
Yang menjadi pelengkap suasana
Yang mewakili kalbu ini

Saat ku temuinya
Basah kuyup
Dengan gitar kecil nan tua
Dan dengan seragam sekolah
Yang mulai berwarna putih tulang

Petikan gitarnya
Yang ia harapkan
Menjadi sumber penghasilannya
Saat lampu lalu lintas
Mulai berwarna merah
Dia mulai berjalan
Bernyanyi dengan petikan gitarnya

Dia yang saat ditanya
“Untuk apa kau lakukan semua ini?”
Dia mengalihkan pandangannya
Pada sosok Bidadari tak bersayap
Baginya
Yang sedang duduk
Dan terbujur lemah
Dibawah jembatan itu
Dengan beralaskan kardus

Lalu dia menjawab
“Ibu.”
Yang dengan seketika
Tanpa ia sadari
Jatuhlah air mata
Di pipi manisnya

Dengan tubuh kecilnya
Tak memengaruhi usahanya
Tuk memperoleh penghasilannya
Dan menjadi tulang punggung keluarganya

Betapa kuatnya dirimu
Wahai musisi jalanan cilik
Kau layaknya seorang
Pendekar kecil
Dengan gitar kecil
Sebagai senjatanya
Yang ia bawa kemana-mana


Sebut Saja Dia Senja

Tarian ilalang di senja kali ini
Dengan hilir angin pelan
Nan sejuk
Dihiasi langit senja
Nan merona di ufuk barat
Saat burung-burung hilir kembali
Ke sarang tempat berteduhnya
Dengan kicauannya yang merdu
Tenang…
Namun, ya seperti biasanya
Ketenangan yang sementara

    Ah…
    Suasana ini mengingatkanku
    Padanya
    Juluki saja dia senja
    Yang berikanku ketenangan
    Yang indah
    Namun hanya sementara


Butiran Ganja

Garis waktu yang merangkak maju
Mengajarkanku tentang kejamnya dunia
Anasir-anasir itu
Para penghasut harapan-harapan bangsa
Yang menghasutnya tuk menghisap
Butiran-butiran ganja di tangannya
Katanya…
“Ini yang akan membuat hidupmu tenang”
“Ini yang membuat hidupmu senang”

    Apakah yang ia maksud itu?
    Yang membuat badannya lemah
    Yang membuat busa putih
    Keluar dari mulutnya
    Yang membunuhnya perlahan-lahan
    Yang membuat uangnya terbuang sia-sia

Akankah kau sadari
Betapa sedihnya orang-orang yang menyayanginya
Yang ditinggalkannya
Dengan keadaan buruknya
Sudikah kau menyentuhnya?


Teman

Saat ia berada
Di puncak ketenarannya
Kadang kala khalayak
Membuatnya termangu
Dikala keramaian
Remuk
Mensyukuri memori kalbu
Yang sedang diselimuti kelabu
Petir cemoohan bergemuruh
Menyerang rancaknya asa
Yang rancak terbangun
Dalam hati
Yang kadang kala retak

        Namun…
        Kau ulurkan tanganmu
        Pada saat keterpurukanku
        Kau yang kuatkan aku
        Saat asa yang kususun mulai retak        

Teman…
Dalam keadaan apapun aku
Kau masih mau menemaniku
Terima kasih kau telah selalu ada
Teman




POSTING PILIHAN

Related

Utama 4800184924830599130

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item