Merenungi Kembali Makna Mundzirul Qaum

 

Para pengasuh Ponpes Al-Amien Prenduan (foto: pesansantri.id)

Dwiyono Tandoer*)

Boleh jadi, istilah _"Mundzirul Qaum"_ sangat akrab sekali dengan kiai, ustadz, santri dan alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Istilah ini, seringkali kita dengar langsung dari dawuh-dawuh dan ceramah-ceramah para Almarhumin, pimpinan kita, baik secara kolektif maupun individu. Inilah yang kemudian diharapkan mampu menjalankan visi dan misi Al-Amien Prenduan, izzil Islam wal muslimin.

Setelah lulus dari tempaan berbagai macam pengetahuan di Al-Amien Prenduan, berbagai karakter dan kepribadian masing-masing alumni bermunculan di berbagai lini. Mulai dari dunia pendidikan, pengusaha, jurnalistik, petani, pedagang dan beragam profesi lain dilakoni oleh para alumni. Mental mundzirul qaum, menuntut alumni untuk menjadi yang terdepan dalam segala hal.

"Dalam segala bidang, kalian harus mampu menjadi pemimpin. Baik profesi kalian sebagai pendidik, pengusaha, petani, bahkan tukang becak sekalipun, kalian harus menjadi pemimpin," demikian dawuh para Almarhumin yg setiap saat kita dengar, dan sangat melekat sekali di telinga kita.

Pendek kata, Alumni Al-Amien harus mampu mencerminkan dirinya sebagai kader-kader pemimpin umat, dalam bidang apapun, dan tentu sesuai dg kapasitas masing-masing.

Ternyata benar, setelah lulus banyak alumni yang menjadi pemimpin di bidang yang mereka geluti masing-masing. Tidak sedikit yang menjadi kepala sekolah, pegawai, pengusaha, pedagang, petani, yang memegang peranan penting di kelompok mereka. Cukup membanggakan, bukan!

Namun, hati-hati dengan menerapkan istilah _mundzirul qaum._ Karena ada tagline yang luar biasa bijak, yang biasanya disandingkan dengan istilah tersebut. Bunyinya, _"kun imaman mutho'an, wa kun makmuman muti'an"._ Artinya, tentu semua alumni tahu dan tak perlu dijelaskan panjang lebar.

Nah, perangkap _mundzirul qaum,_ sering terjadi pada banyak orang. Terutama, bagi mereka yang bergelut di suatu bidang dan melibatkan dua orang atau lebih alumni Al-Amien Prenduan. Perselisihan pendapat seringkali terjadi. Sehingga, apabila satu pendapat ditolak, akan menimbulkan sensitivisme pribadi. Dan itu benar-benar menonjol dan banyak terjadi di banyak tempat.

Ada satu falsafah Al-Amien Prenduan yang sangat luar biasa dan semestinya difahami secara utuh oleh segenap alumni, "Alumni Al-Amien Prenduan sanggup memimpin dan siap dipimpin". Ada kesiapan dalam diri alumni untuk mampu mengemban amanah apapun, namun tetap harus mengedepankan nilai-nilai ke tawaduan dan kerendahan hati. Alumni Al-Amien Prenduan, tidak berebut jadi pimpinan, tidak memaksa diri ada didepan, tidak mencari jabatan tertinggi dalam hal apapun, tapi Alumni Al-Amien Prenduan tidak pernah mundur saat diberi amanah untuk menjadi pimpinan terdepan. 

Ketika dipimpin dia mampu mengambil perannya sebagai makmum yang baik, sadar fungsi dan faham posisi. Karena hakekatnya, peran alumni di manapun dia berada, tujuannya adalah memberi manfaat sebesar-besarnya, untuk agama, nusa dan bangsa. Satu hal pula kita ingat pesan para kyai pimpinan kita dulu, *"Sayyidul Qaumi, Khodimuhum"* bahwa hakekat seorang pemimpin itu adalah mampu melayani umatnya.

Ini agar pula saat kita diamanahi menjadi seorang pemimpin, kita tidak secara congkak menjadikan diri kita sebagai raja, tapi kita adalah pelayan yang baik untuk masyarakat.

Itulah seharusnya menjadi komitmen dan prinsip hidup sebagai alumni Al-Amien Prenduan, agar cita-cita suci pondok mampu kita jawab secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

"Apakah out put semacam ini yang diharapkan dari istilah _mundzirul qaum?"

Tentu, saya tidak bisa menjawab, apalagi ketika tulisan ini saya tujukan pada para mundzirul qaum, alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Simpan jawabannya di dalam hati masing-masing sebagai bahan renungan. Tidak perlu dikomentari pula, karena saya tidak butuh komentar yang mengundang perdebatan panjang.

*) Alumni, Ponpes Al-Amien Prenduan, 07 November 2016
    Sumenep  FB Dwiyono Tandoer*)


POSTING PILIHAN

Related

Utama 2137041676990578289

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item