Harmoni Hari Ibu

Joe Mawar dan putrinya

"Nda katanya mau kasih hadiah Hari Ibu buat Ummi?, " usik saya tadi.

Nda tersipu. "Nda ga punya uang, Mi. Maunya minta ke aba untuk beli hadiah buat ummi."

Saya tertawa. Suami juga tertawa. Saya bilang: "Biar dah ntar ummi minta sendiri ke aba ya?"

Kami pun tertawa bersama.

"Pokok kamu jadi anak yang rajin belajar itu sudah hadiah terbaik buat ummi. Tidak bikin ulah di pondok, baik-baik sama siapa aja, itu udah cukup."

Pada Hari Ibu kali ini, melihat anak hari ini, saya seperti memutar ulang film kehidupan kami dahulu. Balita mungil yang sejak dulu telah terbiasa ikut ritme saya kemana-mana dalam kesibukan saya ini sudah ABG. Dulu turun naik bis minul gendong anak kecil. Kerepotan membawa barang ini itu.

Memangkunya erat saat ia tertidur di jalan. Seperti ibu sungguhan, saya juga retbliret. Dan itu sangat saya nikmati. Menyuapinya sambil baca buku, dan fardhu ain meninabobonya sebelum tidur. Jika ia bangun tidur hanya sayalah yang diteriakinya. Yang lain minggir. Ia akan menangis jika bangun tidur tak ada saya di dekatnya. Dan ia tak mau dititip pada siapapun semasa balita. Ia lebih senang ikut saya kemana-mana. Kadang ia bertanya: "Habis ini kemana, Mi?"

Jika libur, saya membawanya ke toko buku, seminar, pameran buku, ke perpusda, ke taman bermain dan berbelanja camilan.

Jika terpaksa tinggal di rumah, ia akan selalu menelepon dan setia menunggu saya untuk makan bersama.

Malam pertama saya sibuk menggodok botol susu dan ngeloni si balita. Lupakan si abah sebentar.  

Sungguh tak mudah jika hanya dipikirkam tapi terasa nikmat dijalani. Sibuk sebagai ibu adalah salah satu nikmat terbaik dalam hidup saya.

Saya merasa bersyukur mengingat masa golden age-nya dulu tak sesibuk saat ini.

Suatu kali saya bertemu sesama ibu tiri. Kami bertukar cerita. Saya pikir saya sudah baik dan hebat bisa membesarkan anak seperti saya lahirkan sendiri. Ternyata teman saya itu ibu tiri dari 3 anak! Dan saya cuma satu.

Saya cerita ke suami.

"Saya nggak ada apa-apanya ketimbang dia ya Ba?"

Suami saya berkata: "Tetap lebih hebat kamu. Kamu jadi ibu tiri dari anak yang tidak punya kakek nenek sama sekali. Dan jadi ibu tiri dari puteri seorang laki-laki yang tidak punya harta. Kamu membesarkan Fida dg kebesaran hatimu. Tanpa modal selain kasih sayang. Dan kamu sendiri pun bukanlah orang kaya. Tapi kamu sanggup memberikan yang terbaik bagi Fida. Temanmu itu? Dia tak perlu khawatir tentang modal membesarkan 3 anak.

Suaminya pejabat. Mertuanya kaya. Anak-anak tirinya berharta. Kakek neneknya punya banyak fasilitas. Sedang kamu? Kamu tak punya mertua dan tak ada yang menjamin ekonomi kamu selain Allah. Kekayaan hatimu yang telah memodalimu membesarkan Fida. Bagiku, kamu tetap lebih hebat."

Betapa riuh tepuk tangan dalam hati saya.

Dan betapa lebar kuping saya. Bainal masyriqi wal maghrib.

Anyway...siapapun engkau...ibu angkat ibu tiri ibu sambung ibu psiko ibu adopsi ibu pengganti...hatimu-lah yang akan melahirkan ketulusan tanpa campur tangan dokter dan bidan. Dan tak perlu caesar untuk melahirkan kasih sayangmu...

Selamat Hari Ibu.  

(Joe Mawar)



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1937505364691542248

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA