Banjir: "Sebuah Pertunjukan"


Hidayat Raharja

Saat banjir datang, kami semua paham bencana tersebut senantiasa hadir di musim penghujan. Sudah puluhan tahun kami paham tabiat air yang meluap dari sungai dan masuk rumah melalui selokan. Maka yang kami lakukan menyelamatkan barang-barang dalam rumah dari amukan air.

Kami fasih meletakkan barang supaya terhindar dari amuk air. Diangkat dan ditaruh di tempat yang lebih tinggi. Di setiap rumah selalu disediakan "Para" untuk menaruh barang sementara waktu sehingga terbebas dari banjir. Ada yang terbuat dari bilahan kayu yang dijajar atau bilahan papan di bagian atas ruang di bawah plafon.

Bahkan di ruang tertentu kami jadikan tempat pengamanan supaya tak tersentuh air. Kerja mengangkat dan menata barang merupakan kerja cepat perpaduan antara pikiran dan perasaan dengan pertimbangan aman, nyaman, dan rapih sehingga mudah menatanya kembali ketika air banjir surut.

Dalam kerja penyelamatan ini terasa kerja unik, karena posisi letak barang berubah dari tataan asal. Perubahan ini mengekspersikan keunikan dari penghuninya. Mereka sepakat membagikan ruang gerak air, sehingga tak membetur benda-benda penting dalam rumah. Setiap orang dalam rumah memikiki peran yang penting dan khas sehingga bisa dengan segera menyelamatkan barang sebelum air banjir masuk dalam rumah. Pembagian peran yang terasa dramatis.

Rumah dan ruang menjadi panggung baru untuk sebuah pertunjukan air banjir yang datang ke dalam rumah. Perjumpaan yang secara rutin hadir dan saling bersama sehingga terbangun komunikasi yang tampak dan tak tampak. Komunikasi menyambut datangnya air dan kepergiannya. Ini muncul karena banjir musiman merupakan hal biasa hadapi di rumah yang mereka tempati. Hunian yang mereka cintai.

"Rumah ini sudah saya bangun puluhan tahun yang lalu, banjir datang tertentu di musim hujan. Rumah ini tempat kami meletakkan kenangan. Betapa susah memiliki rumah di masa sulit. Banyak kenanganku di sini sampai menua di sini."  Baginya banjir bukan musibah tetapi kebiasaan yang hadir di musim hujan dan harus ditanggulangi dan dikendalikan.

Pertunjukan ini akan selalu datang saat hujan di pebukitan utara deras dan lama bersamaan dengan pasang air laut. Sungai tak mampu nenampungnya sehingga meluapi kampung-kampung kota yang rendah.  Mereka  pada sabar dan kebal menghadapinya. Mereka saling membantu mengangkat dan menyelamatkan  barang. Rumah yang paling awal kebanjiran akan dibantu oleh tetangganya dan berlanjut ke rumah berikutnya. Lampu padam akan terbantu oleh tetangga yang menyalakan genset berbagi cahaya.

Rumah - rumah pompa di berbagai sudut sungai telah memperpendek waktu pertunjukan dan sangat membantu bagi warga yang menjadi korban banjir. Pertunjukan yang meninggalkan kisah-kisah yang berhamburan di ruang media sosial. Pertunjukan dan penguatan rekatan sosial di antara penghuni kampung yang senasib sepenanggungan.

Semakin cepat pertunjukan makin bahagia kami yang kebagian. Maka upaya pemerintah daerah membangun tebing sepanjang tepian sungai telah banyak mempersingkat waktu pertunjukan. Pendirian rumah pompa sangat berharga dan bermanfaat untuk mempercepat surutnya air dengan harapan pertunjukan banjir cukup di jalan dan tak lama.

Desember 2020

Sumber: FB. Hidayat Raharja

POSTING PILIHAN

Related

Utama 7531179295564851249

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Baru


Indeks

Memuat…

Eksaina

Kolom Aja

 Lihat semua Kolom Aja >

Kamar Pentigraf

 Lihat semua Kamar Pentigraf >

Kearifan Lokal

 Lihat semua Kearifan Lokal >


 

Telah Terbit

Telah terbit antologi cerita  pendek 

“Menjulang Matahari”

Cerpen ini ditulis oleh 30 orang penulis dengan latar peristiwa yang terjadi disekitar kehidupan penulisnya. Layak dimiliki dan dibaca dalam lingkungan keluarga

Rp. 45.000,-

 Pesan buku
 
item