Senandung Bunga Pahlawan


Peristiwa 10 November 1945 menjadi momen warga Surabaya dan bangsa Indonesia untuk bersama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Pada momen tersebut tak lepas dari sosok Bung Tomo. Bung Tomo dengan nama asli  Sutomo ini dikenal sebagai pengobar semangat Arek-Arek Suroboyo untuk berjuang pada pertempuran 10 November 1945. Hal ini pula yang terlekat di sosok Bung Tomo.

Berikut redaksi sajikan puisi berjudul Senandung Bunga Pahlawan yang ditulis oleh penyair Syaf Anton Wr

Senandung Bunga Pahlawan

barangkali sudah begitu lama
kita saling berlupa pada hakikat tegur sapa
bahkan dalam bahasa yang sangat sederhana
kitapun mulai gagap
mengeja nama-nama pendiri negeri ini
bahkan dalam mimbar terbuka

begitu banyak potret sejarah yang terbingkai
dalam pigura-pigura batu, yang menyimpan deru
angan dalam album yang pucat, dingin dan kaku
dan tanpa sengaja kita telah mendirikan bukit cadas
museum kekekalan menghadang jejak-jejak kematianmu
yang kini  terhapus dalam rangkaian buku sejarah
anak-anak sekolah tak lagi mengenal pahlawannya

bung,  kini engkau datang  kembali, meradang dalam berang
membakar bumi ini dalam ketidak-berdayaan kami
mempertanyakan hakikat yang engkau ajarkan
pada generasi kami
namun kami diamkan begitu saja,
karena kami tidak lagi punya api semangat

ketika sebuah negeri telah menjadi ladang belati
dan kemerdekaan hanya menjelma retorika kata-kata basi
masihkah bernilai semangat juangmu
sedang lintas sejarah yang kami bangun justru meretaskan
ketidak mengertian dalam pertikaian antar kami
dan tak henti-henti

maka getarkanlah kembali jiwa pahlawanmu dalam gelisahku
tiupkan roh kejantanan dalam raguku
sebab orang-orang yang berbangga dengan menepuk dada
adalah muslihat, yang sebenarnya dialah pernghianat bangsa
karena  mereka tidak tahu, apa arti semangat juang
sepuluh nopember empat lima

bung, hanya engkau yang kupilih,
dan yang meretaskan kemerdekaan negeri ini
bersama Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sahrir
dan ribuan nyawa yang melayang dalam pahitnya isi dunia
sedang senapan dan sangkurmu,
semangat patriotmu yang kobarkan api dari mulutmu
kini telah menjadi sejarah yang dilupakan

karena sejarah telah menjadi rangkaian  angka-angka
karena sejarah tak lagi punya nilai,
sebab terbungkam oleh kesombongan kami,
yang  menistakan harga diri
karena sejarah telah menjelma jadi holako,
yang menghalalkan segara cara, dalam arah jalan yang beda
bila sejarah disalah artikan dalam angka-angka
akhirnya meniadakan massa, dari masa ke masa

bung, membaca sejarah dalam lipatan waktu
engkau kini terasa berdiri di depanku
dalam sorot tajam matamu, merah bara wajahmu
dalam teriakan-teriakan “merdeka atau mati”
demikian dahsyat menggetarkan nuraniku

lihatlah generasimu kini, anak cucumu juga
yang telah digerus waktu demi waktu
berbaris, berbanjar mengepalkan tangan
namun tak mampu lagi mengucapkan kata-kata
kecuali hanya berharap dan bertanya-tanya

bung, sulutkan kembali jilatan api semangatmu
sebagaimana engkau bakar darah arek-arek surabaya
menghadang, menggempur para sekutu
dan penghianat bangsa, sampai luka berdarah-darah

bung, masihkah kau sisakan apimu untuk kami
karena saat ini kami sedang menggantang semangat
untuk menggempur kembali para  penghianat
yang kini telah bersekutu dalam jubah-jubah  palsu

bung, “merdeka”



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7782508335876757324

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA