D. Zawawi Imron: “Bernyanyilah Dengan Kebersamaan”

D. Zawawi Imron

Petikan kalimat ini saya ambil dari pesan pak D. Zawawi Imron saat memberikan ceramah kebudayaan dalam acara 4 Tahun Rumah Literasi Sumenep (Rulis) Minggu pagi (15/11/2020). Lengkapnya seperti ini “Jika anda ingin bernyanyi, bernyanyilah dengan kebersamaan”. Kalimat ini sarat makna yang begitu berharga kepada para puan tuan utamanya bakal calon penulis, novelis, sastrawan dan budayawan yang hadir di majelis itu.

Prinsip tersebut yang selalu menjadi ruh dalam setiap puisi yang lahir dari rahim jiwanya yang lembut. Ia juga pernah berkata bahwa puisinya digemari orang-orang Indonesia bahkan luar negeri bukan karena bagus atau indah tapi lebih karena “Saya tidak pernah menyakiti mereka” pungkasnya di dalam mobil dalam perjalanan kediamannya ke lokasi acara. Dawuh Pak De –sebutan akrab KH. Zawawi Imran- ini mengingatkan saya pada pesan Gus Dur “Tidak penting apapun agama dan sukumu, kalau kau melakuka sesuatu yang baik pada semua orang, orang tidak akan pernah bertanya apa agamamu”

Menurutnya, karya boleh saja terus diciptakan namun itu tidak cukup, ia haruslah mengandung misi perdamaian dengan orang lain. Hal ini sesuai dengan sila kedua; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Selanjutnya dijelaskan kepada siapa harus beradab dan bersifat adil dalam sila ketiga; Persatuan Indonesia. Ini membuktikan bahwa sejak awal dideklarasikannya kemerdekaan Indonesia, para founding father negara kita telah sadar bahwa rakyat Indonesia terdiri dari beragam suku, bahasa, warna kulit, ras dan budaya. maka menjadi aneh jika belakangan ada oknum yang ingin menyeragamkan Indonesia, bersatu harus tapi seragam tidak mungkin.

Multikulturalisme dan pluralisme adalah keniscayaan dan masyarakat yang lebih dulu berdamai dalam keberagaman ini adalah masyarakat Madura, tegas penyair yang baru menerima anugerah Life Achievement Award. Manusia-manusia yang hidup di Madura telah lama memiliki semboyan “Asapo’ angin, abhental ombe', odi'na oreng Madhure” (berselimutkan angin, berbantal ombak, itulah kehidupan orang-orang Madura), barangkali ketertekanan ini yang membuat masyarakat Madura tangguh pada perbedaan.

Di akhir acara Pak De menegaskan lagi untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan utusannya, membaca salawat agar hati tenang dan jernih, sebab di luar Muhammad tak ada kebenaran yang hakiki.

Salam Literasi

(Nur Khalilah Mannan)





MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4187269779728938657

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA