Sastra, Politik dan Perempuan

Raedu Basha saat membacakan puisinya

Oleh: Nur Khalilah Mannan

Pada acara kongkow yang diadakan oleh KOMPARASI (Komunitas Presentasi dan Apresiasi) Rumah Literasi Sumenep, Raedu Basha seorang seniman dan antropolog menyinggung tentang sastra dan politik. Kegiatan ini sebagai bentuk perayaan bulan Oktober, bulan bahasa dan sastra. Raedu Basha sebagai pembicara, dua hari sebelumnya (15/10/2020) mendapatkan Anugerah Sutasoma yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya kini sastra telah memiliki jarak yang cukup renggang dengan masyarakat. Sebaliknya, politik selalu dekat dan diperbincangkan hampir di setiap detik seakan tanpa sekat.

Bukti sederhananya, dalam forum sastra seperti yang diadakan di Taman Atas ini membicarakan politik (tanpa berpihak pada satu oknum pun) padahal belum tentu –jika tidak ingin dikatakan tidak pernah- dalam perkumpulan politik kampanye misalnya, membicarakan sastra.

Menurut penulis Tesis Sastrawan Santri ini kesamaan keduanya adalah sama-sama berjuang. Politik perjuangannya di tengah keramaian karena mencari pencitraan, politikus secara tidak langsung menyadari bahwa dirinya tidak lebih berharga dari hal yang tidak memiliki citra baik. Lain halnya dengan sastrawan yang berjuang di kesunyian, melihat masyarakat dari jauh, merenungi hiruk pikuk dinamika rakyat karena ia sadar bahwa menjadi manusia adalah citra tertinggi itu sendiri. Sehingga mencari pencitraan adalah hal yang menunjukkan kegilaan dan tidak penting.

Dalam tulisan ini saya menambahkan satu entitas penting yang berkait kelindan dengan Sastra dan Politik. Perempuan.

Sastra tidak akan menjadi indah jika tidak seksi, menarik perhatian pembaca dan penikmat sastra. Memang setiap tulisan, puisi, cerita atau lainnya tergantung pada interpretasi pembaca namun ada sesuatu yang tetap melekat dalam tulisan yaitu roh kepesonaan dan roh yang menarik dalam tulisan adalah seksi. Dibaca dalam keadaan apapun, senang, sedih, marah atau biasa saja tulisan seksi akan tetap mampu menarik ‘berahi’ (bentuk sarkastis dari term perhatian) pembaca.

Seksi adalah kata yang sering dilekatkan dengan perempuan. sebab, dilihat dari sisi manapun entitas perempuan tetap menarik. Maka tulisan yang baik ia adalah yang memiliki roh “perempuan”.

Demikian pula dengan politik yang salah satu tujuannya (selain harta dan tahta) adalah perempuan. ya, perempuan terbukti menjadi ‘destinasi’ prestisius bagi seorang yang berjuang dalam kancah politik. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan. Berpolitik bolehlah dengan segala cara dan sikap, tegas, disiplin, keras dan kokoh pendirian. Namun berpolitik yang baik dan benar adalah dengan memiliki empati yang besar kepada sesama, masyarakat dan bangsa.

Jika tidak demikian politik hanya sebagai kendaraan semata untuk memuaskan pihak tertentu saja.

Perlu saya tegaskan bahwa narasi di atas bukan menunjukkan bahwa sifat perempuan adalah kebalikan dari tegas, disiplin, keras dan kokoh pendirian. Bukan. Dalam kosmologi Cina ada polaritas sifat yang saling beraturan sekaligus melengkapi, Yin dan Yang.  Jika diartikulasikan dalam term Islam maka Yin dan Yang adalah polaritas sifat Tuhan Jamāl dan Jalāl. Sifat pertama (Jamāl) adalah nama-nama Ying yang berarti hangat, penuh kasih sayang, lembut dan feminin, sedangkan sifat kedua (Jalāl) adalah nama Yang yang berarti agung, besar, gagah, tegas dan maskulin.

Dua sifat tersebut harus seimbang agar politik berjalan imbang. Sachiko Murata dalam bukunya The Tao of Islam mengutip kalimat “yang satu Yin yang lain Yang, inilah Tao. Mewarisi Tao adalah baik, mengaktualisasikan Tao adalah sifat dan watak primordial manusia” maka untuk memberikan hak kemanusiaan harus menyelaraskan sifat-sifat tao ini, Yin dan Yang, Jamāl dan Jalāl, barulah politik akan hidup sehat.

Baik sastra atau politik, keduanya harus feminin sekaligus maskulin. Bukan hanya narasi yang bertumpuk-tumpuk namun juga pesona yang tak hanya indah di pelupuk. Masyarakat tidak hanya perlu sikap tegas tapi juga kasih sayang, bukan hanya tepat waktu dalam menyusun peraturan namun juga pengetian bahwa masyarakat sedang krisis keyakinan.

Sekali lagi, kualitas maskulin dan kualitas feminin harus sama-sama utuh ada dalam Sastra dan Politik. Sifat feminin harus menjadi pondasi dalam dua hal ini, menurut saya klaim ini tidak berlebihan karena Malulana Jalaludin Rumi Sufi besar pada abad ketuju dalam buku pertama Matsnawinya mengatakan bahwa “Perempuan layak disebut pencipta”.

***
Penulis adalah aktivis Rumah Literasi Sumenep
.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 539340779001113458

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA