Program Budaya Aryo Sekti
(Satire Pembentukan Budaya Kekerasan)


Djoko Saryono

 
demokrasi adalah tanah air bagi semua suara
demokrasi adalah samudra bagi semua jenis suara
demokrasi adalah tanah air dan samudra bagi semua pikiran

I

Konon, kursi-kursi buatan Indonesia laris sekali di luar negeri. Pasalnya, kursi buatan Indonesia enak sekali diduduki sehingga orang bisa berlama-lama duduk di atasnya. Tak heran, banyak kursi buatan Indonesia menjadi rebutan banyak orang. Bahkan ada satu kursi yang dinamai kursi goyang tunggal -- yang tidak ada duanya di seluruh Indonesia karena jumlahnya hanya satu -- menjadi incaran demikian banyak orang. Salah seorang yang mengincarnya ialah Aryo Sekti (dinamai demikian karena dia ingin menjadi orang sakti). Memang, sudah beberapa lama Ayo Sekti menginginkan kursi goyang tersebut karena bila dia duduk di atasnya tiba-tiba akan menjadi sakti mandraguna, berbuat apapun bias karena semua kekuasaan bisa digenggamnya, dan menguasai seluruh negeri gemah ripah loh jinawi.

Aryo Sekti sungguh-sungguh bertekad mendapatkan dan memantapkan kursi goyang tersebut. Segalanya akan dipertaruhkan demi kursi goyang. Cara apapun akan dilakukan atau dipergunakannya. "Pakai kekerasan diramu kelicikan? Kenapa tidak? Kalau memang diperlukan, apa salahnya? Tapi tetap harus halus dan terlihat prosedural dan yuridis", ujarnya tenang, tidak pernah meledak. Tumbal apapun juga akan dipersembahkan demi kursi goyang. "Nyawa manusia? Darah manusia? Anak-anak muda? Rakyat jelata? Satu juta lebih nyawa manusia dengan berjuta liter darah dapat aku persembahkan demi kursi goyang idamanku.

Perjuangan memang butuh banyak pengorbanan. Revolusi butuh tumbal anak-anaknya sendiri", akunya bangga sam¬bil tersenyum khas dengan gaya tutur kalem-- senyum yang sudah dihapal semua orang. Kemanusiaan dan kesederhanaan, agaknya, mulai tersingkir dari pikiran Aryo Sekti. Kekerasan apapun, mulai kekerasan simbolis sampai kekerasan fisikal, dijadikannya andalan utama untuk merebut dan mempertahankan kursi goyang idamannya.

Singkat kata, kursi goyang dapat direbut oleh Ayo Sekti dengan kekerasan yang sudah dibungkus rapi dengan kelembutan ucapan dan kelicinan siasat. Kini dia duduk di kursi goyang. Namun, agaknya dia tak suka tempat duduknya tersebut bergoyang terus-menerus, khawatir jatuh terjerembab di lantai sejarah dan dicatat sebagai raja yang tersungkur. Sebab itu, dia menyuruh tiga kelompok orang untuk memegangi sekaligus menjaga keamanan kursi goyang tunggal, yaitu kelompok polisi, parlemen, dan pebisnis kakap pada umumnya.

"Dengan ditopang tiga kelompok orang ini, sejak sekarang, aku duduk di atas kursi goyang ini dan menguasai seluruh negeri gemah ripah loh jinawi", dia memaklumkan diri menjadi penguasa, menempatkan diri lebih kuat dari yang lainnya. "Sejak sekarang", lanjutnya, "namaku pun berganti. Nama baruku Raja Donya Brono. Bukan Aryo Sekti lagi!". Dia mendaulat dirinya demikian karena dia bertekad akan menguasai harta benda di dunia (donya brono) demi kemakmuran kawan-kawan yang mendukungnya dan demi kelanggenggan kekuasasan yang kini dipegangnya. 

II

"Para wargaku, dengarlah ucapanku", Raja Donya Brono mulai ber¬sabda kepada seluruh warga negeri gemah ripah loh jinawi. "Marilah kita lupakan duka derita akibat kekerasan yang telah membuatku tak bisa lelap di kursi goyang tunggal ini. Semenjak sekarang, anggaplah dan masukkanlah dalam pikiran ka¬lian bahwa kekerasan bukanlah cacat atau penyakit kebudayaan yang harus disembunyikan, disedihkan, dan ditangisi terus-menerus. Kekerasan adalah kewajaran, kenormal-an, bahkan kadang-kadang kebutuhan dalam hidup kita bersama.

Demi keamanan dan kestabilan negeri -- tepatnya keamanan dan kestabila¬n kekuasaanku di negeri ini sehingga bisnis kawan-kawanku bisa berkembang cepat tanpa kesulitan dan kesusahan -- justru kekerasan perlu kita jadikan subjek, kita jadikan cara sekaligus pola berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Apalah arti kemanusiaan dibandingkan kestabilan dan keamanan demi perekonomisan dan kewirausahaan. Jadikanlah kekerasan sebagai kewajaran meskipun tetap harus didahulukan hukum yang sudah kutata sedemikian rupa. Demikianlah ucapanku, camkanlah seluruh wargaku". Raja Donya Brono tampak mulai menganggap wajar kekerasan, bahkan menjadikan kekerasan sebagai sistem nilai dan simbol. Dia mulai membangun budaya kekerasan di negeri gemah ripah loh jinawi.

Agar kekerasan diingat sekaligus mengikat seluruh warga negeri, dia kemudian membuat program pembentukan lingkungan simbolis yang bernuansa kekerasan. Jalan-jalan utama di seluruh negeri dinamai dengan nama-nama tokoh tentara agar terkesan gagah perwira sekaligus menakutkan; bukan nama tokoh-tokoh guru, ulama, budayawan, seniman, dan ilmuwan. Lembaga-lembaga pendidikan baik dasar, menengah maupun tinggi juga banyak dinamai nama tokoh peperangan dan pahlawan perang, bukan nama tokoh pendidik dan ilmuwan (ironis?).

empat ibadah juga tidak sedikit yang dinamai dengan nama tokoh peperangan dan pahlawan perang, bukan ulama. Patung-patung di taman-taman dan sudut-sudut kota dipenuhi dengan pa¬tung peperangan, perjuangan, dan pahlawan yang tentu saja militer. Film-film dan lukisan-lukisan tentang dirinya sedang membantai atau membasmi pemberontak dibuat. Film-film kekerasan dari luar negeri diimpor dan dipu¬tar di seluruh negeri, sedang film-film artistik produksi dalam negeri disingkirkan. Teve-teve dibiarkan menayangkan adegan-adegan kekerasan, tapi dibungkam bila menayangkan acara-acara cerdas-kritis.

Demikian juga ba¬hasa kekerasan dengan kata-kata kunci inskonstitusional, gebuk, libas, sikat habis, subversif, komunis, makar, tindak tegas, tembak di tempat diciptakan dan dipakai secara luas. Dengan berbagai cara tersebut, lingkungan simbolis negeri jauh lebih bernuansa kekerasan ketimbang keunggulan peradaban. Tanpa disadari, hal ini sudah mengepung, bahkan mengungkung alam pikiran warga negeri loh jinawi.

Di samping itu, Raja Donya Brono juga menciptakan ritus-ritus kekerasan sekaligus panggung-panggung kekerasan agar warga masyarakatnya selalu menyadari betapa efektifnya kekerasan untuk mengamankan dan menstabilkan negeri. "Demi keamanan dan kestabilan negeri, demi kepentingan nasional, dan demi pembangunan bangsa kita, saksikanlah ritus-ritus kekerasan dalam berbagai panggung kekerasan yang kubuat ini", sabdanya memecah gendang telinga warga negeri.

 Ritualisme kekerasan oleh negara dimaklumkan oleh raja. Maka, Raja Donya Brono pun menanamkan telik-telik sandi ke sudut-sudut terkecil negeri, melaksanakan berbagai operasi keamanan di berbagai daerah, merancang atau membiarkan berbagai kerusuhan di berbagai wilayah, dan melaksanakan peredaman kekerasan dengan kekerasan lain. Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain dibiarkan menjadi panggung kekerasan. Sudah barang tentu, itu semua didramatisasi atau diteatrikalisasi dengan adegan-adegan pemukulan, penendangan, penangkapan, dan pembakaran di luar batas peri kemanusiaan dan peradaban. "Lihatlah betapa dahsyat ritus kekerasan berikut ini", ujar Raja Donya Brono bangga.

Dan dia pun menggelar ritus kekerasan antar-masyarakat. Ritus-ritus kekerasan itu bukan cuma menampakkan sebuah aksi kekerasan yang menakjubkan, tapi juga frekuensi, eskalasi, akumulasi, dan sofistikasi kekerasa¬n yang luar biasa. Ini berarti era budaya kekerasan telah tiba. Akibatnya, terjelmalah negeri kecemasan karena seluruh masyarakat demikian cemas menyaksikan ritus kekerasan.

Biar ritus-ritus kekerasan tersebut diyakini benar oleh semua orang, Raja Donya Brono menciptakan berbagai pembenaran (justifikasi-justifikasi¬) selain menyebarkan stigmatisasi dan labelisasi negatif kepada berbagai kelompok masyarakat. Untuk itu, dibuatlah berbagai peraturan sebagai sarana sofistikasi kekerasan. Dikerahkan juga para pendengung, pemengaruh, dan pemelintir informasi.

"Demi kelestarian ritus kekerasan kita, hai para punggawa negeri, buatlah berbagai aturan yang membolehkan aku, juga warga masyarakatku, mengambil tindakan-tindakan kekerasan atau memainkan tarian kekerasan di berbagai wilayah -- wilayah sosial, budaya, politik, ekonomi, dan lain-lain. Dengan sigap dan cekatan, para punggawa negeri pun membuat berbagai peratur¬an yang mengatur permainan kekerasan Raja Donya Brono. Baik di wilayah sosial, budaya, politik maupun ekonomi dibuatlah aturan-aturan permainan kekerasan.

Dengan aturan itu, Raja Donya Brono beserta keluarga dan anak buahnya dengan penuh kelembutan dan keleluasaan bisa melakukan ritus kekerasan sepanjang waktu. Pada sisi lain, dengan aturan itu, warga masyarakat menjadi kehilangan kebebasan. "Tapi, apalah arti kebebasan dibandingkan dengan kemajuan fisik negeri, kemakmuran anak-anak bangsa, dan kesatuan-persatuan bangsa?", ujar Raja menyanggah setiap orang yang berusaha mengingatkannya.

"Kalian mau mengungulkan kebebasan? Silakan gugat saya ke lembaga hukum yang berwenang!", ancam Raja Donya Brono. Akibatnya, tidak ada orang yang berani menyanggah atau mengingatkannya. Tak terbendunglah tabiat raja beserta keluarga dan anak buahnya untuk melakukan ritus kekerasan dengan berbagai bungkus aturan indah dan kemilau. Maka, kekerasan pun makin dalam merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Tak terasa, sudah sekian tahun lebih Raja Donya Brono melaksa¬nakan berbagai program budaya kekerasan tersebut. Kini dia sudah tidak muda lagi karena umur terus merambat naik, tak terbendung. "Untuk menyesuaikan dengan umurku yang sekarang sudah berangkat tua, maka mulai hari ini, namaku kuganti Raja Sepuh", dia memaklumkan diri kepada seluruh warga bangsa.

"Dalam usiaku yang tak muda ini, aku bangga pada kalian, seluruh warga masyarakatku, karena kalian sudah memahami benar arti kekerasan dan mahir melakukan ritus kekerasan yang aku ajarkan sekaligus programkan selama tiga puluh tahun ini", ujar Raja Sepuh bangga. Kini Raja Sepuh memang tinggal menyaksikan ritus kekerasan yang dimainkan oleh para punggawanya dan masyarakatnya dari atas kursi goyangnya -- yang sudah sewindu ini tidak bergoya¬ng lagi berkat budaya kekerasan. "Sungguh menakjubkan!", gumamnya sembari memperbaiki posisi tubuh langsingnya, "Para punggawa dan aparat keamananku sekarang sudah pandai meran¬cang, meng¬atur, dan melaksanaka¬n ritus kekerasan.

Juga sudah sangat mahir dan fasih merapalkan aturan-aturan untuk pembenaran ritus kekerasan. Tanpa dikomando lagi, warga masyarakatku juga sudah lihai bermain kekerasan sekaligus memainkan dalih-dalih aturan". Raja Sepuh tampak puas dengan hasil kerjanya, yaitu menciptakan budaya kekerasan. Tidak peduli aparatus negara, pebisnis, dan kelompok masyarakat, semuanya kini senang menyelenggarakan sandiwara ritus kekerasan.

Dari jendela istana, Raja Sepuh melonggok ke luar. Dilihatnya aparatus negara, tentara, dan masyarakat sedang suntuk memainkan ritus kekerasan semenjak krisis ekonomi melanda negeri gemah ripah loh jinawi. Suasana hiruk-pikuk, menjurus ke kacau. Aparatus negara dengan berbagai cara mengintai dan menangkapi warga masyarakat. Seperti dalam keadaan ekstase, para tentara memuntahkan peluru-peluru karet dan tajam serta menyemprotkan gas air mata. Warga masyarakat terutama mahasiswa ber¬teriak dan melontarkan batu-batu untuk membalas tembakan dan semprot¬an tentara. Suasana ritus kekerasan benar-benar kacau-balau, crowded.

"Baginda Raja, ritus kekerasan berlangsung di luar skenario dan kehendak baginda", lapor seorang abdi setia Raja Sepuh. "Biarkanlah! Nanti aku ambil tindakan tegas", jawab Raja Sepuh kalem, tanpa ekspresi risau dan bingung sama sekali. "Tapi, Baginda! Kali ini lain. Keadaan sudah tidak ter¬kendali. Aparatus negara dan tentara sudah terpojok. Masyarakat sudah beringas dan terus merangsek! Masyarakat menjarah dan membakar di luar batas skenario kita. Kita bisa celaka Baginda", tegas abdi setia. Baginda Raja Sepuh termenung demi mendengar laporan abdi setianya.

Sementara itu, di luar istana -- di jalan-jalan, di kantor-kantor negara, dan lain-lain -- warga masyarakat semakin ekstase menarikan ritus perla¬wanan. "Adili Raja Sepuh! Gantung Raja Sepuh! Turunkan Raja Sepuh! Usut harta benda Raja Sepuh. Kita sudah capek dengan permainan ritus kekerasan ini!", pekik sekelom¬pok mahasis¬wa. "Masak kita tak mampu menurunkan Raja Sepuh?! Rapatkanlah barisan, kita gempur pertahanan Raja Sepuh" imbuh seorang tokoh. "Ayo, ramai-ramai kita goyang kursi goyang Raja Sepuh. Jangan takut tentara.

Tentara milik kita", ujar tokoh lain. Me¬nyaksikan semua ini, terperangahlah Raja Sepuh. Dunia tiba-tiba berputar. Kepala baginda Raja Sepuh pening. Dia tak bisa kukuh lagi berpegangan pada kursi goyangnya ataupun kukuh memegangi kursi goyangnya. Pantatnya tak bisa lagi duduk dengan enak di atas kursi goyang. Bahkan kemudian pantatnya merosot. Hampir saja dia jatuh tanpa sadar. Untung ada seorang aparatus negara dan seorang tenta¬ra yang memegangi kedua tangan baginda Raja Sepuh. "Aku mau turun. Turun sekarang juga tak apa. Aku kapok duduk di atas daripada kursi goyang ini! Panggil putra mahkota, beritahu besok dia harus menggantikanku duduk di kursi goyang ini!", ucap baginda lemah, dalam sorot mata sayu, dan tanpa senyum khasnya.

Keesokan harinya, Raja Sepuh menyatakan berhenti duduk di atas kursi goyang kepada seluruh masyarakat negeri gemah ripah loh jinawi. "Sesuai dengan undang-undang yang sudah saya atur begitu rupa, maka saya menyatakan akan mewariskan kursi goyang tunggal ini kepada putri mahkota!", dia memak¬lumkan diri berhenti. "Selanjutnya, kursi goyang ini saya berikan kepada putri mahkota yang telah 20 tahun lebih saya didik di kancah politik". Putri mahkota -- bernama Ayu Culas Pekerti -- yang memiliki postur tubuh lumayan langsing dan tinggi disumpah untuk menduduki kursi goyang.

Tetapi, karena amuk massa dan suasa-na kacau-balau belum berhenti, kursi go¬yang tak dapat diduduki Ayu Culas Pekerti dengan enak. Sudah hampir setahun dia belum bisa duduk enak di kursi goyang. Dia sangat takut kalau-kalau jatuh seperti Raja Sepuh. Sebab takut itulah ke¬mudian dia ingat ritus kekerasan warisan Raja Sepuh. Maka, setelah hampir setahun duduk di atas kursi goyang, Ayu Culas Pekerti mulai memainkan kem¬bali ritus kekerasan. 

Aparatus negara diminta mulai bertindak keras. Aparatus keamanan diminta untuk melesatkan timah panas ke tubuh warga masyarakat. Dan banyak warga masyarakat mulai ditangkapi kembali. "Ambil tindakan tegas dan tangkap semua orang yang makar", perintah Ayu Culas Pekerti. Maka, sejak itu, banyak warga masyarakat tidak bisa menikmati menu makar malam karena ikan makar tidak tersedia di kafe-kafe. Semuanya sudah diborong oleh Ayu Culas Pekerti dan kawan-kawann¬ya untuk membungkam seluruh lawan politiknya, bahkan membungkam rakyat yang hendak menyampaikan aspirasinya.

(sumber: akun FB Djoko Saryono)

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6293360218796553450

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA