Paradoks Fenomena Hijab di Arus Globalisasi


Oleh: Hanafi

Perkembangan zaman yang semakin pesat mengakibatkan polarisasi perubahan yang terjadi di masyarakat termasuk gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan dalam eksitensi manusia. Tak terkecuali umat islam itu sendiri seperti fenomena berpakaian khususnya hijab oleh seorang perempuan. Jilbab merupakan suatu produk yang masif digunakan oleh perempuan muslimah di abad 21 ini untuk dapat menutupi aurat dari sekujur tubuh mereka termasuk ‘’mahkota kepala’ yang menjadi perhiasan bagi perempuan.

Hal yang paling mendasar tujuan dalam berhijab adalah mampu menutup aurat perempuan yang mana hal ini juga perintah Al-Qur’an bagi mulismah perempuan. Hijab sendiri merupakan sebuah produk hasil perkembangan pasar yang dapat memberikan asas kebermanfaatan bagi kaum muslimah dengan bermacam-macam bentuk produk model di dalamnya selain juga kesempatan pasar meraup manfaat dari sisi ekonomi. Dari sekian bermacam-macam model hijab untuk dapat menututup aurat bagi ‘’mahkota kepala’’ kembali dicocokkan dengan kultur daerah masing-masing termasuk di negeri Indonesia yang kalau kita lihat ada perbedaan model penutup aurat perempuan yang berbeda dengan negara muslim lainnya.

Tujuan berhijab esensinya tidak hanya sebatas menutup aurat bagi perempuan melainkan lebih dari itu bagaimana mampu untuk dapat melindungi bagi kaum perempuan itu sendiri. Apalagi di abad 21, yang memasuki arus modernisasi dan menuntut masyarakat untuk dapat berkembang agar mampu menyesesuaikan dengan segala perubahan.

Meski demikian bagi orang yang beragama khususnya umat muslim memiliki prinsip dalam mengatur pola hidup dari segala dimensi agar tidak tergerus dengan paradoksnya zaman. Namun jika dilihat manifestasi penggunaan hijab yang semakin berkembang pesat terdapat paradoks sendiri di abad milineal ini. Perintah islam yang terdapat dalam surah al-Azhab : 59 yang berbunyi “ Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin; Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Ayat tersebut cukup jelas mengandung pelajaran penting bagi umat muslim khususnya muslimah perempuan agar dapat mengintitusikan perintah tersebut semata-mata untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan menutup aurat akan mudah dikenal dan berbeda dari mereka yang lain.

Perbedaan itu tidak hanya terletak simbol mereka yang digunakan tetapi diiringi dengan ilmu apa tujuan menggunakan hijab tersebut yang semata-mata merupakan manifestasi iman terhadap Tuhan dalam mengarungi hidup ini. Sehingga tidak terbatas menjadi manusia yang bermanifestasi secara simbolik saja melainkan mampu menghadirkan makna dalam manifestasi kehidupan sehari-hari dalam wujud perilaku mereka baik dimensi vertikal maupun horizontal.

Secara vertikal, menjaga hubungan baik dalam pengabdian diri atas ketakwaan terhadap Tuhan baik meliputi perintah maupun larangan. Sedangkan secara horizontal, mampu menjaga keseimbangan di tatanan sosial menjadi bagian pencerah di tengah masyarakat. Realitanya jika dibandingkan dengan kejayaan Islam kala itu, paradoks penggunaan hijab di abad 21 ini masif terjadi perubahan akibat perkembangan zaman yang gagal mengiringi dengan moral perilaku manusia dalam mengintitusikan perintah-perintah Tuhan.

Realita yang mudah di jumpai dari masyarakat utamanya kaum muslimah baik mereka apalagi yang berstatus pelajar dari berbagai tingkatan utamanya muda mudi di abad milineal ini masih banyak yang dari mereka tidak menghayati betul dalam memahami hijab yang dikenakan.

Contoh kecil paradoks pacaran bagi muslimah yang berhijab serta selalu diiringi dengan saling pegangan tangan oleh muda mudi ini merupakan kontra dalam paradoks dengan simbol mereka yang digunakan yang tidak lain tujuannya agar terlindungi dari fitnah-fitnah yang mudah rentan terjadi bagi perempuan nantinya yang semata-mata untuk membumikan perintah-perintah agama menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Selain itu penggunaan hijab tidak diiringi dengan uluran kain sekujur tubuh yang dapat menutup rapat aurat perempuan terutama lekak-lekuk tubuh mereka.

Karena hal tersebut jika tidak dijalankan sesuai syariat maka akan memantik terhadap gangguan mata keranjang laki-laki. Hal tersebut akan mengakibatkan potensi kemaksiatan terhadap langkah-langakah syaitan semakin tinggi karena apabila mata tidak ditundukkan maka akal bahkan kemaluan akan ‘mengiyakan’ kedalam perbuatan yang melanggar agama (Ustad Abdul Somad).

Akibatnya imajinasi kaum lelaki yang tidak dapat dikontrol karena selalu melihat hal-hal sensitive yang terdapat di tubuh perempuan. Manifestasi dalam penggunaan hijab harus selalu di-ikhtiarkan yang tidak hanya menyeimbangkan simbol agama dalam menutup aurat melainkan diiringi dengan mengikhtiarkan perilaku rohaniah dan jasmaniah yang selalu terdaburkan secara revolusioner sebagai pencerah dalam mengaplikasikan nilai-nilai tauhid. Sehingga hijab yang digunakan tidak akan menjauhkan dengan perintah Tuhan sebaliknya akan mendekatkan dengan perintah Tuhan yang berikhtiar mentaburkan di dalamnya. 

_______

Hanafi, beralamat rumah  Jalan Mahoni II No 36 Pangarangan Kecamatan Kota Sumenep, mahasiwa IAIN Madura,  Jurusan Tarbiyah Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial , semester tujuh. Aktivis HMI Tarbiyah IAIN Madura



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1037064544987290961

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA