My Flag: Potret Nasionalisme yang Semu


 Oleh: Muhaimin El Lawi *)

Beberapa hari terakhir, saya mengamati kontroversi tentang sebuah film pendek berjudul 'My Flag' yang cukup seru. Mungkin saya cukup ketinggalan untuk ikut bersuara dalam hal ini, karena memang awalnya saya kurang tertarik membicarakannya. Oh, lebih tepatnya saya sedang fokus membaca dan merenungi beberapa buku yang saya target untuk hatam dalam bulan ini. Terlebih, saya tidak ingin terkesan sebagai seorang pribadi reaksioner; mudah berkomentar dengan terburu-buru terhadap sebuah isu yang saya anggap sebuah isu yang saru.

Sebagai pemikir gelandangan yang hanya berbekal ilmu oplosan, saya tidak akan menilik film tersebut dari sisi konten fikih atau sisi kualitas film, apalagi sampai memberikan judgement bahwa film itu berisi stereotype atau type. Saya hanya ingin mencurahkan perasaan yang tiba-tiba muncul saat menontonnya. Saya memberikan catatan dari apa yang saya rasa dan melahirkan tiga kesimpulan sebagai berikut.

Pertama. Dalam adegan film tersebut terdapat konfrontasi antara santri-santri yang mendaku cinta tanah air dengan para radikalis yang disimbolkan dengan cadar dan celana cingkrang. Yang menjadi pemantik perasaan bukan pada bagaimana hukum cadar atau bagaiman mendudukkan permasalahan khilafah yang diidentikkan dengan radikalisme dalam konteks kenegaraan Indonesia. Karena masalah itu sudah selesai baik dalam wacana teoritis maupun praksis.

Yang saya herankan hanya soal pengusungan isu radikalisme dan khilafah yang terus-menerus, seakan Indonesia ini memang benar-benar rusak satu-satunya sebab khilafah dan radikalisme (dalam hal ini saya maksudkan radikalisme kanan). Selalu menyoal wacana khilafah sampai mengaitkan dengan cadar, lalu mempertentangkannya dengan NKRI merupakan sebuah simplifikasi yang menyesatkan opini umat, juga menunjukkan tumpulnya kreatifitas dalam mengusung sebuah isu.

Jika memang mau dipaksakan sebuah tesis bahwa hantu khilafah ini memang menimbulkan kengerian yang sangat, maka yang mesti kita soroti adalah, kenapa sampai menyebabkan munculnya wacana khilafah di tengah-tengah negara yang sudah dibangun dengan susah-payah oleh para faouding father kita? Pertanyaan ini melazimkan sebuah evaluasi; jika NKRI memang sudah mampu memenuhi cita-cita bersama seluruh rakyat Indonesia, pasti keinginan untuk membuat sebuah sistem baru itu tidak akan muncul.

Lalu coba kita tarik kepada refleksi terhadap kenyataan yang ada. Korupsi makin menggurita. Hutang luar negeri makin menumpuk tak terbendung. Harga rupiah selalu anjlok. Pamor bangsa makin tumpul. Hukum sulit menemukan keadilan. Kemiskinan makin menjadi. Para wakil rakyat nyaris tak mewakili suara rakyat. Pemerintah yang dipilih rakyat berada di bawah ketiak kepentingan orang-orang tertentu. Nyawa para aktivis penegak keadilan seakan tiada harganya. Ah, andaikan semua dituliskan, kelu tangan ini dan makin tercabik hati memikirkannya.

Jelaslah persoalannya. Bahwa jika masih banyak kebobrokan yang dipersembahkan oleh para pemangku kekuasaan, sudah sangat wajar andaikan muncul keraguan-keraguan terhadap sistem kenegaraan kita. Bagi yang punya rasa cinta, tentu akan timbul keresahan-keresahan, lalu ingin menawarkan sebuah ide untuk perbaikan. Bisakah engkau memerintah untuk tidak basah-basahan sementara engkau sendiri mendorongnya ke dalam kolam?

Tawaran ide, tak semestinya dilawan dengan teror. Tawaran ide harusnya dihadang dengan ide bandingan yang lebih baik, jika kita merasa sebagai orang yang sudah tercerdaskan sesuai tujuan UUD 1945 alenia 4. (Eh, jangan-jangan kita sendiri masih belum sampai ke tujuan itu. Hehehe...)

Kedua, penyajian slogan-slogan nasionalisme yang diperankan oleh Pak Muwafiq menyiratkan ajakan cinta tanah air yang berlebihan dan sungguh sangat klise. Saya kira rakyat Indonesia tidak perlu dipaksa untuk mencintai tanah air. Secara psikologis, cinta kepada tanah kelahiran, sudah muncul sendiri di benak hati yang waras sejak tahu di mana ia lahir, di mana ia menghirup udara, di mana ia menikmati masa kanak-kanak yang penuh kebahagiaan dan ketulusan dan di mana ia menemukan seorang ayah dan ibu yang memberikan cintanya yang tulus tiada pamrih.

Bicara nasionalisme dengan ungkapan-ungkapan romantis-simbolis pada jaman sekarang sudah bukan saatnya lagi. Persoalan kita saat ini bukanlah tentang 'cinta'. Masalah cinta tanah air tak perlu kita ragukan selama para petani masih sedia selalu untuk berkhidmat pada alam persawahan Indonesia, untuk menjaga identitas Nusantara sebagai negara agraris, di saat industri-industri kapitalisme mencemarinya dan dibacking oleh hukum negara.

Cinta tanah air dijamin aman, selama masih ada para santri yang siang dan malam mengeja huruf perhuruf untuk mengetam kerasnya hati, memelihara sistem pendidikan asli produk dalam negeri yang bernama pesantren. Mereka berkhidmat pada ikhtiyar untuk memperbaiki negeri ini melalu jalan mengaji, saat para Borjuis makan lezat dari kekayaan yang mengorbankan rusaknya moral dan hati nurani anak-anak bangsa.

Tak usah cemaskan soal cinta tanah air, selama masih lahir mahasiswa-mahasiswa yang teguh dalam idealisme untuk tak henti-henti mengontrol siapapun yang mau merongrong negeri ini.

Jika bicara tentang nasionalisme santri semestinya adegan yang tepat dan penting ditampilkan adalah, bagaimana seorang santri melawan kekuatan oligarki yang bersembunyi di balik kebijakan-kebijakan para pemegang amanah rakyat. Bukankah yang terbukti merongrong kekuatan mendasar negara ini adalah kebijakan-kebijakan mereka?

Atau bagaimana sekelompok santri berdiri tegak menyuarakan penyadaran terhadap penjarahan-penjarahan alam oleh para kapitalis yang menyebabkan alam di negeri ini menjadi tak karuan. Bukankah setiap jengkal tanah di negeri ini adalah kewajiban kita semua untuk kita jaga dan pelihara dengan penuh cinta?

Ketiga, film tersebut berpotensi menyebabkan pengaburan persoalan. Ketika melihat bahwa musuh nyata yang secara sunnatullah benar-benar akan menghancurkan NKRI bukanlah cadar, celana cingkrang dan bendera-bendera simbolis sebuah usungan ide khilafah, maka dengan rilisnya film pendek 'My Flag' ini, saya rasa akan menimbulkan efek berbahaya berupa pengaburan fokus objek terhadap bidikan perlawanan kita dalam menjaga NKRI sebagai pembuktian cinta yang sebenarnya.

Saya jadi teringat pada sebuah cerita, entah ini bersumber dari sejarah valid ataukah tidak, tentang salah satu pemuda Andalusia yang berlatih memanah, lalu tiba-tiba dia menangis di pojok arena latihan. Kemudian dia ditanya, kenapa dia menangis. Dia menjawab, karena dari sepuluh bidikan, ada satu panah yang melesat tidak mengena objek bidik. Menurutnya, sambil bersengguk tangis, ini dalam arena latihan, bagaiman jika terjadi dalam arena perang. Bisa-bisa akan mengena pada saudara-saudaranya sendiri. Bisa-bisa akan menghancurkan barisan perang sendiri.

Bagaimana kaitannya dengan My Flag?

Itu memang sekedar film yang bermaksud untuk menarasikan miniatur permasalahan negeri ini. Suguhan narasi yang bertujuan untuk membentuk opini penonton. Jika kita disuguhi dengan miniatur yang justru mengaburkan persoalan yang sebenarnya terjadi, maka sudah pasti bangsa ini dibiarkan untuk salah bidik dalam menentukan objek perlawanan. Kesalahan bidik sungguh sangat berbahaya, apalagi jika mengena kepada saudara sendiri, bahkan kepada salah satu sarana aturan syari'at sendiri: cadar.

Oleh karena itu, tidak berlebihan andaikan saya bilang, film pendek ini berpotensi menjadi fragmen kecil yang bisa merusak NKRI. Wallaahu A'lam!

*)Ahli di bidang ilmu oplosan.


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8314360402686931521

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA