Memasuki Ruang Hampa Kumpulan Puisi “Cermin Tak Berbayang”


(Sekedar Catatan Kecil)


Syaf Anton Wr

Membaca Puisi “Cermin Tak Berbayang”, karya Raudlatul Makiyah, (selanjutnya saya sebut Kiki, sebagai nama akrab panggilannya)  kita akan di ajak menjelajah memasuki ruang hampa yang kemungkinan akan menjadi pertanyaan sekaligus jawaban dari sebuah proses kehidupan manusia.
Manusia sebagai makhluk hidup merupakan makhluk yang lebih sempurna apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup lainnya. Namun demikian manusia juga terdapat dan banyak misteri yang tidak banyak diungkap sekedar melalui wujud atau dalam bentuk-bentuk yang tampak. Misteri yang tersembunyi biasanya menjadi rahasia pribadi yang kadang tidak bisa diungkap dengan kata atau memang sengaja dirahasiakan untuk menjadi bagian penting bagi dirinya.

Bagian-bagian ini bagi penyair justru menjadi senjata ampuh untuk menelorkan karya kreatif yang dibentuk dari pergulatan dan kontemplasi yang kemudian ditautkan dengan realitas yang di hadapai saat ini. Dan tentu hanya dirinyalah yang berani mengungkap dirinya dengan pikiran, rasa atau hal-hal yang mendorong untuk menyatakan sesusatu, terhadap dirinya atau orang-orang di luarnya.
Ungkapan yang kemudian kerap menjadi pernyataan melalui kata-kata atau kalimat  merupakan salah satu cara untuk mengungkap ruang-ruang hampa  dalam memasuki penjalajahan baru dalam kehidupan nyata. Hal itulah ia yang kemudian yang mencoba memasukinya lewat puisi:

Ku mulai taburi ruang hampa ini dengan aroma doa
Ku terus lantunkan syair ini dengan isyarat kata
Ku lemparkan ketidak puasan ini dengan tangisan malam
Ku telusuri semangat juang ini dengan setangkai harapan

Gemuruh kerinduan mulai bersua
Mengantarkan kegelisahan pada kamar tak berpenghuni
Mengepakkan bantal guling dan selimut
Menorehkan kegalauan dalam hantaran kasur
………….


(SETANGKAI HARAPAN)

 “Kata” disini tampaknya menjadi “sakti” dalam penjelajahannya memasuki ruang-ruang waktu, karena kata sendiri adalah pedang yang mengantar perasaan dan segala macam kungkungan yang bergejolak dalam diri manusia. Jadi bahasa puisi yang disampaikan dalam “kata” adalah media untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan kekuatan bahasa yang dialirinya.

Pada dasarnya dalam proses penciptaan karya sastra (puisi) merupakan semacam momentum untuk mengurai batas-batas kemapanan melalui jalan-jalan terjal yang kadang jadi bahaya. Hal ini lantaran dalam daya cipta ini harus menampakkan sesuatu yang baru yang kemudian menukik pada dirinya, yakni diri yang hendak dibesarkan melalui bahasa puisi, bahkan bisa sebagai wilayah menuntut hak-hak dan pengakuan

Segala macam rona kehidupan dari persoalan yang pelik sampai persoalan yang melahirkan kebahagian akan menjadi bagian dari friksi kehidupan manusia, lebih-lebih bagi orang yang telah memasuki beberapa tahapan akan jadi menarik ketika ditumpahkan dalam bentuk kata-kata.

Bila saya perumpamakan, kehidupan adalah semacam kisah tragis yang kemudian melewati sebuah bentangan tali yang melintas antar tebing curam. Perjalanan berbahaya itu mau tidak mau harus dijalaninya dan melintas dengan segala resikonya. Demikian pula sebuah ungkapan-ungkapan dalam puisi, untuk mencapai apa yang diharapkan dibutuhkan keberanian untuk menyampaikan;

Antara geraham yang patah ada tali kasih tanpa kompas
Tak menentu menyambar arah di ruang gelap
Sisa kidung membara membakar raga
Membungkus rindu dan berkafan
Tak terkira kelabu yang dulu terdampar
Tepat di ruang hati yang polos, dungu
Harus berapa lama lagi bertahan di air comberan ini
Hingga waktu tak bisa kuhitung seberapa lama
Jauh sebelum melangkah bebas
Telah kurasa getaran gelombang keputus asaan

………………………………..
(MEMUTAR WAKTU)

Sebagaimana jiwa perempuan umumnya, Kiki juga mengalami problematika yang cukup rumit dalam menyiasati kemungkinan-kemungkinan lain agar dirinya “diakui” oleh wilayah lingkungannya. Persoalan kehidupan akan menjadi problematis ketika realitas ternyata telah menggiringnya dalam persoalan yang dilematis. Hal ini terasa sekali dalam puisinya berjudul “Lukisan Zaman”, dengan menunjuk pada waktu (zaman) tampaknya tidak lagi berkompromi untuk membaca atau memandang dirinya sebagai sebuah pengharapan.

Kumparan tinta tercoret dalam dinding
Celoteh malam terus berkumandang dalam denting
Coretan warna warni tak bertuan dalam rindu
Rindu yang semakin membisu
Pekat malam berteriak

Ah,
Tak satupun penghuni malam datang
Hinggap bahkan menyaksikan
Lukisan malam ini
Begitu memesona merayu bulan
Hingga bintangpun tak mengetahuinya


Namun dibalik itu semua, ada hal yang paling sublim dan prinsip yang ia ingin sampaikan, yakni persoalan cinta, kenangan, dan religiutas. Ia ingin menyampaikan nilai-nilai keindahan yang ada pada dirinya yang dinyatakan sebuah nilai yang tak terhingga. Bahkan nilai ini menjadikan ia bisa bertahan hidup meski melewati berbagai problematikanya.

Dalam dunia modern seperti ini, hampir rata-rata problematika kehidupan makin meningkat, di tambah lagi serangan pandemi Covid 19, banyak korban yang kemudian harus tertatih-tatih mencari siasat untuk bisa bertahan dalam kehidupannya. Bukan hanya individu, bahkan dimana Kiki mengajar (sebagai seorang guru) pun juga mengalami hal serupa di lembaganya. Ia curahkan dalam buku ini, dengan bahasa sedikit “kesal”, atau mungkin “marah” melihat realitas anak-anak didiknya menjadi tak beraturan. Lihat saja puisinya berjudul: “Tabir Pewayangan di Tengah Pandemi”

Mengeja namamu dalam kelam tak ubahnya prahara kerajaan
Memuja sang ratu di sentral perbatasan
Kidung kasih menjelma gatot kaca
Purna dalam perjananan

Mengajar bayang-bayang semu
Menelusuri wibawa sang pandawa
Musnah terbeber ketukan daring
Memuncak dan tak kutemui jalan pulang

Sentuhan daring tak mampu membuka
tabir pewayangan yang kokoh
Dari mulai meraba sampai mengintip kerajaan ilmu
Menyepi tak berbaur nyata

Kini rindu ini semakin tak terbendung
Pandawa dan Kurawa tak mampu membawa covid 19
Hingga Arjuna berjuang sendiri menetralkan keadaan
Diantara tebaran virus yang bergentayangan

Hati tersayat pilu mengurai keluhanmu
Wahai cinta semata wayangku
Tak ada kelihaian diri menjelma cerita wayang
Untuk menuntunmu dalam pendidikan nyata
Tak ada lagi pertunjukan seru suarakan tugas praktik
Menghiasi hari indahku dalam menebar kehangatan

Kini, hanya wayang bayangan yang lumpuh
Terpajang tak bergerak, kaku dan membungkam

Tabir-tabir kerlingan harapan itu
Tertindas dan menjadi catatan sejarah hidupmu
Hingga golden generation menjadi julukanmu
Dan kau terbang mencari lakon

Apapun yang terjadi dalam kehidupan, kerap dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja. Semua mahluk akan mengalami hal yang sama, termasuk persoalan cinta dengan segala tujuannya.

Persoalan cinta, Kiki mencoba mencurahkan dengan rasa haru, sebab dengan cara ini setidaknya meringankan beban yang barangkali menjejal dalam dirinya, lingkungannya bahkan terhadap sang pencipta. Ia ingin menikmati cinta bukan sekedar “cinta”, tapi membenarkan segala miliknya untuk menjadi bagian penting dari proses kehidupannya.

Hal ini tersa sekali dalam puisinya seperti: “Disini Karena Cinta”, “Tentangmu”, “Lantunan  Sajakmu” dan lainnya sangat terasa “curhatan” perempuan merupakan manifestasi dari sebuah kenyataan, baik sebagai perempuan sendiri, ibu maupun guru. 

Pada dasarnya, puisi merupakan kristalisasi nilai-nilai dari sebuah kehiduoan manusia, meski karya puisi yang baik pada umumnya tidak langsung menggambarkan atau memperjuangkan nilai-nilai tertentu, tetapi aspirasi dari sebuah lingkungan kerap menjadi hal menarik untuk diterjemahkan dan diangkat menjadi puisi. Mulai lingkungan terkecil; diri sendiri, keluarga dan bahkan sampai menjajaki ruang dan waktu yang beda. Persoalan ini mungkin bisa diwakili puisi berikut:

SENGKETA RINDU

Bukan waktu yg pantas disalahkan
Pun tidak juga ranting menjadi korban
Keangkuhan rindu semakin rentan
Hingga mencekam lautan

Menjadi sengketa dalam relung jiwa
Emoji kutukmu menjelma senyum
Membahana jauh ke pundak rahim
Hingga tetesannya menyanyat sepi
Di balik hati sunyi menyemai api


Wahai malam.
Bawalah diri ini jauh menggapai pelangi
Hingga mampu mencipta rindu
Rindu mengusik sunyi selembar kain kafan, lalu
Melukis indah di atasnya
Bersama mata-mata rindu

Wahai rindu yg tak pernah menepi
Angkatlah aku
Hingga bisa mengukir senyum indahmu
Di balik relung harapan


Pada dasarnya puisi hadir agar membawa keindahan dalam kehidupan dan kesenangan manusia. Keindahan yang dimaksud melingkupi segala aspek pengalaman kehidupan, misalnya kesedihan, kesenangan, kematian, dan penderitaan juga kebahagiaan yang diwujudkan dalam kata-kata yang indah. Puisi dapat pula dipandang sebagai perwujudan pengalaman penulisnya, sehingga dapat mewakili apa yang dirasakannya dan apa yang ingin disampaikannya kepada pembaca.

Keindahan dalam arti artistik bersifat subyektif, karena keindahan tidak bisa dijelaskan seutuhnya dalam bentuk benda, karena keindahan itu sendiri adalah dinamis. Maka menurut saya keindahan dalam arti artistik merupakan hasil hubungan antara pikiran dengan obyek yang diamati yang selalu berubah kesannya sesuai tempat dan jamannya. Keindahan itu abstrak karena berupa suatu konsep yang dapat diartikan sulit untuk dipahami, tetapi bukan berarti tidak bisa untuk dimengerti.

Selain itu, karya puisi tidak luput dari nuansa, yaitu yang  bersumber dari kenyataan yang berupa fakta sosial bagi masyarakat sekaligus sebagai pembaca dapat memberikan tanggapannya dalam membangun karya puisi. Reaksi atau tanggapan dapat bersifat positif atau negatif. Reaksi akan bersifat positif apabila pembaca memberikan tindakan dan sikap pada karya puisi dengan perasaan senang, bangga, dan sebagainya. Reaksi yang bersifat negatif tidak akan mendapatkan tanggapan sikap yang membangun dari puisi yang dibacanya.

Kehidupan pribadi yang berataut dengan lingkungan akan terdapat berbagai polemik yang terjadi tidak menutup kemungkinan untuk dituangkan kedalam karya-karya puisi sehingga menjadi  cerminan dari sebuah realitas kehidupan manusia. Untuk itulah peran imajinasi sangat dominan untuk mengelaborasi polemik tersebut dalam bentuk bahasa. Dengan kata lain imajinasi terjalin benang merah dalam proses membangun pencitraan mental dan ide, kemampuan daya pikir untuk membayangkan sesuatu, mengembangkan khayalan serta menciptakan gambar-gambar mental berdasarkan kejadian atau kenyataan yang sebenarnya. Untuk itulah karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan proses imajinasi pengarang dalam melakukan proses kreatifnya.

Bahwa puisi lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi penyairnya serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial yang ada di sekitarnya. Akan tetapi puisi tidak hadir dalam kekosongan budaya, karena karya puisi (sastra) dipengaruhi oleh lingkungannya maka karya sastra merupakan ekspresi zamannya sendiri sehingga ada hubungan sebab akibat antara karya sastra (puisi) dengan situasi sosial tempat dilahirkannya.

Sajak yang kau lantunkan pagi ini memiliki seribu makna
Sampai bibir ini gemetar tak terbendung
Sajak inilah bukti putih cintamu di antara senja kegelisahan
Yang selama ini terus mengitari pelangi keyakinanku

(Lantunan Sajakmu)


Bagaimanapun Kiki telah berusaha masuk ke wilayah itu, selanjutnya tergantung pembaca untuk mencermatinya, menafsirkannya dan memahami secara utuh sehingga puisi yang ditulisnya ini mampu membangun gairah dalam kehidupan nyata.

Sumenep, September 2020





MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2095643713714866424

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA