Catatan Refleksi Hari Santri Nasional




Juwariyah Mawardi (kanan)

Momentum Hari Santri Nasional tahun 2020, Organisasi Siswa Isntra Sekolah (OSIS) Yayasan Pondok Pesantren Istifadah, Gingging, Bluto Sumenep, Madura, Jawa Timur, selenggarakan seminar “Pesantren Kiblat Pendidikan Karakter” (21-22/10/20).  Salah seorang nara sumber dalam seminar tersebut Juwariyah Mawardi yang akrab dipanggail Joe Mawar menulis sebuah catatannya di akun Fbnya berikut:

****

Pesantren itu, menurut saya, seperti rumah sakit. Jika di pesantren ada kiai, nyai, ustadz ustadzah, guru-guru, naib naibah, musyrif musyrifah, maka di RS ada dokter umum, dokter spesialis, bidan, perawat, nakes berbagai fungsi, hingga satpam dan tentu saja apoteker.

Seseorang mondok atau dimondokkan pastilah tujuannya agar karakternya semakin baik. Memiliki segudang ilmu, ketaatan agama, hingga keagungan akhlak itu menjadi tujuan banyak orang yang memutuskan nyantri. Kira-kira mirip dengan seseorang datang ke rumah sakit dengan tujuan utama agar kesehatannya semakin baik. Bertemu obat yang tepat dan dapat pulang ke rumah dalam kondisi lebih sehat lahir batin.

Pun, seseorang lulus dari pesantren idealnya akan memiliki kedalaman ilmu agama yang cukup untuk bekal hidupnya di masa depan, ilmu dunia yang cukup untuk menfasilitasi kehidupan pribadinya, dan akhlak yang unggul untuk berbaur dengan masyarakat luas.

Abaikan saja jika di pesantren ada kiai dan nyai yang kurang sabar, ada ustadz killer, ada ustadzah jutek, ada naib naibah egois, ada musyrif musyrifah sok bossy. Itu sesuatu yang wajar. Tugas santri adalah memenuhi diri sepenuhnya dengan ilmu.

Pun, biarkan saja di rumah sakit ada dokter yang 'semau gue', ada perawat yang tidak humanis (kurang manusiawi), ada nakes yang suka menyepelekan keluarga pasien dhuafa dan ada bidan yang suka proyek-proyekan dalam menfasilitasi persalinan. Itu manusiawi. Mereka bukan malaikat.

Di rumah sakit sering ada pasien pulang paksa, pasien yang ngeyel dengan pantangannya dan pasien yang ketika pulang ke rumah diam-diam menyembunyikan segepok obat di bawah kasur. Akhirnya dia tak menemukan kesembuhan.

Sama kiranya dengan santri yang tak betah di pondok dan akhirnya pulang paksa juga. Entah kabur dari pesantren atau pura-pura stres agar ortu tak tega dan akhirnya meminta kembali anaknya pada pengasuh. Ada juga santri yang suka melanggar aturan pesantren tanpa menyadari bahwa suatu saat akan Allah jawab kebandelannya itu entah dengan apa. Ada juga santri yang su-ul adab pada gurunya dan justru lebih banyak mengabaikan belajarnya.

Sejak tahun 1200-an lalu, pesantren hingga saat ini terbukti sebagai tempat yang tak diragukan untuk memperbaiki karakter seseorang.  Nyantri di pesantren akan memperjelas sanad keilmuan seseorang bahwa ia bukanlah alumni google atau alumnus website.

Bahagialah dan berbanggalah jika pernah nyantri meski hanya 1 hari. 🤭

Saya hanya ingin mengucapkan:

Selamat Hari Santri Nasional.
Santri berilmu Indonesia maju.
Santri berakhlak Indonesia bermartabat.

Alfatihah untuk semua guru yang telah membesarkan jiwa dan pikiran saya. Semoga Allah angkat derajat mereka dengan hadiah surga. Aamiin...





MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6989226644399874006

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA