“Seteguk Kopi Emmak” Kumpulan Puisi Suhartatik


Catatan Tentang Emak

Tengsoe Tjahjono

Emak
lewat hitam kopimu pelan-pelan kubaca
lelehan keringatmu yang basahi tiap kata
juga airmata yang menyingkap abjad-abjad lusuh

(Seteguk Kopi Emak)


Pagi-pagi sudah terhidang di depan saya  seteguk kopi emak. Padahal saya sudah diperintahkan dokter untuk tidak minum kopi lagi, walau seteguk sekalipun.  Hanya kali ini saya berhadapan dengan “Seteguk Kopi Emak” antologi puisi karya Tika Suhartatik. Membaca antologi ini serasa membaca catatan-catatan yang ditulis penyair dalam menapaki hidupnya.

Terdapat tiga kata penting dalam judul antologi ini yaitu: seteguk, kopi, dan emak. Secara semantik kata ‘seteguk’ merupakan kata bantu bilangan untuk menunjukkan banyak air yang diminum. Satu teguk, dua teguk, dan seterusnya. Jika hanya seteguk tentu tidak banyak, sebab secangkir kopi dapat berisi berteguk-teguk. Mengapa hanya seteguk kopi? Nah, ini menarik untuk dikaji.

Jika kita hanya minum seteguk, maka akan ada kerinduan untuk melanjutkan pada tegukan kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi, jika secangkir kopi tandas dalam sekali minum, kerinduan itu tidak akan pernah tercipta. Itulah yang dirasakan oleh Tika Suhartatik tentang emak atau ibunya.  Bahkan, dalam tiap tegukan, kenangan akan bundanya itu akan perlahan muncul. Hal itu sangat jelas dituturkan dalam bait lewat hitam kopimu pelan-pelan kubaca/ lelehan keringatmu yang basahi tiap kata/ juga airmata yang menyingkap abjad-abjad lusuh. Seteguk kopi menjadi jalan terindah untuk mengenang suka-duka sang ibu dalam merawat keluarga dan anak-anaknya.

Lalu bagaimana dengan kopi?  Menurut Terry Pratchett  kopi merupakan cara terbaik mencuri waktu. Dengan secangkir kopi kita bisa mencuri waktu barang sejenak dalam kesibukan kita. Dengan secangkir kopi kita dapat memiliki waktu untuk merenung, merancang jalan hidup, bahkan melakukan refleksi dan introspeksi. Apalagi, jika minumnya seteguk demi seteguk. Inspirasi akan lahir dalam keadaan seperti itu.

Kopi sangat inspiratif. Oleh karena secangkir kopi sangat diperlukan. David Lynch sampai tegas mengatakan bahwa  kopi yang buruk sekalipun lebih baik daripada tidak ada kopi sama sekali. Tika Suhartatik pun menulis:  Dalam ampas kopi kutemukan serpihan hati / kuseduh dengan ujung jariku sebelum kusajikan / dalam perjamuan hatiku dan hatimu. Jadi, bukan hanya dalam kopi yang terburuk, pada ampas kopi pun dijumpai hati, dijumpai cinta, dijumpai kenangan. Lewat kopi dan segala elemen kopi itu Tika mencatat semua kenangan, harapan, dan peristiwa dengan orang-orang dicintainya, termasuk sang bunda. Kopi itu diseduh dengan ujung jari, bukan dengan sendok. Mengapa? Karena aku lirik hendak menunjukkan kedekatan hati dan tubuhnya dengan orang-orang yang dicintainya itu.

Tentang ibu sudah banyak dijelaskan pada bagian sebelumnya.  Menurut Washington Irving seorang ibu adalah sahabat sejati yang kita miliki, ketika pencobaan berat dan tiba-tiba menimpa kita; ketika kesulitan menggantikan kemakmuran; ketika teman-teman meninggalkan kita; ketika masalah menebal di sekitar kita, ibu masih akan berpegang teguh pada kita, dan berusaha dengan nasihat dan petunjuk  baiknya  menghilangkan awan gelap, dan menciptakan kedamaian kembali ke hati kita. Pandangan anak terhadap ibu yang seperti ini hampir dirasakan oleh seluruh anak di dunia ini.

Bagaimana ibu di mata Tika. Dia menulis panjang dalam puisinya yang diberi tajuk  “Hujan Ibu”. Ibu dihadirkan sebagai hujan yang mencurahkan air dan kesegarannya. Air adalah daya hidup. Ibu di mata Tika merupakan daya hidup. Ibu menjadi daya hidup saat manusia jatuh ke dalam labirin kegelapan dan kegersangan jiwa. Pada saat seperti itu kehadiran ibu sungguh diperlukan dan dinantikan.

Berikut ini puisi “Hujan Ibu” secara lengkap.
  
HUJAN IBU

Ibu
di tepian kerontang ladangku
wajahmu menjelma hujan
turun dari langit hatimu

Aku bergegas dan berteduh
di bawah rimbun putih rambut doamu

Kuhirup aroma melati dari kelopak matamu
hingga segala keluh dan rintihan tak lagi pilu.

Ibu
kau cakrawala di atas bumi nestapaku
sepasang matamu menjelma pijaran bintang-bintang
saat kujahit sobekan-sobekan kain jiwaku
dengan helai sarung sembahyangmu.

Ibu
aku tahu desahku adalah nyawamu
meresap menjadi bulir-bulir darah kirmizi
yang kuperas hingga tetesan kesedihan bening berkilau.

Ibu
biarkan kusesap udara nasihatmu
‘kan kujadikan ramuan penguatku mencari ilmu
izinkan aku mengubah jembatan lelahmu
sebagai sayap-sayap hingga kubisa terbang jauh

Ibu
hanya padamu aku mengadu
tentang selendangmu yang kubuat kelambu
Puisi tersebut sudah sangat jelas pesannya. Cara menulis puisi seperti itu tampak sudah menjadi gaya pribadi Tika, semacam idiolek. Puisi-puisi Tika kuat dalam pesan, karenanya Tika lebih memilih gaya bertutur terbuka, tanpa mengurangi keindahan puisi. Sungguh, tidak sulit menafsirkan puisi “Hujan Ibu” itu, juga puisi-puisinya yang lain. Bagi saya keindahan puisi memang tidak harus dibangun oleh konstruksi bahasa yang rumit.

Dalam antologi ini ibu menjadi sumber dan pusat cerita atau catatan-catatan penyair.  Cerita hidup seseorang tidak dapat dipisahkan dari cerita sang ibu. Mitch Albom menyatakan dengan jelas bahwa di balik semua cerita,  bagaimana gambar di dinding,  bagaimana bekas luka di wajah kita,  walaupun cerita itu sangat  sederhana,  terkadang keras dan memilukan, selalu ada cerita ibu di dalamnya. Hal itu terjadi  karena semua cerita manusia selalu bemula dari ibunya.

Bahkan, saat aku lirik menanyakan tentang hakikat, dia akan bertanya pada sang bunda. Misalnya pada puisi “Tanya untuk Bunda”. Dia menulis indah sekali seperti dalam kutipan berikut ini.
  
Bunda, adakah kau terjaga?
di antara dengkur teripang
menyeret ombak
hingga akupun tak lelap
buih beradu jadi kelambu
lusuh

Baris “Bunda, adakah kau terjaga?”  sebenarnya bukanlah sungguh-sungguh bertanya sebab aku lirik sangat tahu bahwa sang bunda tak pernah sungguh-sungguh tertidur. Bunda selalu terjaga sepanjang hidupnya. Kalimat tanya itu justru menegaskan posisi yang selalu menjaga keluarga dan anak-anaknya, baik dalam doa maupun cinta. Hal ini ditegaskan oleh   N.K. Jemisin  bahwa di mata seorang anak, ibu adalah seorang dewi. Dia bisa menjadi mulia atau mengerikan, baik hati atau penuh dengan amarah, tetapi dia juga sangat dipenuhi oleh rasa cinta. Ibu merupakan kekuatan terbesar di alam semesta.

Bunda dalam antologi ini bukan hanya bermakna ibu biologis, juga bermakna sebagai  ibu budaya, ibu alam, dan sebagainya.  Dalam puisinya “Serupa Laut” ia menulis: Aku anak laut/ lahir dari rahim sagara.  Samudra didudukkan sebagai bunda, yang penuh cinta  menghidupi anak-anaknya. Anak laut sesungguhnya lahir karena alam dan dibesarkan oleh budaya.  Sedangkan, dalam puisinya “Titipan Cermin Sejarah” ditulisnya: Sungguh, tuan, anak negeri ini berseru/ tentang tanah-tanah banyak laku/ lantaran ada emas meremas lama berbau/ tuan ikut memandu. Dalam hal ini Indonesia diposisikan sebagai bunda, bunda yang menderita karena penjarahan terhadap kekayaan alamnya. Tentu saja, kehancuran alam Indonesia, berakibat kehancuran kepada seluruh anak negeri. Sebuah hokum alam yang tak mungkin dihindari.

Yang menarik dari puisi Tika adalah penghadiran  diksi lokal Madura pada umumnya atau Sumenep pada khususnya. Kekuatan diksi lokal ini bisa merepresentasikan kedekatan jiwa dan hati Tika terhadap Madura, tempat ia lahir, besar, dan berkarya.  Diksi dengkur teripang, ombak, kelambu lusuh, merujuk pada entitas sosial-budaya serta alam yang diakrabinya. Diksi tersebut sangat kuat membangun imajinasi tentang Madura, laut, dan lanskap nelayan.

Dalam puisi yang lain dijumpai pula diksi-diksi bahasa Madura misalnya: lokan (kerang yang ada di dalam lumpur),  bhunyok (pohon nipa), cellot (lumpur), janglot )makhluk gaib jadi-jadian), abhantal omba’ asapo’ angen (berbantal ombak berselimut angin, peribahasa Madura), dan lain-lain. Penanda diksi berbahasa Madura ini semakin mengukuhkan Tika sebagai perempuan penyair Madura yang tetap setia dengan bumi kelahirannya.

Demikianlah catatan singkat saya terhadap puisi-puisi Tika Suhartatik. Semakin panjang saya mengulas, semakin menjarah kesempatan pembaca memberikan tafsirnya. Banyak tema yang menarik dari puisi-puisinya. “Seteguk Kopi Emak” memang seharusnya dibaca sambil meneguk kopi, pagi, sore, atau malam sama saja.  Ingat kopi ingat kata-kata  Charlotte Eriksson yaitu, "Biarkan aku bangun di sebelahmu, minum kopi di pagi hari dan berkeliaran di kota dengan tanganmu di tanganku, dan aku akan bahagia untuk sisa hidup kecilku yang kacau."  Selamat meneguk kopi, membaca puisi, sambil membayangkan hidup yang terus berjalan dengan aneka macam irama.


Malang, 12 Juli 2020
-


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8689382326635792332

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA