Sajak-sajak Ani Ramdlaniyah


Ani Ramdlaniyah, sehari-hari dipanggil Ani ini lahir di Sumenep, 28 Agustus 1977. Putri pasangan Abdul Karim dan Masyatin ini, kini sekarang berprofesi sebagai guru. Pendidikan yang telah ditempuhnya setamat TMal Al-Amien, ia melanjutkan pendidikan di PBSI STKIP PGRI Sumenep (S1) dan PBSI Universitas Muhammadiyah Sumenep (S2). Perempuan ini sekarang berdomisili di jl. Asta Tinggi 17b, Kebonagung, Sumenep, dengan alamat email: ramdlaniyaha@gmail.com.


*****


 Segenggam Cinta Untuk Generasi Bangsa

Jika “virus” itu mewabah di seantero negeri,
Jika pandemi terus menggema menggerus pembelajaran kita,
Inilah sesungguhnya “pembelajaran”
Belajar menata semuanya, belajar menata dari awal

Kabar dari ujung timur ke ujung barat
Tentang “pembelajaran” yang dituntut harus dikembalikan
Rasa yang rasanya diungkap dari diri yang sebenarnya t’ punya rasa
Pada sebuah rasa “kemanusiaan”

Kasat mata di permukaan menyeruak viral
Bukan hanya di negeri yang kita banggakan
Di seluruh dunia bahkan sudah mengukuhkan
“ini” memang benar adanya

Secuil “getir” yang terasa hambar
Namun terpaksa harus ditelan
Kawan-kawan seperjuangan
Di negeri awan



Selendang Bermata

Ke sana langkah kaki mengayuh
Menahan lirih luka akibat pena
Mencari kompensasi riuh nan ramai
Karena luka tak lagi kunjung terabaikan

Benarkah rumput hijau itu
Menanti kerbau ataukuda terbang
Benarkah sungaiitu menunggu sang pengembara
Lelah dari perjalanan panjangnya

Padahal angin t’ pernah membawa berita itu
Badaipun t’ pernah berpihak padaku
Hanya pena ini, pena itu, saksi abadi
Ketulusan pada kalian wahai permataku

Kelak akan tercatat dalam sejarah
Kau sudah mampu berlepas dari selendang bayang-bayang

Sungguh ini t’ satupun mampu mengujimu
Karena kau telah mumpuni berjalan di atas itu
Setelah melewati dinding terjal nan tajam

Ibu tetap tersenyum padamu,
Karena di mana suksesmu,
Di situlah selendang “perjuangan”
Pernah ibu titipkan…



Kisah Huruf Tanpa Abjad

Ayo, nak…
Naik sekali lagi
Tunjukkan kau bisa
Pamerkan kemampuanmu
Ulangi sekali lagi
Agar dunia tahu
Kami bangga padamu

Ayo, nak…
Ambil kesempatanmu
Sikat segala peluang yang ada
Luruskan pandanganmu
Jangan kau hiraukan bisikan t’ bermutu itu

Ayo, nak…
Jangan buang waktumu
Jangan lagi kekalahan di masa lalu menghantuimu
Masa depanmu ada di genggamanmu
Generasi ini adalah bagianmu

Ayo, nak…
Bereskan semuanya, waktu melewati
Banyak bagian dalam hidupmu
Masihkah t’ kau terhenyak dengan lalu-lalang itu
Terpukau hanya dengan satu masa
Selanjutnya akan kau baca
Sekarang adalah milikmu

Ayo, nak…
Jangan pernah meniru orang lain,
Tapi jangan kau abai pada proses kesuksesannya
Itu adalah sebuah sinyal
Kemana kau berkutat, di situlah
Nilai selanjutnya kau tinggalkan

Ayo, nak…
Berjuang,
Bermimpi,
Beraksi,
Dan bumikan cita-citamu yang
Katamu setinggi langit

Gurumu mendoakanmu



Mentari T' Bertuan?

Siapa saja bebas menentangnya, memuji keelokannya
Bahkan menepis sinarnya yang  sering mengganggu di pikirmu
Sesaat pada masa yang pada ujungnya
T’ peduli cerahnya menerpa digantikan pekatnya malam

Jika mau berikrar pada Sang Empunya, suka tidak suka
Ia hadir memberi harapan pada semua
Tua-muda, tinggi-rendah sama rata
Sama-sama membutuhkannya

Cahaya ilmu dinanti t' jemu kala “ada” yang menerpa
Tahulah di sana arti sebuah konsekwensi
T’ bisa ditukar dengan secuil kata “belajar”
Semua yang mengeluhkan kinerja “pekerja” pendidikan

Mulaikah ada kesadaran akan “tanggung jawab” bersama
Jika dari masa ke masa selalu “dia” yang dituding telah bersalah
Dari rendahnya kwalitas sampai rendahnya minat
Atau, jangan-jangan “dia” hanya jadi perahan belaka

Hingga harus begini dan begitu
Tugas ini tugas itu
Harus selesai tepat waktu
Berdalih karena ada tunjangan guru

Kawan...
Mentari bukan T’ bertuan tapi dia diciptakan untukmu
Guru pun demikian
Bak mentari yang t' kenal lelah meski sering dikeluhkan


Malam Sejuta Bintang

Menanti turunnya sejuta bintang adalah sebuah keniscayaan?
Tidak mungkin, itu di pikirmu
Mustahil, itu di dadamu
Tidak di hatiku

Lambang selalu hadir di setiap lekuk jalan
Warna menghiasi pelangi kehidupan
Mengiringi jalan setapak yang kau pilih
Seluruh jiwa meneriakkan “kebebasan”

Bebas berkreasi, bebas berinteraksi, bebas berafiliasi,
Bebas berekspresi, bebas melantunkan tema kehidupan,
Bebas menyuarakan apapun yang ingin kau perjuangkan
Bebas meneriakkan semua yang kau kira benar

Satu rembulan sinarnya menyingkirkan gemintang lalu masih pantaskah
Bernyanyi ditengah nada sumbang meski dielu-elukan sejuta bintang
Rembulan t' pernah redup di tengah hiruk pikuk awan meski sinarnya terhalang
Sampai ke permukaan yang masanya tidak abadi

Berteriak tentang itupun t' lagi berguna
Karena rembulan hadir mempesona walau sejuta
Makna dan rasa, yang diseka dalam jiwa bergumam
Kami t' bermutu tanpa hadirmu,
Guru...
Kami t' mampu jika hanya baca melulu,
Guru...
Kami t' bisa jika hanya menunggu dan menunggu,
Guru...







MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2356383189007120518

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA