Rindu yang Terpendam


Oleh : Nuriswatun Hasanah

Semilir angin menembus jiwa pada perempuan yang berada di penghujung bibir pantai. Kali ini senja memancarkan warna cahaya yang cukup cantik. Ia akan pulang beberapa menit lagi, entah esok jika tak ada hujan. Perempuan di ujung itu mendongakkan kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya. Beberapa kali butiran air matanya berjatuhan. Rambutnya terlambai tersapu oleh angin. Entah apa yang membuat dia mencurahkan tangisnya kepada senja.

“Senja itu tak pantas untuk orang yang berkesedihan, ia bukan pelampiasan yang bisa seenaknya kamu tangisi”, suara itu tiba-tiba

Perempuan itu membuka mata lantas membalikkan tubuhnya mencari tahu siapa pemilik suara itu. Tepat di hadapannya lelaki berkopiah putih memakai baju koko abu-abu dan bersarung putih. Perempuan itu tetap saja diam mengarahkan pandangannya pada senja yang mulai meredup. Begitupun lelaki misterius itu berdiri di samping perempuan itu dengan jarak yang cukup jauh mereka sama-sama menatap senja sambil memegang pembatas kayu.

“Tahu apa kamu tentang senja?”. Perempuan itu menatap dengan jarak jauh kepada lelaki misterius itu.

“Sudah aku bilang senja bukan hanya tempat pelampiasan tangisan. Lihatlah itu sepasang kekasih yang sedang mengambil foto senja sambil tertawa, berarti mereka menumpahkan kebahagiaannya di senja pula”. Beberapa kali ia menjepretkan kameranya menghadap ke perempuan itu. Gambar itu tidak jelas hanya bayangan wajah bersama background senja.

“Cepat pulang tidak usah sedih berkepanjangan. Tidak baik perempuan magrib-magrib begini berada di pantai seorang diri.

“Assalamualaikum”.
“Walaikumsalam”. Ia hanya menatap dari belakang langkah lelaki itu yang sudah berlalu. Senja itu semakin tak terlihat, warnanya semakin pekat meski sudah takterlihat.

Perempuan bernama Hana itu turun dari jendela dan membuka pintu kamarnya.

“Kenapa sih dari kemarin sedih terus?”.
“Gak apa-apa buk, Cuma bingung mau kuliah dimana”.
“Ya udah dipikir-pikir dulu, tapi inget jangan kuliah di luar Madura, ingat kan pesan ayah kemarin”.
“Iya bu”.

Hana mengambil handphonenya yang beberapa detik lalu di letakkan di atas meja belajar dan membuka akun facebooknya. Tangannya berhenti pada postingan bayangan cewek bernama Senja yang di edit memakai kerudung dengan tulisan “kamu akan kembali lagi dengan senja yang seharusnya membahagiakanmu”.

Hana bergegas mencari tahu siapa pemilik akun facebook Senjaku, sekejap hanya ada puluhan foto di album postingan foto senja tersebut.

Tangan lentik Hana mengetik yang tertera di comment foto, “Mempublikasikan foto seseorang itu terkena hukuman”.
Beberapa detik kemudian pemilik akun membalasnya
“Siapa ?”. Hana pun semakin penasaran siapa pemilik akun itu. Dia kembali membuka message dan mengetik pesan untuk pemilik akun tersebut.

“Aku tahu pemilik foto itu siapa tidak perlu diedit-edit memakai kerudung. Setiap orang punya cara tersendiri memperbaiki diri”.

(Hana menunggu balasan hingga beberapa detik muncullah tulisan) “Anda siapa seperti kamu lebih paham siapa foto yang saya posting”.

 “Kamu yang siapa, yang sembarangan foto orang tanpa sepengetahuan”.
“Nama asli anti siapa ?”.
“Sudah jelas bukan nama akun fb saya yaitu aku adalah aku”.

Hana secepat kilat mematikan data selulernya, ia merasa hari ini hari yang paling sial. Seseorang yang dicintainya ditunangkan oleh orang tuanya, belum lagi seseorang misterius memosting fotonya di facebook. Dua minggu berlalu teman-teman Hana sebagian sibuk mempersiapakan kuliah, berbeda dengan Hana, Ibu Hana merasa kasihan kepada anaknya ia mencoba mencari informasi tentang kuliah kepada teman-temannya.

“Hana anaknya pak Yanto udah semester 7 sekarang, kata si Ahmad kuliah sambil mondok gitu”.
“Ahmad yang mana ? mondok apaan sih bu ?”.
“Udah coba aja dulu, kemarin Ahmad ke sini. Cuma kamu gak ada, cobak telvon ini nomer ahmad nanya infonya”.

Hana mengambil nomor telpon dari tangan ibunya dan bergegas memencet nomor itu seketika.
“Hana kekamar dulu ibu ngulek sendiri dulu yah”.
“Iya gak apa-apa”.
“Halo Assalamualikum ini siapa ? halooo”.

Hana sekejap kilat mematikan sambungannya.

“Kayak pernah denger suaranya siapa yah ?. udah lah”

Hana kembali menghubungi nomor tersebut.

“Ya halo Assalamualaikum siapa yah ?”.
“Walaikumsalam saya Hanawiyah”.
“Hana siapa ? Hana anaknya ibu Sulastri ?”.

Seketika hening tidak ada jawaban

“Halo, halo... kak Ahmad bukan ?”.
“Oh iya benar. Oh anti anaknya bu Sulastri, siapa namanya Hana betul ? ada yang bisa saya bantu ?”.

Hana menceritakan keinginannya untuk kuliah tetapi dia belum tahu mau kuliah dimana.

“Tapi di sini berbasis mondok kuliahnya seperti maha santri gitu”.
“Maaf gak ada yang lain yang gak berbasis mondok gitu kak ?”.
“Ada Cuma anti telat kalau daftar sekarang”.
“Ya sudah terima kasih infonya kak, Assalamualaikum”.
“Walaikumsalam”.

Hana berbaring melihat langit-langit kamarnya. Ia berfikir seribu kali jika akhirnya ia masuk Pesantren. Pesan kembali masuk dari nomor yang beberapa menit hana telpon.

“Cobalah sholat istikhoroh ataupun sholat tahajjud, insya Allah pasti dapat petunjuk”.

Hana pun membalas pesan dari nomor tak bernama tersebut.

“Tapi saya gak istiqomah memakai kerudung”. Pesan masuk kembali.
“Belajarlah mulai dari sekarang”.

Semingu berlalu Hana mulai belajar memakai merudung meski hatinya berat memilih kuliah sambil mondok, esok ia akan pergi ke tempat tujuannya untuk mendaftarkan diri dan menetap di sana.

“Hana dipanggil ayah di musholla”.
“Iya bu”
“Duduk sini, kamu dapat kiriman dari anaknya pak Yanto Al-Qur’an nih”.
“Kak Ahmad ?”.
“Iya.”
“Bilangin makasih udah mau bantuin hana cari info kuliah, ngasih motivasi, sampek hana insyaallah istiqomah pakek krudung”.
“Iya nanti ayah bilangin“

Ayah hana memberi nasehat kepada hana sebelum ia berangkat ke pondoknya. Menaiki semester baru hana mulai terbiasa dengan agenda yang super sibuk disana ia memulai belajar tajwid, sholat tahajud semua ia belajar agama islam mulai dari nol. 1 bulan berlalu dia bahagia mendengar televon dari ibuknya bahwa ahmad sudah lulus dan sekaligus meminangnya, meski dia tidak tau betul bagaimana raut wajah ahmad yang sebenarnya.
Adzan isya’ berbunyi selesai sholat, agenda ngaji bersama hana mengambil al-qur’annya yang berada di rak Al-qur’an lalu membukanya. Tidak sengaja ia melihat lembaran paling belakang di pojok paling bawah bernama senjaku dengan tulisan kecil “tak mengapa rasamu tidak sama denganku, mungkin dengan begitu Allah menyuruhku untuk memperbaikimu” mata hana tak berkedip melihat nama itu dia baru paham seseorang yang di pantai, seseorang yang memposting fotonya itu siapa, belum sempat membaca al-qur’an seorang temannya memanggil hana memberitahu bahwa ibu hana sedangng menelefonnya. Hana bergegas turun dari mushollah dan pergi ke kamar ustadzah.

“Halo! Assalamualaikum han..”
“Waalaikumsalam, ibu kok nangis? Kok rame disana kenapa bu?
“Ahmad han..”
“Kak ahmad kenapa bu?”
“Ahmad meninggal kecelakaan tadi sore di depan kampusmu”
“Innalillahi wainnailaihi roji’un, kak ahmad… maaf hana gak bisa pulang besok hana ujian UAS bu, hana pasti doakan kak ahmad dari sini”
(dengan air mata berjatuhan)“iya han semoga kamu di satukan lagi nanti di syurga”
“Aamiin…”

Sore menyambut petang yang akan tenggelam, hana duduk menikmati senja bersama pohon jati yang lebat dengan sepoain angin, ia membuka buku dairynya menulis apa kata hatinya saat ini

 “Aku rindu yang berlalu meski terus berlari dan tak bisa ku gapai kembali, terimakasih kak ahmad”

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3347230538288573508

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA