Rindu Pengusik Kalbu

Cerpen: Siti Nurfaizah

Menikmati dinginnya angin malam, kurasakan desiran ombak yang menggepas daratan. Kupandang langit yang begitu menghitam. Lagi-lagi langit meneteskan air mata. Ada  apa gerangan? Bersedihkah?

Rintik hujan mulai turun membasahi jalanan yang kering, menguap pada kaca jendela,  lalu merembes kehulu hati. Karena hujan selalu mendatangkan sepercik memori lalu. Dari memori itu menguak Rindu yang begitu mendalam. Dan saat ini rindu itu kunikmati sendiri, membayangkan akan kusampaikan kepada siapa kata “Rindu” itu, hemmmmmm........... desusan halus terbetik dalam bibirku.

Kududuk termenung didepan tembok putih dengan hembusan angin, tak sengaja kusapa angin malam itu “Wahai semilih angin malam, akan kusalamkan kepada siapa rindu ini, sedangkan diriku tak kuasa menahannya,” sapaku padanya.

Rintikan hujan dan angin malam itu, mampu membawa lamunanku pada seseorang  yang ada dalam Rindu itu.

Aku pun terdiam sejenak dan berfikir tentang “Rindu” itu, wahai angin malam mengapa rindu itu terus mendesakku, sedangkan diriku tak tahu akan kusampaikan kepada siapa rindu itu? Akupun terdiam kembali menatap rintikan hujan yang menetes dihadapanku, seraya hatiku berkata; “Tuhan, wahai Sang Pemilik Rindu aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Tuhan tolong sampaikan Rindu terberat ini pada dia yang sedang berjuang keras demi kesuksesanku, salamkan padanya wahai pengepang rinduku,”. Tatap mataku pada langit yang menghitam.

Tak sengaja dari kejauhan ada seseorang wanita yang mampu membuyarkan lamunanku “Fhiza mengapa engkau termenung disitu, itu tak baik!,” sapa wanita itu. Gadis kecil itu benama Fhiza, yang sedang duduk termenung menikmati desakan rindu dalam hatinya.

Tak lama kemudian wanita itu menghapirinya.

Fhiza dengan segera memeluk erat tubuh wanita itu, seakan-akan ia ingin menyampaikan tentang rasa yang telah mengusik hatinya, tapi ia tak sampai hati ingin  menyampaikan hal itu, karena ia tahu pasti wanita itu akan merasakan hal sama dengan apa yang ia rasakan. Fhiza pun tetap dalam pelukan hangat wanita itu.

Tapi rasa itu terus mendesaknya, dengan hati yang berat Fhiza pun mengatakan hal itu pada wanita yang memeluknya itu, dengan suara lirih ia berbisik kepada wanita itu “ Kak, emang iya rindu itu berat yaaaa!” ujarnya, wanita itu tertawa kecil “ Kata siapa dek? Tidak juga, biasa aja! Siapa dulu yang kau rindukan itu kalo hanya laki-laki buaya tak perlu dirindukan, memusingkan kepala saja” ujarnya dengan tertawa kecil, ia pun mendesak kesal pada wanita itu “ Kakak ini laki-laki lagi laki-laki lagi, bukan itu kak “ jawabnya sambil mencubit kulit tangan wanita itu. Wanita itu mendesah kesakitan.

“Dek! Jika rasa itu mengusikmu sampaikan saja padaku mungkin saja aku bisa membantumu untuk melunakkan rasa itu” ujarnya. Tapi Fhiza hanya terdiam dalam pelukannya. Dalam pelukan hangat wanita itu Fhiza terus berfikir dan berfikir, terbesit dalam hatinya “Apakah padanya tuhan ku ceritakan rasa rindu ini?” tak lama kemudian terbesit kembali dalam hatinya “Tidak Tidak biarlah rasa itu kupendam saja, biarkan diriku juga merasakan apa yang sedang Dia rasakan”.

Tak terasa rintikan hujan mulai menghilang satu persatu dari hadapanku dan awan pun semakin menggelap, dendang murattal pun berbunyi tanda semua santri harus kembali kekamar masing-masing.

Wanita yang menghangatkan tubuhku seraya berkata “ Dek, ayooo masuk sudah malam nih, sudah jangan ngelamun terus jangan memikirkan rasa itu lagi biar fikiranmu tak terganggu” sambil mengelus kepala anak itu. Wanita itu melanjutkan pembicaraannya “Sampaikan saja rasa itu pada Dia sang pencipta rasa itu, utarakan padanya tentang sesuatu yang mendesakmu disepertiga malamnya” dengan mengepuk pundakku “ Iya kak, akan kusampaikan rasa yang mengganggu ku ini pada-Nya” jawabku dengan nada rendah.

Saat itu pun kami beranjak pergi menuju kamar, sebelum kembali wanita itu berbalik dan memberikan senyuman manis padaku, tanda bahwa diriku harus bisa melewati rasa yang mendesak ini, dan menyerahkan rasa itu pada Sang Pemberi Rasa. Karena hanya Sang Pemberi Rasa itu yang mampu memulihkanya kembali.

Setelah itu kami pun masuk kamar dan bersiap untuk mengukir mimpi indah.

Siti Nurfaizah, asal daerah Lumajang, Jawa Timur, adalah mahasiswi Institut Dirosat Islamiyah al-Amien Prenduan, Sumenep Madura, semester III, jurusan: Tarbiyah (Pendidikan Bahasa Arab)
:

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 9021889542288153004

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA