Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam di Era Disrupsi

Ilustrasi

Oleh: Nur Lathifah Aini

    Kita sering sekali mendengar kata “era disrupsi” dengan berbagai kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan. Walaupun demikian, tetap saja saya mendapati dampak positif maupun negative yang meliputinya. Di antara dampak positifnya antara lain memberikan kemudahan diberbagai sektor kehidupan, baik dari segi perekonomian (ekonosfer), teknologi (teknosfer), informasi (infosfer), sosial (sisosfer) maupun psikologi (psikofer). Sedangkan dampak negatifnya banyak terjadi perubahan peradaban pola kehidupan masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman misal terjadi dehumanisasi dan sebagainya.
Kita semua pasti sepakat di era disrupsi ini setiap individu pastilah menginginkan dirinya terpelihara dengan baik. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan sosial serta lingkungan  yang baik sangat dibutuhkan sebagai salah satu alternatif yang strategis dan mendukung. Walaupun demikian, tampaknya itu hanya menjadi sebuah wacana belaka. Sepertinya Ilmu pengetahuan sosial dan  lingkungan pada saat ini sudah mulai kewalahan atau hampir gagal menangani pemecahan sosial disebabkan oleh  kecanggihan teknologi dan perkembangan zaman. Terkadang mereka juga sadar akan budaya dan kebiasaan yang berkembang pesat telah merubah serta mempengaruhi kehidupan masyarakat secara drastis dari tatanan nilai berbudi luhur hingga sekarang menjadi ngawur. Sayapun mulai berfikir akankah saya yang salah menyaksikan kondisi masyarakat yang mengikuti trend ataukah saya yang kurang mengikuti perkembangan zaman.

Dalam ingatan saya tentang Islam di Indonesia. Bahwasanya Islam turut andil terhadap kemerdekaan Indonesia dalam buku-buku sejarah yang pernah ada. Saat saya duduk di bangku sekolah dasar kelas V hingga bangku perkuliahanpun,  berulangkali guru atau dosen mendongengkan tentang urgensi Islam di Indonesia. Bagi saya itu hanya dongeng saja dalam buku-buku lusuh: disimpan dalam bingkai-bingkai sejarah yang terlupakan, di rak-rak lemari perpustakaan abadi, serta menjadi penggalan cerita yang membosankan.

Guru-guru saya selalu menjelaskan bahwa Islam  sebagai agama yang terakhir sangat urgen mendukung  pemecahan  berbagai problematika kehidupan saat ini maupun  nantinya. Menjelaskan betapa sulitnya perjuangan Nabi dan para sahabat hingga pahlawan-pahlawan Islam dalam menyebarkankannya hingga ke pelosok negeri. Bagaimana keringan bercampur darah menjadi hiasan perjuangan jihad medan perang mereka. 

Saya tidak merindukan kisah itu ketika jam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah  maupun lembaga pendidikan mulai disedikitkan oleh pemerintah. Saya tidak perlu membaca dan mengkaji ulang sejarah-sejarah itu. Menurut saya semuanya akan menjadi dongeng yang sia-sia saja. Kelalaian saya pada saat duduk di bangku sekolah hingga bangku perkuliahan hari inilah akan membawa akibat yang buruk dikemudian hari. Pada awalnya saya mulai bercerita kepada orang-orang tentang pentingnya Islam untuk member pemahaman kepada mereka. Meskipun saya sendiri tidak begitu paham tentangnya, saya hanya mengetahui Islam secara turun menurun saja dari nenek buyut sebelumm saya. Yang saya tahu saya dilahirkan dalam keadaan beragama Islam tanpa paham seluk beluk islam itu sendiri seperti apa. 

Seuatu kali saya pernah disuruh menjelaskan Islam oleh Dosen di kampus, dikarenakan saya dianggap yang paling mengetahui tentang Islam. Saya langsung gelagapan melirik teman, memohon bantuannya. Saya menjelaskan tanpa pengetahuan sama sekali, dan bahkan sok tahu asal ungkap saja tanpa memikirkan akibatnya. Sayapun malu sekali pada saat itu pada Allah.

Telah berlalu setahun kemudian. Masyarakat mulai merasakan prihatin terhadap “kondisi Islam di Indonesia”. Masyarakat meminta untuk diadakannya sesuatau yang dapat mengembalikan kondisi Islam saat ini. Tujuannya agar generasi tidak buta akan pengetahuan Islam. Kemudian, pemerintahpun mengirimkan banyak pasokan buku keagamaan ke lembaga pendidikan. Hari pertama, semuanya semangat untuk mebaca ke perpustakaan. Namun pada hari-hari selanjutnya semua hanya menjadi bagian dari buku-buku lusuh dan tak terawat.

Pada hari-hari selanjutnya, kamipun mulai terbiasa dengan kondisi seperti ini. Meskipun banyak yang hanya berkoar-koar tahu akan hakikat Islam. Dan semuanya masih menjalankan kondisi seperti biasa saja. Karena ini seolah menjadi kebiasaan yang akan terul terulang setiap harinya termakan zaman. Pada akhirnya, kami lalai dengan generasi muda yang tidak paham makna Islam, yang diperjuangkan olen Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya maupun para pahlawan.

Lantas siapa hendak disalagkan bila semuanya sudah terlanjur seperti ini?. Mereka terus berkoar-koar sana sini, menyalahkan siapa saja yang ia kehendaki. Namun, lupa akan hakikat diri yang melakukan hal sama berulang kali tanpa berpikir atas tindakan dan akibatnya yang telah terjadi. Apa yang sudah kalian terhadap Negara mayoritas Muslim ini?.

Pada suatu kesempatan, sayapun mendengar orang berkata agama hanya disebut sebagai lambang kesalehan agama atau sebatas penyampaian khotbah saja. Namun mereka mereka mengatakan mereka mencintainya. Mereka mencintai agama karena agama mencintainya. Bagi mereka, hanya dengan Islamlah mereka dapat hidup tentram dan damai.

Sebagai salah satu upaya dalam mengatasi berbagai kebuntuan terhadap pemecahan permasalahan yang ada, kita mungkin akan bertanya bagaimana seharusnya agama ditampilkan? bagaimana sikap yang kita lakukan dalam menanggapinya? bagaimana penerapan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?.

Di balik kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut, tanpa kita sadari telah membawa kehancuran martabat manusia. Umat manusia telah mampu menciptakan berbagai karya cipta, serta membangun peradaban yang maju. Akan tetapi, tanpa disadari karya-karya cipta tersebut telah mengurung umat manusia sebagai tawanan didalamnya. Sehingga, kita terus bergantung terhadap karya ciptaan tersebut, tanpa kita sadari kita telah menciptakan kehancuran sangat sulit untuk ditanggulangi.

Sia-sialah pengorbanan para mujahid Islam dahulu. Dengan penuh semangat dan kobaran api semangat kobaran juang menyiarkan Islam hingga ke pelosok negeri. Saya malu melafalkan diri sebagai Muslim, ketika mengetahui semuanya menjadi tidak bermakna. Apakah arti Islam, ketika sebagian orangpun tidak tahu rukun Islam?. Apakah ada di hati Iman, jikalau rukun Iman saja mereka tidak mengetahuinya?.

Jika  Pendidikan Agama Islam hanya menjadi tawaran-tawaran dongeng belaka serta paket-paket siap jadi, kemudian tidak direalisasi, lebih baik itu dihapuskan saja dari bumi pertiwi. Sebab, Bagi saya, Islam bukan hanya “simbolisasi” semata dan topeng kaca identitas diri. Terlihat sempurna di mata, namun hakikatnya sangat palsu dan dusta belaka.

***   

Nur Lathifah Aini, Tempat, Tanggal Lahir: Kutacane-Aceh Tenggara, 21 April 2002. Tempat Tinggal:  Jalan Kelapa Gading No. 10 Desa TRT. Megara Baru Kecamatan Lawe Sumur Kabupaten Aceh Tenggara, kini aktiv sebagai mahasiswa  Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep MAdura,  Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Agama Islam, Semester Tiga. Aktif di  Anggota Aliansi Jurnalis Muda IDIA (AJMI).
  
  

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3716520929084201292

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA