Pesan Kiai Kampung Jelang Pemilu

Oleh: Nur Kholilah Mannan

Kiai itu bernama KH. Abd Mannan Djazuli, wafat tahun 2012 di usia 92 tahun. Pesan ini saya temukan di lemari beliau bersama tumpukan berkas manual sejak tahun 1960-an. Tidak banyak yang mengenal sosok kiai egaliter ini kecuali kalangan yang aktif di dunia politik pada zamannya. Salah satu deklarator PKB cabang Sumenep ini memang mulai menyepi dari publik sejak ia memasuki usia senja.

Menurut saya pesan itu sangat relevan dengan iklim politik sekarang, khususnya kota-kota yang akan mengikuti pesta pemilu serentak di 9 desember nanti. Pesan itu berjudul “Menanggapi macam-macam suara menjelang PEMILU 1982 yang semestinya tidak perlu terjadi”. Ada lima poin yang berhasil menggelitik hati beliau, dari sana lahirlah tulisan apik lengkap dengan ayat, hadis dan atau perkataan sahabat.

Petama, pendustaan ayat dan hadis. Beberapa tokoh mengecam dengan lantang ulama yang mendekati pejabat (umara), menurut mereka ulama cukup mengurusi hal ukhrawi dan tak perlu intervensi urusan duniawi. Ironisnya tokoh-tokoh itu menjastis kalimat ini sebagai hadis nabi;

 إذا رأيتم العلماء يترددون على باب السلطان فاعلموا أنهم لصوص 

“Bila kamu melihat beberapa ulama mondar-mandir di pintu raja/pejabat negara maka ketahuilah ia adalah pencuri”

Menurut K. Mannan –sapaan akrab beliau- kritik ini tidak wajar disampaikan di depan publik.  Kendati ingin menegur seseorang seharusnya disampaikan secara pribadi, alih-alih memperbaiki, kecaman itu justru menyerang pribadi seorang ulama.

Kedua, memiliki dua wajah. Jika yang pertama pesannya tertuju pada masyarakat maka selanjutnya pesan ini ditujukan pada ulama dan atau pihak yang memiliki dua wajah. Dalam ihyanya, al-Ghazali menerangkan bahwa seburuk-buruknya ulama adalah yang berpura-pura warak (patuh dan taat pada Allah), di satu tempat setuju namun di tempat lain ia tidak setuju, tidak memiliki attitude scientific, mengaku alim tapi tidak terpancar kealimannya, pribadi seperti ini yang sering mengatakan bahwa masyarakat telah hancur dan hanya dia yang paling sadar serta mampu memperbaiki.

Sistematis sekali, di poin ketiga, K. Mannan menasehati para pemangku kebijakan agar tidak berpelik-pelik dalam mencari problem solving, Tuhan tak menyukai kerumitan dan kesukaran. Jika Dia berkehendak memberi masalah maka solusinya tak akan melebihi kemampuan hamba-Nya sehingga ia harus melalui jalan berliku. Dan tidak pula solusi yang terlalu enteng sehingga ia berleha dan menyepelekan.

Keempat adalah teguran bagi sebagian oknum yang kurang paham tentang Islam namun berani tampil di depan umum berbicara tentang Islam, maka pada waktunya akan terjadi fitnah tentang Allah dan rasul-Nya. Dengan demikian bicaralah sesuai dosis kemampuan diri dan orang lain.

Kelima, tidak membuang waktu dengan hal yang tak bermanfaat seperti mencaci maki ulama yang masuk dalam lingkaran politik, baik sebagai pelaku politik atau sekedar pendukung saja. Jangan terburu-buru buruk sangka pada mereka (ulama) karena bisa jadi itu demi kepentingan umat. Dugaan saya, tahun ditulisnya pesan ini adalah awal turun gunungnya para ulama ke lingkaran politik dan hal itu berlanjut sampai sekarang. Di Akhir pesannya, beliau mengutip kalam al-Ghazali dalam Ihya juz II hal 192, pesan ini beliau tujukan kepada para ulama,

وإن قربك سلطان فكن منه على مثل حد السنان فإن استرسل عليك فلا تأمن انقلابه علبك وارفق به رفقك بالصبي وكلمه بما يشتهيه ما لم يكن معصية

“Dan bilamana pejabat berkenan mendatangimu maka ambillah posisi di tenga-tengah (jangan terlalu dekat atau terlalu jauh). Dan jika ia memberimu kedudukan maka hati-hatilah jangan sampai kepercayaannya berbalik. Kasihanilah ia sebagaimana mengasihi anak kecil dan berbicaralah dengannya dalam hal yang sesuai dengan keinginannya selama hal itu bukan kemaksiatan”.

Tulisan ini memiliki spirit yang kuat untuk mengikuti kalam hikmah Hujjatu al-Islam, al-Ghazalī, yang sampai saat ini masih sangat relevan dengan kondisi politik bangsa kita. Kalau boleh saya persempit lagi pesan-pesan beliau bisa disingkat menjadi “Lakukan kerjaanmu dengan optimis”, apa yang menjadi kerjaanmu lakukan dengan tekun dan jangan repot-repot melakukan kerjaan orang lain.

Andai dianggap perlu ikut campur kerjaan orang lain, lakukan sekedarnya. selanjutnya optimislah pada bangsa kita, masyarakat tidak hancur, yang mengatakan hancur sesungguhnya dialah yang menghadap kebinasaan. So, be fight guys!

Nur Kholilah Mannan,  Santri Nurul Islam Dasuk Sumenep, PP Al-Amien Prenduan Sumenep dan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6987809693875107492

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA