Menguji Kontra-Persepsi Konsep Merdeka Belajar
Di Tengah Pandemi Covid 19


Oleh: Hanafi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengawali program di kementeriannya dengan mengusung konsep merdeka belajar. Merdeka belajar menjadi salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang ingin menciptakan suasana belajar bahagia (happy learning). Tujuan merdeka belajar adalah para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia, lepas, dari berbagai tekanan
.
Seringkali guru, siswa, bahkan orang tua merasakan tekanan berat ketika berhadapan dengan pembelajaran. Mulai beban administrasi, prestasi, nilai, kesejahteraan, keuangan, sampai hubungan interaksi pendidikan yang kurang baik. Di tengah pandemic Covid 19 sudah memasuki babak baru dalam model pembelajaran yang akan beralngsung.

Babak baru inilah setelah selama beberapa pekan terakhir model pembelajaran yang biasanya secara tatap muka berubah menjadi secara daring akibat adanya wabah Covid 19. Namun tepatanya pada tanggal 15 Juni 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Agama Kementerian Kesehatan Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemic Covid 19 dengan beberapa agenda diantaranya pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, pendidikan tinggi, hingga pesantren dan pendidikan keagamaan akan kembali mengaktifkan proses pembelajaran meskipun dengan model berbeda-beda.

Untuk tingkat anak usia dini hingga tingkat menengah akan kembali mengaktifkan pembelajaran secara tatap muka namun dengan syarat-syarat tertentu sementara bagi pendidikan tinggi kembali aktif meskipun masih model secara daring. Bagi Nadiem alasan tidak mengaktifkan pembelajaran dengan tatap muka secara menyeluruh dari tingkat sekolah dini hingga pendidikan tinggi memiliki alasan tertentu selain potensi massa berlebihan dan potensi kemampuan keefektifan dalam proses pembelajaran. Pendidikan tinggi dianggap lebih besar mengadopsi pembelajaran secara daring karena dinilai lebih efektif dan lebih siap ketimbang tingkat sekolah dini hingga menengah.

Munculnya konsep merdeka belajar membuat masyarakat menunggu implementasi perubahan yang sangat diharap akan membawa dampak ke arah lebih baik dalam dunia pendidikan. Makanya di tingkat sekolah seperti SMP, SMA atau yang lainnya diharapkan mampu menciptakan kualitas inovasi, kreasi, keterampilan, dan lain-lainnya. Utamanya bagi seorang guru yang memiliki amanah besar sehingga dituntut untuk bijak dalam bertindak seperti mencari model yang efektif dan tepat terhadap murid-muridnya.

Di samping lain, Nadiem sangat menginginkan anak-anak muda dapat didorong sesuai dengan keinginan dan kemampuanya di bidang masing-masing dengan konsep merdeka belajar ini. Nadiem percaya passion yang dimiliki tiap-tiap anak-anak muda secara otomatis akan menyebar ke orang-orang sekitarnya yang kemudian bisa menjadi inspirasi untuk sesamanya. 

Keinginan Nadiem ini bisa dikatakan searah dengan ide pedagogi yang dicetuskan Paulo Freire, dimana pedagogi membantu murid untuk memahami makna dibalik teks buku belajar dan berani memikul tanggung jawab dari keputusan kehidupan yang akan diemban sang murid sehingga murid akan lebih cenderung menjadi pribadi yang lebih kritis dan bersifat inklusif dalam keterbukannya menghormati, menghargai , dan toleransi karena nuansa demokratis sudah terbiasa tercipta di dalamnya dalam mengemukakan pendapat.

Namun ada beberapa catatan bagi Nadiem dalam menurunkan konsep merdeka belajar terhadap dunia pendidikan apalagi di tengah pandemic Covid 19 yang notabenya juga mengharuskan membatasi ruang gerak baik guru dan murid ketika proses pembelajaran berlangsung dengan kawalan protokol ketat dari kesehatan.

Dikutip dari jpnn.com, empat organisasi profesi guru melakukan evaluasi dengan mempertanyakan dengan jelas terhadap program yang di usung Kemendikbud, salah satunya adalah pernyataan Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim pada waktu diskusi daring dengan tema “Evaluasi Kebijakan Pendidikan Nasional sebagai Bagian dari Desain Cetak Biru Pendidikan Indonesia besutan Vox Populi Institute Indonesia”, yang beliau mengatakan merdeka belajar sama saja dengan Indonesia terserah. Yang penting sudah diluncurkan programnya, mau terlaksana atau tidak terserah.

Ramli mengungkapkan Guru Indonesia (IGI) memberikan nilai C kepada Mendikbud Nadiem karena selama enam bulan bekerja tidak ada gebrakan yang bisa membantu meningkatkan mutu pendidikan. Bukan tanpa alasan,  Merdeka belajar yang diluncurkan dinilai masih sebatas turun namun tanpa dijabarkan seperti apa dan bagaimana sehingga di tingkat bawah tidak akan terjadi salah persepsi tentang program tersebut, Ucapnya’’.

Artinya menurut penulis yang dimaksud Ramli adalah masih belum menemukan jalan satu persepsi bersama bagi masyarakat yang siap operasional dalam mengimplementasikan konsep merdeka belajar yang baru diturunkan oleh Nadiem ini dalam menjawab persoalan-persoalan pendidikan terlebih di tengah wabah Covid 19 ini. Hal tersebut selain menjadi PR bagi Kemendikbud dibutuhkan sosialisasi-sosialisasi yang terintegrasi mengenai program yang dirancang oleh Nadiem terhadap berbagai daerah dari sabang hingga merauke dengan menurunkan tim khususnya yang mungkin masih banyak kurang dimengerti atas program yang diusung.

Juga menjadi PR bagi guru-guru yang ada di Indonesia untuk selangkah lebih maju dengan selalu mempersiapakan semaksimal mungkin dalam mensukseskan konsep merdeka belajar di sekolah. Oleh karenanya, cepet atau lambat tahun ajaran baru 2020/2021 tinggal menghitung beberapa hari lagi akan aktif kembali di dunia pendidikan sehingga dengan segala jiwa-jiwa yang bersih memandang tetap optimistis membangun gotong royong sesuai falsafah budaya Bhineka Tunggal Ika dengan memberikan yang terbaik terhadap dunia pendidikan di Indonesia yang itu merupakan nilai jihad bagi kita semua sebagai warga Indonesia.

*****

Hanafi, lahir di Sumenep Madura, 31 oktober 1998. Saat ini sedang aktif kuliah di Jurusan Tarbiyah Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, semester enam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura di Pamekasan. Ia penah aktif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah IAIN Madura Angkatan 2017. Kini bertempat tinggal di Jalan Mahoni II No 36 Pangarangan Kecamatan Kota Sumenep,




MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2136852611776722281

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA