Man Jadda Wajada


Cerpen: Siti Azhara

“Fatimaaaaaaa…” Teriak ayah dari ruang keluarga.
“Iya ayah baiklah.” Jawabku dari dalam kamar.
”Ada apa ayah?” Tanyaku sembari duduk di hadapan ayah.
“Ada yang ingin kami bicarakan kepada kamu.” Wajah ayah terlihat serius.
“Bicara tentang apa Buk?” Tanyaku pada ibu yang sedari tadi diam tidak bersuara.
“Kamu kan sudah lulus Madrasah Tsanawiyah, kami ingin memasukkan kamu ke dalam Pondok Pesantren,” jawab ibu dengan tenang.
“Hah???? Pondok Pesantren? Oh nooooooooo! Ayah sama ibu serius mau memasukkan Fatima ke Pondok Pesantren? Nanti Fatima gak bisa main lagi sama temen-temen Fatima, nanti Fatima gak bisa keluar,” jawabku sembari memasang muka memelas agar ayah dan ibu kasihan padaku.
“Iyaaa nak. Kamu harus mandiri nak. Kami rasa kami sudah cukup memanjakan kamu nak! Kamu harus masuk pesantren biar kamu mandiri, biar kamu mengenal Islam sesungguhnya nak!” ujar ayah dengan yakin.
“Tapi kan Fatima mau masuk SMA favorit yah,” bantahku.
“Tidak nak! Kamu harus masuk pesantren,” ayah menegaskan pernyataannya.
“Tapi Fatima takut Ayah. Pondok pesantren itu gak seperti rumah, di pondok gak bebas, pondok pesantren itu kumuh dan sempit. Pasti Fatima gak betah,” jawabku sambil bergidik ngeri membayangkan suasana pondok pesantren di benakku.
“Tidak nak, pondok pesantren itu gak seperti yang kamu bayangkan. Di pondok pesantren itu kamu lebih dewasa dan lebih mandiri lagi,” ibu menepis bayangan pondok di pikiranku.
“Yasudah Fatimah mondok tapi ditemenin Ibu ya,” pintaku manja pada ibu.
”Yaaa enggak bisalah, kamu harus di pondok sendiri dan berbaur sama temen-temen kamu. Tanpa Ibu dan Ayah,” ibu menolak pintaku.

Tibalah saat Ibu dan Ayah mengantarkanku ke pondok pesantren. Rasanya aku tak sanggup berpisah dengan mereka.

“Nak sekarang waktunya kamu masuk ke kamar pondok kamu nak,”. Kata ibu padaku.
“Tapi Fatima belum siap untuk masuk pondok pesantren ini Buk. Fatima gak bisa bahasa Arab buk gimana nanti?” Jawabku sambil menahan tanggis.
“Enggak apa nak, kamu pasti bisa. Yang penting kamu harus sabar menghadapi cobaan,” ibu mencoba tegar, padahal kutau Ibu sangat sedih.
“Iya nak! Ayah juga ingin melihat kamu menjadi orang yang baik nak. Harapan ayah tak banyak, kelak jika kami orangtuamu telah tiada maka jangan lupa doakanlah kami,” timpal Ayah.
“Iya Ibu. Tapi Fatima belum siap berpisah sama kalian. Fatima hanya ingin bersama sama Ayah dan Ibu,” air mata yang sejak tadi kubendung akhirnya tak tertahankan lagi.
“Tenang saja anakku, kamu akan menemukan teman yang baik di sini. Yang akan membimbingmu kepada kebaikan, yang penting kamu jangan lupakan pesan ibu ya, Apa tujuan kamu masuk pondok pesantren ini semoga karena menggapai ridho Allah SWT. Ikuti aturan di pondok nak jangan sampai membuat pelanggaran! Jaga kesehatanmu nak! Taatlah pada gurumu, jikalau gurumu marah itu untuk kebaikanmu juga. Jadi jangan sampai kamu menyimpan dendam apalagi benci kepada gurumu yang mengingatkanmu akan kesalahanmu. Justru kamu harus berterima kasih kepada guru yang marah karena itu merupakan kepeduliannya mengingatkanmu ketika kamu salah” ibu menarikku dalam dekap hangatnya.
   
Malam minggu para santriwati berbeda dengan malam minggu remaja seusianya diluaran sana. Pesantren mengadakan acara yaitu Muhadhoroh. Acara ini dilaksanakan di aula santri wati dimulai pada jam 20:00 WIB, yang manjadi pembawa acara pada Muhadhoroh Akbar ini ialah Aisyah Humairoh santriwati asal Bandung, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Anindia santriwati asal Palembang dan Pidato pertama ialah Zulaikha Nafisah satriwati asal Jakarta dan pidato kedua ialah Fatima Azzahra santriwati asal Surabaya.

Malam ini acara berbahasa Arab. Aku bertugas sebagai pembicara kedua. Sebenarnya aku tidak tahu mengapa pengurus memilihku padahal, aku tidak pandai dalam bahasa Arab.

Ketika tiba saatnya pembawa acara memanggil namaku. Hatiku berdetak tak karuan. Aku sudah berupaya menghafal isi pidato. Namun, apalah daya nyatanya ketika sampai panggung seketika hafalanku hilang entah kemana, mungkin inilah yang sering dinamakan demam panggung.

Aku tidak tau apa yang akan kusampaikan akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pidato ini. Teriakan dan sorakan para santriwati tak kuhiraukan. Dari sini aku belajar bahwa perjuangan di pondok pesantren itu tidak semudah seperti yang kubayangkan. Usaha tanpa kesungguhan dan keyakinan serta doa maka akan sia-sia.

“Yaa Allah ampuni dosa hamba dan dosa orangtua hamba. Kenapa hidup dipesantren itu sulit sekali. Aku gak betah disini padahal aku pengen menjadi orang baik,” batinku menanggis membayangkan sakit hati dengan perkataan mereka yang merendahkanku karena pidatoku yang kacau.

Semenjak kejadian memalukan itu, aku berjanji aku bersungguh-sungguh dalam mengembangkan diri dan belajar lebih giat lagi.

Beberapa bulan kemudian

Untuk kedua kalinya diriku mendapat kesempatan menyampaikan pidato di depan para santriwati. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Alhamdulillah hasilnya memuaskan lebih baik daripada pidato pertamaku dan akhirnya para mualimah mengutuskanku untuk mengikuti lomba pidato dalam rangka hari santri nasional se Jawa Timur.

Hari demi hari kujalani dengan latihan berpidato yang di ajarkan langsung oleh pengurus yang menguasai bahasa Arab dan mahir berpidato.

Tibalah hari yang menegangkan. Para peserta lomba berasal dari pondok pesantren ternama. Mereka sedari kecil menempuh pendidikan di pondok pesantren dan pastinya mahir berbahasa Arab. Sedangkan diriku, yang baru beberapa bulan masuk lingkup pesantren. Ada rasa menciut nyaliku ketika membandingkan mereka dengan diriku. Membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri apalagi sampai melihat mereka berpidato. Tak sabar ku menanti detik-detik menegangkan.
Dengan Bismillahhirrahmannirrohim maka kulakukan semua dengan optimal dan masalah hasil kuserahkan semuanya pada Allah semata.

Tak disangka ketika juri mengumumkan pemenang lomba pidato tingkat nasional dalam rangka hari santri nasional. Namaku disebut sebagai juara 3. rasanya seperti bermimpi disiang hari. Aku dipanggil kedepan dan mendapatkan hadiah senilai 2 juta rupiah. Alhamdulillah proses tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Man jadda wajada ‘siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil’. Aku percaya dengan mahfudzot yang diberikan ustadz, bahwa kesungguhan menumbuhkan harapan, sikap positif, dan memperbesar peluang berhasil bagi yang melakukannya. Keterbatasan fisik bukan menjadi dalih untuk tidak dapat meraih impian.

“Sesungguhnya Allah SWT tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-ra’ad : 11)

🌺🌺🌺🌺🌺

Siti Azhara, lahir di Kalimantan Selatan, 26 Desember 2000, kini bermukim di Asrama putri kampus IDIA Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Pendidikan dimulai dari SD N Antasan Besar 1 Banjarmasin (2006-2010),SD N 28 Lahat Sumatera Selatan (2010-2012), MTs Negeri Lahat Sumatera Selatan (2012-2015),  MA Negeri 1 Lahat Sumatera Selatan (2015-2018) dan sekarang kuliah di Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan. Cita-cita ingin menjadi Pendakwah dan Pengusaha. Hobby membaca, menulis, makan
Sekarang aktif di AJMI (Aliansi Jurnalistik Muda IDIA Prenduan).email : Sitiazhara2000@gmail.com, Twitter : @SitiAzahra26, Fb : Siti Azzahra, nomer kontak  +6282280728299

Motto : Bila di puji tak akan terbang dan Bila di hina tak akan tumbang






MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 5767924201037211461

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA