Catatan Harian Mary Willow


Cerpen: Kinanthi Yuarsyanda KH.

“Ouch!”, sesuatu menghantam kepalaku. Ketika kulihat, ternyata sebuah buku bersampul ungu pudar dan kusam dengan ornamen bunga yang cantik. Sepertinya buku itu jatuh dari rak atas. Kupikir normal saja jika ada benda jatuh ketika membersihkan loteng di rumah baru. Ya, aku baru saja pindah. Sebelumnya aku tinggal di Florida bersama kakakku. Tapi aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu  universitas ternama di New York, dan tak mungkin kutolak.

Aku turun ke bawah dengan buku cantik itu di tanganku. Buku itu terlihat menarik meski sudah kusam. Relief timbul bunga Lilac ungu dan sulur-sulur di sampulnya, ukiran yang elok dan warna ungu yang terkesan magis. Seolah ada sebuah negeri berjuta misteri di balik lembaran kertas di dalamnya. Puas memandangi sampul buku depan dan belakang, kuputuskan untuk membacanya. Tak lupa membuat secangkir kopi. Kurasa malam ini akan sangat panjang.

Akhirnya, di sinilah aku. Di ruang belajar baruku yang juga kusulap menjadi perpustakaan kecil. Kopi di sebelah kananku, tumpukan buku di sebelah kiriku, dan buku bersampul ungu di depanku. Kubuka buku itu perlahan. Halaman pertama berisi tentang biodata pemilik yang tertulis rapi. Pemiliknya bernama Mary Willow. Gadis kecil berusia 8 tahun. Tulisannya sangat rapi di usianya.

“Dear Diary, hari ini ibu membelikanku buku harian. Warnanya ungu karena aku pernah bilang kalau aku suka warna ungu. Ibu bilang aku harus mengisinya setiap hari. Meski hanya satu kalimat atau satu kata. Aku akan mendapat hadiah kalau terus menulis setiap hari.”
Berhenti. Hanya satu paragraf di halaman pertama. Isinya sangat manis. Kubuka lembaran berikutnya. Isinya lebih panjang daripada yang sebelumnya, membahas tentang kesehariannya di sekolah atau di rumah. Aku tertawa kecil membacanya. Sungguh anak yang manis. Kuselingi membaca dengan menyeruput kopi pelan-pelan.

“Dear Diary, hari ini sangat luar biasa! Kalau saja Lilac ada dan Brand tidak melempar topi Anne ke atas pohon, pasti hari ini akan sempurna!
Ibu juga memberiku hadiah karena aku rajin menulis. Dan aku mendapatkan hadiah sebuah boneka kelinci yang sangat imut! Aku memberitahu Lilac tentang hadiahku. Tapi dia hanya tersenyum. Kuharap Lilac baik-baik saja. biasanya dia akan sangat cerewet bersamaku. Tapi seperti biasa, ibu tidak suka kalau aku menemui Lilac. Sudah dulu di sini! Ibu memanggil untuk makan malam.”


Tak terasa secangkir kopiku telah habis. Aku berhenti membaca sejenak untuk mengambil kopi lagi. Kutinggalkan buku itu di atas meja begitu saja tanpa menandainya. Setelah membawa secangkir kopi baru, aku kembali duduk tenang di hadapan buku yang tertutup. Tunggu..., bukankah tadi bukunya terbuka? Mungkin angin, gumamku.

Kembali kubuka buku itu. Kubuka lembar demi lembar mencari halaman terakhir yang kubaca. Lalu aku berhenti di suatu halaman. Sekilas terlihat seperti halaman yang tadi, tapi kini ada coretan di beberapa kata dan seperti ada tambahan kata yang terlihat baru. Bercak tinta hitam mengotori meja dan kertas. Tapi aku tak melihat pena yang tadi kuletakkan di sudut meja.

“Tolong bacalah terus... Kumohon!”

Bulu kudukku berdiri. Tulisan ini baru! Tiba-tiba seperti ada yang meniup tengkukku. Seolah di perintah, aku lanjut membalik halaman buku.

“Ibu menemukan gambar-gambarku bersama Lilac yang kusembunyikan di bawah kasur! Ibu sangat marah dan melempar semuanya ke dalam perapian.”

Mataku  membulat. Semakin lama tulisan itu semakin menyerupai cakar ayam.

“Aku langsung berlari ke tempat aku dan Lilac biasa bertemu. Di batu tua dekat pohon besar. Aku menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya dan dia terlihat sangat marah. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang meniup padang bunga Lilac di sekeliling runtuhan rumah  tua tak jauh dari sana. Lilac bilang sebaiknya aku pulang dan dia bilang jangan sampai ibuku membaca buku harianku.”

Aku menahan napas. Sejenak memejamkan mata. Lalu kembali melanjutkan membaca halaman berikutnya, meskipun semakin sulit dibaca.

“Gawat! Ibu membaca buku harianku! Ibu langsung mengamuk dan menyeretku ke salah satu kamar. Ibu memukul dan mencakarku sambil berteriak sesuatu yang tidak kumengerti. Terakhir, dengan sisa kesadaranku. Ibu menyeret tubuh remukku ke dalam sebuah lubang. Aku mencoba memanggilnya tapi tak ada satu pun suara yang keluar. Setelah melemparku ke dalam lubang, aku merasa ada tanah jatuh menimpaku.”
Aku tak ingin membuka halaman selanjutnya, tapi tanganku terus bergerak sendiri di luar kuasaku.

Ibu menguburku hidup-hidup di sebuah kamar yang kini menjadi ruang belajar seseorang. Aku tidak ingin mengganggunya karena kurasa dia orang yang baik. Kuharap dia mau membantu menguburkanku. Kumohon, tolong kuburkan aku di dekat batu tua dekat pohon besar. Itu kuburan Lilac. Dia sudah menantiku di sana jauh sebelum ibu menguburku.”

Aku mengerjapkan mata. Seketika aku melihat semacam retakan kecil di lantai kayu. Tanpa basa-basi aku langsung menggeser meja dan membongkar lantai kayu itu. Dan aku melihatnya. Kerangka Mary Willow sambil memegang pena milikku yang tadi hilang.

๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿซ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿซ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿซ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿซ๐Ÿ‘ฉ‍๐Ÿซ

Kinanthi Yuaryanda Kh., Lahir di  Sumenep, 20 Februari 2020, bertempat tinggal di  Desa Banasareh – kec. Rubaru – kab. Sumenep Anak ke dua dari dua bersaudara ini suka pelajaran science dan menjuarai berbagai lomba serta olimpiade. Suka menari sejak kecil juga suka menggambar doodle, manga. Suka catur juga. Prestasi menulis sebelumnya belum ada . Kinan suka menulis tapi belum terpupuk dengan baik. Waktu SD pernah ikut lomba menulis cerpen tapi tanpa bimbingan  Tahun ajaran baru 2020 ini, masuk SMAN 1 Sumenep.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1078241114576562204

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA