Bahasa Madura Sebagai Strategi Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Indonesia


 Iqbal Nurul Azhar *)

Bahasa Indonesia yang berinduk pada rumpun bahasa Melayu dikenal sebagai bahasa perdagangan antar bangsa, atau yang dikenal sebagai ''Lingua Franca''. Bahasa ini kemudian disahkan dalam Sumpah Pemuda sebagai Bahasa Pemersatu dan telah lama menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sayangnya bahasa ini memiliki sebuah kelemahan. Kelemahan ini terletak pada perbendaharaan katanya yang sedikit. Karena sedikitnya perbendaharaan kata inilah maka bahasa Indonesia meminjam banyak kata dari bahasa lain. Semakin lama pinjaman ini semakin banyak dan jumlahnya bahkan nyaris sama dengan jumlah kosakata asli bahasa Indonesia. Sejalan dengan waktu, akhirnya bahasa Indonesia “terjajah” oleh bahasa asing tersebut. Ba hasa Indonesiapun mulai kehilangan jati dirinya.

Seringnya kita menggunakan istilah asing tidak bisa dipungkiri dapat menggeser nilai identitas keindonesiaan dan nilai kesatuan kita. Padahal, nilai luhur ini sangat mahal harganya. Salah satu jalan untuk mengembalikan bahasa Indonesia menjadi Bahasa Persatuan adalah dengan cara memberi kesempatan kepada kekayaan dan keragaman bahasa lokal di tanah air untuk menambah perbendaharaan kata bahasa Indonesia.

Jika ada kata yang tidak dikenal atau tidak ada istilah bahasa Indonesianya, sudah selayaknyalah kita merujuk kepada perbendaharaan kata bahasa daerah, bukan kepada bahasa asing. Bahasa Madura yang kaya akan istilah kedaerahan bisa diandalkan untuk urusan ini. Seperti contoh kata tandem yang berarti pasangan dalam bahasa Inggris, jika bangsa Indonesia kesulitan menemukan padanan katanya, maka bangsa Indonesia bisa mengambil kata kante’ dalam bahasa Madura. Demikian juga kata airplane atau aircraft, yang artinya pesawat terbang, bisa digantikan dengan kata tormolok yang memiliki arti sama.

Dengan partisipasi dari bahasa Madura inilah justru akan timbul rasa turut ikut mendukung dan mewakili kekayaan dan ketinggian bahasa Indonesia, serta juga akan dapat menimbul perasaan turut memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Inilah yang bisa menjadi salah satu solusi mempersatukan bangsa kita.

Berdasarkan latar belakang inilah artikel ini ditulis. Artikel ini secara umum memaparkan dua hal yaitu (a) alasan mengapa bahasa Madura layak dijadikan sumber kosakata yang dapat diserap dalam kaitannya mengembangkan bahasa Indonesia, dan (b) beberapa contoh kosakata bahasa Madura yang mampu menggantikan kosakata bahasa Inggris yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia dan beberapa kata dalam bahasa Madura untuk diserap sebagai kosakata nasional karena tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, dan (c) strategi pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia melalui penyerapan kosakata bahasa Madura. Informasi yang dipaparkan dalam artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia di masa yang akan datang.


Potensi Bahasa Madura

Tertumpunya perhatian pembangunan nasional pada bahasa Indonesia secara tidak langsung memberikan kontribusi terhadap kurangnya perhatian yang dicurahkan pada bahasa Madura. Padahal bahasa Madura memiliki peranan yang signifikan dalam mempertahankan dan mengembangkan bahasa Indonesia. Ada dua peranan besar yang dapat dimainkan bahasa Madura yaitu: (a) eksistensi bahasa Madura adalah pelindung bahasa Indonesia dari serangan bahasa asing (b) bahasa Madura merupakan komponen penyumbang kosakata terhadap bahasa Indonesia, (Azhar, 2008: 16-19)

Keberadaan Bahasa Madura Adalah Pelindung Bahasa Indonesia Dari

Serangan Bahasa Asing

Bahasa Madura memiliki peranan vital yaitu sebagai baju pelindung bahasa Indonesia dari serangan bahasa asing. Baju pelindung dalam hal ini didefinisikan sebagai watak masyarakat Madura dalam menjaga dan melindungi apa-apa yang dimilikinya. Jika bahasa Madura mampu bertahan hidup, semata-mata itu karena watak penggunanya yang bertanggungjawab dan berkepribadian baik. Jika masyarakat Madura memiliki watak yang baik, maka mereka tidak akan pernah rela kehilangan bahasa yang telah mereka punyai dan mereka gunakan yaitu bahasa Madura.

Jika masyarakat Madura hanya berdiam diri saja dan tidak mau perduli terhadap keberlangsungan bahasa ibu mereka, maka bahasa Madura akan berada diambang kemusnahan. Jika bahasa ini benar-benar punah, maka bangsa Indonesia dan juga bahasa Indonesia akan rugi besar. Logikanya, jika bahasa Madura punah maka ini jelas menunjukan betapa tidak bertanggungjawabnya masyarakat Madura terhadap budaya, bahasa lokal dan lingkungan mereka sendiri. Kepribadian buruk ini apabila dipertahankan dan tidak diambil tindakan akan berimbas pada bahasa Indonesia. Memang, apabila bahasa Madura punah masih akan ada bahasa Indonesia yang akan menggantikan bahasa Madura tersebut. Namun apakah ada jaminan bahasa Indonesia inipun tidak akan punah, sedang kita semua paham bahwa orang Madura ternyata tidak mampu menjaga bahasanya dan membiarkannya punah? Apakah akan ada jaminan bahwa orang Madura akan tetap mempertahankan bahasa Indonesia dari serangan gencar bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan China, sedangkan pengalaman telah menjelaskan bahwa masyarakat Madura tidak mengambil satu tindakanpun ketika bahasa ibu mereka berangsur menghilang?

Mempertahankan keberlangsungan hidup bahasa Madura secara tidak langsung telah mengajarkan kepada masyarakat Madura untuk bertanggungjawab terhadap kondisi sosial masyarakat mereka sendiri. Jika mereka mampu melakukan ini, maka mereka akan mampu pula mempertahankan bahasa Indonesia.
  1. Bahasa Madura Sebagai Bahasa Sumber Serapan
Bahasa Madura memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai Bahasa Sumber Serapan (BSS) bahasa Indonesia. Ada dua hal yang dapat dijadikan alasan mengapa bahasa Madura layak dijadikan BSS bahasa Indonesia antara lain: (a) posisi bahasa Madura sebagai bahasa lokal dengan jumlah penutur terbanyak keempat di Indonesia, dan (b) ikatan budaya masyarakat Madura yang kuat menyebabkan bahasa Madura diyakini memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi
  1. Posisi Bahasa Madura
Diantara beragam bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Madura merupakan salah satu bahasa daerah yang terhitung besar. Hal ini disebabkan karena penuturnya berada dalam posisi ke empat setelah penutur Jawa, Melayu, dan Sunda. Penutur bahasa ini diperkirakan berjumlah lebih dari 7% dari keseluruhan populasi bangsa Indonesia. Dewasa ini, sekitar tiga hingga empat juta orang Madura mendiami pulau Madura, sedang sisanya, sebanyak sembilan hingga sepuluh juta orang Madura tinggal di Jawa (Wikipedia, 2006). Kantong masyarakat Madura juga dapat dijumpai di Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi. (PJRN: 2006).

Tersebarnya masyarakat Madura di seluruh Indonesia menyebabkan bahasa Madura menjadi bahasa yang “tidak asing di I ndonesia.” Salain karena faktor interaksi penutur bahasa Madura dengan penutur bahasa lain, faktor media massa terutama film, sinetron dan lagu juga turut membantu proses pengenalan bahasa ini. Bintang film dan sinetron seperti Kadir, dan Buk Bariyah secara tidak sengaja, meskipun kadang tidak merepresentasikan bahasa Madura yang sesungguhnya, menjadi sosialisator bahasa Madura sehingga bahasa Madura menjadi lebih dikenal luas masyarakat Indonesia. Demikian juga lagu-lagu, telah turut serta mempromosikan bahasa Madura. Lirik lagu Ancor pessena tellor, yang dinyanyikan oleh Imam S. Arifin dengan genre musik dangdut pernah demikian terkenal sehingga banyak orang menjadi paham beberapa kosakata bahasa Madura.

Dengan jumlah penutur yang banyak, tingkat sosialisasi dan interaksi yang tinggi bahasa dan masyarakat Madura dengan masyarakan daerah lain menyebabkan kosakata bahasa Madura dapat diserap dengan mudah oleh bahasa Indonesia.
  1. Kekuatan Ikatan Budaya Madura
Orang Madura membangun budaya yang besar dan kuat dalam masyarakat mereka. Mereka menjunjung tinggi ikatan kesukuan dan budaya. Mereka juga dikenal memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Karena faktor inilah, orang Madura jarang meninggalkan bahasa ibu mereka ketika berkomunikasi dengan seseorang yang sesuku dengan mereka. (PJRN: 2006)


Greenberg mendefinisikan bahasa sebagai kumpulan budaya turun temurun yang terwujud dalam pola-pola kebiasaan yang dilaksanakan oleh sekumpulan individu (Greenberg in Bell, 1981:23). Karena itulah bahasa akan digunakan dengan cara yang sama oleh pengunanya seperti digunakannya bahasa itu di masa lampau. Bahasa akan bertahan hidup selama proses transmisi bahasa ini terjadi dalam masyarakat. Cara penggunaan bahasa oleh masyarakat jaman dahulu adalah sama dengan cara penggunaan masyarakat jaman modern. Holmes (1992:3) menyebutkan bahwa “bahasa menyediakan variasi cara untuk menyeb utkan sebuah objek, menyapa dan memanggil seseorang, menggambarkan sesuatu, dan memberikan pujian” dan menurunkan variasi cara ters ebut pada generasi muda mereka.

Apabila dikaitkan dengan budaya masyarakat Madura yang dikenal kuat ikatan kesukuannya, maka diyakini proses transmisi bahasa pada generasi penerus akan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama selama ikatan kesukuan itu masih kuat. Hal ini berarti, meskipun bahasa Madura dikhawatirkan telah mulai menghilang penggunaannya dalam beberapa situasi seperti proses pengajaran di kelas, rapat-rapat dan kegiatan penting lainnya, kepunahan bahasa Madura tidak akan pernah terjadi selama proses transmisi budaya berlangsung. Andaikata kepunahan ini terjadi, proses kepunahannya pun diyakini tidak akan terjadi dalam jangka waktu dekat.

Kemampuan penutur Madura untuk mempertahankan bahasanya dapat menjadi faktor pertimbangan mengapa bahasa Indonesia dapat menyerap kosakata bahasa Madura. Menjadi hal aneh apabila bahasa Indonesia banyak menyerap kosa kata bahasa Madura padahal bahasa Madura sendiri telah punah karena penuturnya tidak mampu melestarikannya.

Keunikan dan Kekayaan Bahasa Madura

Bahasa Madura adalah bahasa yang unik. Selain karena mengenal tingkatan bahasa yaitu Enja’-Iyah (bahasa kasar), Enggi-Enten (bahasa menengah) dan Enggi-Bunten (bahasa halus), bahasa Madura memiliki karakter khusus terutama dalam kosakatanya yang banyak mengenal bunyi “letup” seperti kata saba’ (meletakkan) dan lagghu’ (besok). Karakter khusus yang lain adalah banyaknya konsonan yang muncul dalam sebuah kata semisal lebbhak (muara) dan bhajjrah (mujur).

Dua keunikan ini menjadikan bahasa Madura berbeda dengan bahasa daerah lainnya. Apabila seseorang yang berasal dari suku bangsa lain mempelajari bahasa Madura, pada mulanya mungkin dia akan mendapati hambatan yang berhubungan dengan dua karakter tadi. Namun sisi positifnya, karena keunikan bahasa Madura inilah, sebuah kosakata dalam bahasa Madura apabila telah diingat dan dipahami maknanya tidak akan pernah dapat dilupakan oleh orang yang belajar bahasa Madura tersebut.

Secara umum, bahasa Madura juga memiliki kelemahan seperti bahasa Indonesia yaitu kosa katanya yang terbatas. Terbatasnya kosa kata ini banyak terjadi dalam aspek kosakata yang berhubungan dengan teknologi dan sains. Sama seperti bahasa Indonesia, kelemahan ini diatasi dengan cara meminjam kosa kata dari bahasa lain semisal bahasa Indonesia, Arab dan beberapa kata dari bahasa Inggris. Meskipun demikian, dalam hal-hal tertentu bahasa Madura lebih kaya dari bahasa Indonesia, Inggris maupun Arab. Seperti contoh dalam aspek mistik dan supranatural, bahasa Madura memiliki perbendaharaan lebih banyak dari bahasa lain utamanya bahasa Indonesia. Bahasa Madura memiliki lebih dari 7 kata asli Madura untuk merujuk pada sebuah objek yaitu “ hantu.” Kosakata seperti Bi ibih, Din dhadin, Li’ balik bukkak, Tang makong, Dano, Tak cetak, Temangmang, adalah kata-kata asli bahasa Madura yang merepresentasikan objek “hantu.”

Dalam konteks pertanianpun bahasa Madura lebih kaya dari bahasa Indonesia, Arab maupun bahasa Inggris. Bahasa Madura kaya kosa kata dalam menjelaskan tumbuhan kelapa. Ada setidaknya 16 kata digunakan untuk menyebut bagian-bagian dari pohon kelapa seperti Janor, Manggar, Bluluk, Cengker, Ro’ merro’, Beggan, Klareh, Ombu’, Baluggu ng, Karocok, Lenteh, Ompay, Ramo’, Seppet, Bhetok, Tapes dan Parseh.

Bahasa Madura juga kaya akan kosakata yang mengacu pada nama hewan. Setidaknya ada 14 kosakata yang dimiliki bahasa Madura untuk menamai nama anak hewan seperti Kapendhit (anak gajah), Dil gudhil (anak kerbau), Bellu’ (anak kuda), Cemmeng (anak kucing), Pejji (anak burng dara), Re-merre (Anak itik), Empe’ (anak sapi)

Demikian juga dalam hal yang berhubungan dengan kelautan, bahasa Madura terkenal dengan kosakatanya yang luas seperti ebi (udang kering), tatapan (lantai kapal), solo (mencari ikan di malam hari dengan memakai lampu petromak), polangan (kayu ukuran 8x20 m x lebar perahu yang digunakan sebagai penyekat bagian atas di atas sekaligus sebagai tempat duduk), Senggi’ (makhluk kecil yang biasa ada dipantai), pordo (tulang perahu yang berada pada bagian atas sebagai batas papan), te’ lente’ (as panjang yang ada pada mesin perahu)

Jika dikaji lebih mendalam berdasarkan contoh-contoh di atas, maka akan semakin jelas terlihat potensi dan kekayaan bahasa Madura dalam hal kosakata. Dalam tataran tertentu, kosa kata bahasa Madura lebih kaya daripada kosa kata bahasa Indonesia. Bahkan untuk hal-hal yang berbau jorok dan tidak sopan sekalipun pun semisal kosakata untuk menyebut jenis kotoran dan membuat kalimat makian, bahasa Madura jauh lebih kaya dari pada bahasa Indonesia. Bahasa Madura mengenal sedikitnya 4 kata untuk menyebut kotoran yaitu clattong (kotoran sapi, kuda, unta dan kerbau) temanco’ (untuk unggas), cerek dan taeh untuk manusia. Bandingkan dengan bahasa Indonesia yang hanya mengenal kata (maaf) tahi untuk merujuk pada semua jenis kotoran. Demikian juga dalam hal makian, bahasa Madura mengenal setidak-tidaknya 34 jenis makian yang berbeda (Damanhuri, 2008)

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7031241974283583880

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA