Pasukan Hijau Desaku



Cerita: Nayzak Amatillah

Suasana di depan rumahku sudah mulai terdengar hiruk-pikuk. Sejak pagi banyak mesin- mesin berat seperti ekskavator, bulldozer dan crane mulai bekerja menggali bebatuan dan meratakan tanah di jalan depan rumahku. Beberapa dump truck berseliweran mengangkut tanah yang sudah dikeruk oleh ekskavator. Debu-debu beterbangan. Beberapa pohon di depan rumahku yang berfungsi sebagai peneduh sudah mulai tumbang. Udara semakin terasa panas

“Sudahlah Nay, jangan minum es terus nanti batukmu makin parah!” tegur mama menatap adikku yang membuka kulkas.

“Haus, Ma. Enggak tahan, panas sih!” gerutu adikku.

“Buka jendala kamarmu! Istirahat saja di kamar!” perintah mama.

Dari jendela kamar yang terbuka lebar, aku menatap segerombolan anak sedang mencabut sesuatu di kebun dekat rumahku .

“Lumayan dapat yang gede. ” sorak Tia.

Dari jauh aku bisa melihat Tia dan teman-temannya tengah mencabut sesuatu. Sepertinya singkong.

Mereka adalah anak berandal yang sering berbuat nakal. Sekarang mereka memikul karung hasil curian. Mereka berjalan dengan santai tanpa takut dicurigai.

“Jangan, kamu tidak boleh bermain bersama mereka,“ kata mama saat aku minta izin akan bermain bersama mereka. Alasannya mama tak ingin anaknya ikut terpengaruh menjadi nakal seperti mereka.

Aku hanya menatap kecewa kawan-kawanku yang sedang bermain bola di ladang yang tak terpakai di dekat rumahku. Mereka terlihat sangat kompak, apalagi bila Si Tia mengajak mereka untuk berbuat nakal. Semua teman di sekolah madrasah, dan langgar tempat kami mengaji pernah jadi korban keusilan mereka. Tas Nayla pernah disangkutkan Rafi di pohon jati. Bukuku pun pernah disembunyikan oleh Tia.

“Aleita main bola yuk!” ajak Tia. Aku hanya menggeleng lemah.

“Kenapa?” y\tanya Tia.

“Enggak diizinin sama mama.” jawabku. Tia hanya menatapku sekilas lalu menendang-nendang bolanya.

Sudah hampir satu tahun kami tinggal dan pindah ke rumah baru kami. Awalnya mamaku senang karena rumah kami yang sekarang masih sepi, karena jauh dari jalan raya. Tidak seperti rumah kami dulu yang lokasinya pas di depan jalan raya. Apalagi rumah kami yang sekarang masih dikelilingi oleh banyak pohon. Di belakang rumah kamipun berupa bukit dengan pohon-pohon yang rimbun.

Jika pagi dan sore hari aku senang mendengar suara kicau bermacam jenis burung di sekeliling rumah kami. Kebetulan kakekku suka menanam pohon buah-buahan di halaman depan desa, kamipun tidak terlalu padat oleh penduduk karena terletak di desa pinggiran kota. Desa kami semakin memesona karena dilalui oleh sebuah sungai yang cukup lebar tempat anak-anak mandi bersama di siang hari.

Tapi sejak sebulan lalu kami harus merelakan halaman bagian depan rumah kami untuk pelebaran jalan. Pelebaran itu telah disetujui sebagai proyek ‘Jalan Lingkar Utara’ Rencananya jalan itu diperuntukkan bagi jalan menuju ke bandar udara sebelah utara di kota kami. Beberapa pohon kesayangan kakekkupun harus di bongkar . Sejak saat itu sudah jarang kudengar suara kicau burung di pagi dan sore hari.

Sebagai gantinya tiap pagi sampai sore terdengar suara mesin-mesin berat menggali tanah dan bebatuan serta meratakan tanah. Suara bising itu kadang membuat kami tergganggu. Hanya adik laki-lakiku saja yang senang melihat mobil-mobil itu. Dia memang suka mobil sejak dari kecil.

Debu yang beterbangan dan panas matahari terasa menyengat kulitku. Terbersit lagi penjelasan bu Rahma tentang Global Warming yang akhir-akhir ini mulai terasa dampaknya. Aku melihat desaku yang biasanya hijau dan subur sekarang terasa panas dan gersang.

“Hmm, kalau begini terus desa ini akan jadi rusak dan tak nyaman lagi.” gumamku sendirian.

“Door!” tiba-tiba terdengar suara dan sebuah tepukan mengagetkanku.

Aku menoleh, terlihat Tia nyengir sambil memutar-mutar bolanya.

“Kok melamun sih?” celetuk Isyana.

“Eh, desa kita kan gersang, kita tanami pohon yuk!” ajakku spontan.

“Menanam pohon? Untuk apa? Memang kami kurang kerjaan harus menanam pohon?” kata Tia menimpali usulku yang terdengar aneh.

“Eh apa kamu tidak merasa hari ini udara semakin panas?” ujarku.

“Eh Lit, sekarang tuh memang panas karena sekarang musim kemarau. Aneh kamu ini.” jawab Tia asal.

“Ah, kamu ini belum ngerti, ya?”. Udara sekarang jadi panas karena banyak pohon ditebang untuk pelebaran jalan. Apa kamu tidak merasa akhir-akhir ini sudah jarang burung-burung berkicau pada pagi dan sore hari?” jawabku sambil menjelaskan.

“Eh, iya juga ya” kata Tia sambil tertawa.

“Iya nih, kamu betul. Aku ingat pohon kan penghasil oksiren utama di sekitar kita. Dengan oksigen kita bisa bernafas dan udara terasa segar” kata Nana menimpali.

“Lagi pula pohon adalah tempat tinggal banyak hewan termasuk burung. Kalau pohon tidak ada maka banyak burung akan mencari tempat lain. Itulah sebabnya sekarang tak terdengar lagi kicau burung.” kataku menjelaskan . Mereka hanya mengangguk.

“Jadi bagaimana kalau kita tanam lagi pohon pohon disepanjang jalan desa ini?” usulku lagi.

“Sof, kamu setuju enggak?” celetuk Isyana. Sofi mengangguk tanda setuju.

“Kami setuju.” sofi memutuskan. Serempak mereka mengangguk.

Akhirnya kami putuskan bahwa besok, hari minggu kami akan mencari bibit tanamannya ke bukit di belakang rumahku.

Keesokan harinya,

“Ma…., mana sekop dan cangkulnya?”    kataku    sembari

memasukkan makanan dan minuman ringan kedalam ranselku “Buat apa?” selidik mama

“Mau cari bibit tanaman.” ucapku tanpa menoleh ke arah mama.

“Buat apa?” selidik mama mulai curiga.

“Menana pohom untuk desa kita yang sekarang mulai gersang.” ucapku santai.

“Ngambil di mana?” tanya mama lagi.

“Di bukit belakang rumah.” ucapku acuh.

“Sama siapa?” mama mulai curiga.

“Isyana, Tia, Dillah, sofi, dan teman-temannya. Tuh mereka sudah menunggu di luar boleh ya ma bujukku minta izin.

Dari raut wajah mama, sebenarnya ia ragu. Namun akhirnya ia menyerahkan juga cangkul dan sekop yang tadi aku minta. Aku segera mencium punggung tangan mama dan mengucap salam. Aku menuruni anak tangga yang berderak saat ku turuni. Dari luar aku masih mendengar suara salam mama. Di luar semua temanku sudah berdiri menunggu dengan tidak sabar.

“Ayo, Lit sudah siang keburu panas nanti.” Isyana menarik pelan lenganku.

Aku menurut saja lalu berjalan beriringan dengan mereka. Desa kami yang gersang semakin panas jika siang hari. Jalan yang agak menanjak semakin membuat kami merasa lelah. Kami semakin menjauh dari desa. Suasana perbukitan yang indah membuat kami mulai bersemangat mencari bibit tanaman. Beberapa bibit pohon jati dan mahoni kami temukan degan mudah.

Jika kami menemukan tumbuhan yang cocok ditanam di desa kami, langsung kami ambil. Kami bekerja keras sampai dhuhur. Setelah kami istirahat sejenak, kamipun lalu pulang ke rumah masing-masing untuk memulihkan energy yang akan kami gunakan besok.

Sesampainya di halaman rumah, Tia dan Sofi mengikutiku sambil memikul karung yang isinya bibit yang kami ambil di bukit tadi.

“Terima kasih ya sudah bantu aku. Aku mau langsung istirahat, aku sudah capek nih” ujarku.

“Enggak apa-apa kok. Oh ya mau diletakkan dimana karung ini?” tanya Tia .

“Oh iya, taruh disana ya sandarkan saja pada beton itu.” kataku sambil menguap lelah.

Mereka lalu menurunkan karung yang sejak tadi mereka pikul.

Mama yang sejak tadi melihat aku ,penasaran bertanya.

“Kamu bawa karung apa itu?” tanya mama sambil memeriksa karung yang teronggok di belakang dapur

“Bibit tanaman, Ma,” ujarku.

“Kami mau menanam pohon di sepanjang jalan desa agar desa kita tidak gersang lagi.” kataku sambil menaruh sekop dan cangkul kecil di kotak perkakas.

“Seharusnya jika mau ditanam kalian tidak boleh bawa bibitnya dalam karung. Nanti bibitnya rusak dan tak bisa ditanam.” kata mama sambil menatapku serius.

“Aduh! yang benar, Ma?” Jadi, kerja keras kami sia-sia dong!” kataku panik. Terbayang kerja keras temanku. Seandainya mereka tahu pasti mereka akan kecewa.

“Makanya, lain kali jika mau melakukan sesuatu, tanya dulu jika tidak tahu caranya.” ujar mama sambil tersenyum.

“Jadi, gimana ini, Ma?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah. jika kalian memang berniat untuk menanam pohon di sepanjang jalan desa ini, kamu ajak saja teman-temanmu untuk
sedalam 50 cm dengan jarak 2 m. Mama akan mencari bibit pohon dari teman mama di dinas pertanian. Jadi bulan depan bibitnya sudah bisa ditanam” kata mama.

“Terimah kasih, Ma!” seruku gembira sambil memeluk mama.

Esok harinya aku segera mengabari teman-tenmanku. Saat aku sampai di lapangan, mereka heran karena tidak biasanya aku bermain bersama mereka.

“Teman-teman, ternyata cara kita menanam bibit tanaman salah, sehingga tidak bisa ditanam.” aku berbicara langsung ke pokok permasalahan.

“Hah? Jadi sia-sia kita mengambil bibitnya sampai ke bukit itu.” ujar Tia lesu.

“Gimana, sih?” Dea melempar bolanya kesal.

Aku menceritakan rencana mamaku kemarin. Walau awalnya mereka kecewa, tapi akhirnya mereka setuju dengan rencana mama. Jadi setiap sore kami bekerja bersama sama membuat lubang pembibitan. Walaupun terasa capek tapi kami puas dengan hasil kerja kami apalagi kami mengerjakannya dengan penuh riang dan bersemangat.

Ternyata anak-anak itu tidak senakal yang aku duga. Apalagi para orang tua mereka senang melihat perilaku mereka yang sudah mulai berubah. Kadang-kadang mamaku membuatkan mereka kue untuk dimakan bersama. Akhirnya setelah hampir sebulan lubang itu siap untuk ditanami.

Pada hari minggu pagi yang telah ditentukan kami bersama-sama menanam bibit yang telah disiapkan. Mamakupun ikut membantu bersama papa. Setelah menjelang sore hari. pekerjaan kamipun rampung. Sambil beristirahat di bawah pohon kami menikmati bekal dan kue buatan mama.

“Wah ternyata kalian semua hebat.” puji papa.

”Jarang aku lihat anak-anak yang peduli dengan lingkungan . Kalau tidak kalian siapa lagi yang akan menjaga lingkungan ini.”

“Ini semua berkat Alieta, Om.” ujar Tia sambil tersenyum.

“Oh ya?” tanya papa tak percaya. “Wah hebat kalau begitu.” ujarnya bangga.

Akhirnya kami bersama-sama pulang dengan perasaan lega karena dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Tugas kami selanjutnya adalah secara bergiliran menyiram tanaman tersebut setiap sore. Untunglah pekerjaan kami tidak terlalu berat karena sebentar kemudian sudah mulai musim hujan. Tanaman itupun dapat tumbuh dengan baik. Beberapa tahun kemudian kami baru dapat memetik hasilnya. Ketika musim kemarau udara tidak terlalu panas, karena di sepanjang jalan desa kami tumbuh berderet tanaman hijau yang membuat desa kami indah dipandang. Yang membuat kami senang tiap pagi dan sore hari kicau burung mulai ramai terdengar.

Perubahan yang terjadi di desa kami menarik perhatian pemerintah daerah kami. Desa kamipun dijadikan sebagai desa percontohan sebagai desa yang ramah lingkungan. Sejak saat itu kami mendapat julukan sebagai ‘Laskar Hijau’. Yang lebih menyenangkan mamaku tak pernah lagi melarang aku bermain dengan anak-anak desa. Apalagi ternyata mereka berubah menjadi anak yang baik. Kamipun bertekat untuk selalu menjaga dan melindungi desa kami agar kelak kami dapat mewarisi anak cucu kami dengan lingkungan yang bersih dan sehat.

Nayzak Amatillah
. Kerap dipanggil Nisa. Lahir di Sumenep pada 22 Februari 2008. Sekarang duduk di kelas 5 SDN Kebunan I Sumenep. Tempat tinggal di Jalan Raya Manding Desa Kebunan, Kecamatan Kota Sumenep. Ia pinya hobi membaca dan punya cita-cita menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang. Pesan ayah Nisa: “kata-kata melalui ucapan bisa cepat dilupakan, tapi kata-kata melalui tulisan akan selalu dikenang”. Untuk itu ia sekarang makin rajin menulis, agar menjadi penulis legendaris yang menginspirasi seperti Andrea Hirata dan Tere liye ,pengarang kesukaanku. Nisa sekarang tercatat anggota Club Penulis Cilik


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1748588617817332686

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA