Keterlibatan Mahasiswa dalam Menghadapi Krisis Pendemi Covid-19

Hanafi


Oleh: Hanafi


Sebagai agen of social control, tentunya mahasiswa memiliki peranan penting dalam keterlibatannya terhadap upaya menghadapi krisis pandemi Covid 19. Mahasiswa yang dikatakan sebagai kaum akademisi yang sudah mengenyam ilmu pengetahuan selama di bangku kuliah memiliki bekal nutrisi keilmuan yang wajib di implementasikan di tengah kehidupan masyarakat. Apalagi di tengah krisis pandemi Covid 19.

Inilah yang dapat membedakan antara mahasiswa dengan mereka yang non mahasiswa. Bukan maksud untuk mengklaim diri bagi mahasiswa merasa lebih tinggi atau hebat dengan mereka yang non mahasiswa. Tetapi ini merupakan konsekuensi logis yang dapat dimiliki karena sebagai mahasiswa yang menyandang “maha-diatas-siswa” yang mengandung makna yang besar di dalamnya ketimbang siswa serta proses pembelajaran dan pengalaman yang mereka lalui. Sebagai mahasiswa yang terdaftar di instansi tertentu seperti Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memberikan gambaran bahwa mereka mahasiswa terikat kontrak belajar dosen dan memiliki kerangka kurikulum yang terstruktur di bangku perkuliahan sebagai proses yang menjembatani untuk menopang ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Di dapatinya berbagai nuansa keilmuan yang dapat diperoleh baik di dalam kelas maupun di luar kelas seperti organisasi-organisasi yang dapat mendukung mereka untuk produkfit sesuai dengan passionnya menjadikan hal tersebut bekal bagi mahasiswa dalam mengarungi di dalam kehidupan sehari-hari sekaligus bekal implementasi arah dan tujuan setelah mereka lepas dari kampus.

Di tengah siatuasi yang tidak pasti ini akibat  pandemi Covid 19 kontribusi mahasiswa sebagai agen of social control tentu sangat dibutuhkan dan dinanti-nanti oleh masyarakat. Karenanya, paling tidak kontribusi mahasiswa dapat mengurangi krisis masalah yang terdapat di tengah virus pandemi Covid 19 ini. Hal tersebut yang saya sebutkan di atas merupakan tanggung jawab moral yang harus di implementasikan untuk menciptakan perubahan dalam kehidupan masyarakat (social society).

Belum lagi, masyarakat akan memandang mahasiswa biasa familiar dianggap sebagai super hero atau di klaim menguasai berbagai bidang keilmuan. Dengan hal itu menjadi beban moral yang di amanahkan terhadap mahasiswa. Berikut beberapa keterlibatan mahasiswa yang dapat memberikan sumbangsihnya di situasi tidak pasti ini akibat pandemi Covid 19, diantaranya :

a.    Memberikan edukasi terhadap masyarakat. Hal ini bisa dilakukan secara bertahap seperti dimulai dari ruang lingkup kecil yakni keluarga hingga ruang lingkup yang lebih besar yakni masyarakat. Menjadi hal yang urgent sekali untuk disosialisasikan oleh mahasiswa agar dapat memberikan edukasi mengenai pentingnya bahaya Covid 19 untuk diantisipasi  sedini mungkin oleh masyarakat mengingat perkembangan Covid 19 semakin meningkat. Mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial untuk membuat gerakan bersama mahasiswa satu dengan yang lainnya.

Dengan mengajak masyarakat melalui media online untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak fisik serta dapat menggalang donasi yang ditujukan kepada mereka yang membutuhkan bantuan merupakan bentuk kepekaan mahasiswa sebagai agen of social control. Manfaatkanlah jejaring mahasiswa yang luas dengan tidak hanya berkutat di teman kelas bangku kuliah melainkan teman oraginasasi ataupun senior-senior mahasiswa  bahkan Dinas Sosial untuk bisa diajak bekerja samah. 

Selain itu selaku sebagai mahasiswa yang tidak kalah penting adalah mampu memberikan contoh terhadap masyarakat karena mahasiswa harus bisa memberikan panutan yang baik bagi mereka. Misalnya mentaati peraturan protokol kesehatan dan pemerintah demi kepentingan objektif untuk menjaga kemaslahatan bersama.

b.    Menjadi pengabdi untuk masyarakat dalam dunia pendidikan. Dampak virus Covid 19 juga sangat dirasakan di dalam dunia pendidikan. Akibatnya aktivitas proses pembelajaran dari tatap muka dialihkan melalui daring (Dalam Jaringan). Namun hal tersebut masih menjadi permasalahan baru yang di alami oleh siswa, misalnya terkendala kouta atau jaringan, tidak memilikinya hp android yang memadai hingga ruang lingkup keluarga (sosial) kurang kondusif bagi siswa dalam menerapkan proses pembelajaran secara daring ini.

Permasalahan tersebut menjadi masuk akal sebab siswa dipaksa mengubah pola proses pembelajaran dari tatap muka menjadi secara daring. Mengingat proses pembelajaran secara daring tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai dari berbagai latar belakang stratifikasi keluarga masing-masing. Disinilah mahasiswa bisa mengambil perannya untuk mencerdaskan anak bangsa di desa masing-masing. Sepeti bisa membantu untuk mensosialisaikan pembelajaran secara daring terhadap siswa, bisa melalui ke dua orang tua masing-masing dari siswa.

Selain itu mahasiswa dapat mengadakan tempat-tempat belajar khusus untuk belajar bersama yang sebelumnya meminta izin terhadap masyarakat maupun perangkat desa, seperti pembelajaran di rumah masing-masing bagi tiap mahasiswa yang ada di suatu desa agar mudah menjangkau siswa-siswa terdekat dapat ikut belajar bersama dengan tetap menerapkan protokol dari kesehatan seperti menggunakan masker, cuci tangan, dan tetap jaga jarak. Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk membantu proses dalam dunia pendidikan di saat dampak pandemi Covid 19 sangat dirasakan di dunia pendidikan.

Akibatnya korban utama yang paling dirasa adalah siswa atau murid yang merupakan generasi estafed penerus bangsa. Tentu ini harus betul-betul di perhatikan di sektor pendidikan secara bersama membangun kesadaran oleh masyarakat terlebih pemerintah Indonesia. Hal lain yang terbaru meskipun di keluarkan keputusan oleh kemendikdub pada tanggal 5 juli 2020, Nadiem Makarim berucap “ bahwa memasuki tahun ajaran baru telah kembali proses pembelajaran bisa di alihkan dengan tatap muka tetapi hanya berlaku bagi zona wilayah hijau dan tidak dengan wilayah zona merah”.

Tentunya hal tersebut harus tetap dapat dipantau oleh mahasiswa yang berada di wilayah zona hijau sebagai agen of social control selama proses penerapan tekhnis dari kemendikbud bersama sumbangsih gagasannya dalam mengontrol untuk mengevaluasi bersama apa yang menjadi kekurangan dan kendala nantinya.

Apalagi yang berada di zona merah yang membuat siswa masih belum dapat menerapkan secara bertatap muka secara langsung sehingga dengan demikian mahasiswa dapat menjadi garda terdepan untuk mengabdikan dirinya seperti membuka tempat pembelajaran karantina desa di desa masing-masing dengan tetap mentaati protokol kesehatan dan pemerintah.

c.    Menangkal peredaran berita hoax di media sosial. Menjadi mahasiswa yang ber-Agama sesuai dengan sila pertama di Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa harus mempunyai kesadaran akan nilai-nilai-nilai ketuhanan. Menjadi mahasiswa yang kritis dan objektif dengan tidak tergiur dengan apa yang ada di sekitarnya karena kepentingan sepihak merupakan bukti riil yang harus di implementasikan. Karena peran mahasiswa dalam menangkal peredaran berita hoax yang kadang sering berantai harus di balas dengan konten-konten positif dan mengedukasi bagi warga media sosial.

Mahasiswa harus dapat mengawasi perederan konten-konten hoax apalagi hingga ujaran kebencian yang dapat memecah belah persatuan. Biasanya di tengah musibah ada saja oknum yang memanfaatkan seperti di tengah krisis pandemi Covid 19 ini. Karena imbas dari berita hoax hingga mengarah ke ujaran kebencian akan mampu menciptakan perselisihan, pertikaian, bahkan sentimen masyarakat antara satu dengan yang lain yang dapat mengarah terhadap perpecahan. Inilah bagian dari mahasiswa yang di-klaim sebagai kaum intelek dan melek akan tekhnologi informasi harus dibuktikan kepada masyarakat agar bener-bener dirasa keberadaanya.

d.    Menjadi relawan Covid 19. Bagi mahasiswa khususnya di bidang kesehatan menjadi kesempatan emas untuk mengabdikan dirinya sebagai relawan Covid 19. Di tengah kondisi semakin meningkatnya Covid 19 membuat kebutuhan tenaga medis dan tenaga kesehatan semakin terbebani dan pula meningkat.

Hal tersebut jelas membutuhkan tenaga medis atau tenaga kesehatan tambahan agar dapat menunjang kebutuhan medis yang mengalami kekurangan. Dibutuhkan kuantitas tambahan tenaga medis atau istilahnya relawan Covid 19 agar dapat mempermudah menangani pasien yang semakin bertambah. Dilansir dari Sindonews.com ada dua mahasiswa UI (Universitas Indonesia) bergabung menjadi relawan Covid 19.

Keduanya adalah Sri Agustin Tabara, Mahasiswa Magister Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Sofina Izzah, Mahasiswa Program Profesi Ners FIK UI dan kini bertugas di rumah sakit UI. Mereka beralasan karena terpanggil rasa kemanusiaan akibat perkembangan Covid 19 semakin hari semakin meningkat. Mereka memberikan inspirasi bersama bagi mahasiswa yang lainnya. 

Dengan demikian menjadi bagian dari tugas mahasiswa untuk mengabdikan terhadap negara apalagi di situasi krisis pandemi ini.

e.    Membangun aksi gerakan solidaritas di masyarakat. Gerakan solidaritas tersebut dapat berupa seperti bagi-bagi masker, sembako dan lain-lainnya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai mahasiswa yang dikenal memiliki jejaring luas menjadi kesempatan khusus untuk dapat mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Misalnya dana dari mahasiswa hasil patungan mereka, sumbangan senior, bekerja sama dengan dinas sosial atau yang lainnya. Mahasiswa juga dapat kreatif agar dapat menghasilkan produk bagi masyarakat agar lebih meringankan dalam membantu beban pemerintah seperti pembuatan masker, hand sanitizer buat cuci tangan, serta hasil karya-karya yang lainnya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa.


f.    Menjadi tenaga psikolog bagi masyarakat. Misalnya pasien yang sudah dinyatakan membaik atau sembuh biasanya dipulangkan oleh dokter untuk dikarantina secara mandiri di rumah masing-masing. Tetapi hal tersebut bukan lantas langsung memberikan ketenangan bagi masyarakat terutama pasien melainkan masih muncul kecemasan baru bagi masyarakat sehingga muncul stigma sosial yang buruk terhadap pasien yang baru dinyatakan positif sembuh. Hal tersebut bukan hanya terhadap pasien melainkan menjalan terhadap keluarga pasien pun seringkali di labeli negative karena dikhawatirkan menjadi sumber penularan baru Covid 19.

Semuanya muncul karena di latar belakangi oleh kekhawatiran masyarakat akan bahaya Covid 19 yang biasanya mudah untuk menular. Padahal menurut Kementerian Kesehatan lewat juru bicara penanganan Covid 19 yakni Ahmad Yurianto bahwa pasien yang dinyatakan telah sembuh dari Covid 19 tidak akan kembali menularkan penyakit lagi. Sebab seorang pasien dinyatakan sembuh dari Covid 19 adalah jika yang bersangkutan sudah menjalani serangkaian perawatan, pemeriksaan dan persyaratan yang ada.

Hal ini Ini dibutuhkan pemahaman bagi masyarakat sehingga mahasiswa harus menjadi garda terdepan untuk memberikan edukasi dan dukungan moral secara sikologi terhadap masyarakat termasuk pasien yang sudah dinyatakan negative (sembuh). Bisa juga di setiap desa membentuk tim dari psikologi untuk selalu dapat mendampingi mereka yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid 19. Bisa melalui perangkat desa untuk diajak bekerja sama bersama mahasiswa terutama mahasiswa di jurusan psikologi dalam memberikan sumbangsihnya untuk memberlakukan yang sembuh sebagai normal kembali agar tidak membuatnya down dan putus asa.

Atau bisa juga dengan penguatan keluarga dan teman dekat agar selalu memberikan dukungan psikososial terhadap keberadaannya. Selain itu memberikan pemahaman terhadap masyarakat agar stigma sosial terhadap pasien yang pernah dirawat karena Covid 19 berkurang hingga tidak ada.

g.    Memanfaatkan potensi ekonomi kreatif. Misalnya dapat menjadi pelaku UMKM yang produktif di tengah ekonomi yang sangat terdampak bagi masyarakat. Ini bisa kita dapatkan dengan memanfaatkan SDA (Sumber Daya Alam) di sekitar. Hal tersebut dapat menciptakan lapangan kerja atau membina masyarakat untuk juga produktif memanfaatkan SDA (Sumber Daya Alam) di sekitar.

Seperti yang dilansir dari yakusa.id, Aspin Anwar aktivis HMI asal Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Tenggarong, Provinsi Kalimantan Timur menjadi sosok pemuda yang sukses di UMKM ditengah Covid 19. Ia memproduksi minuman sehat sebagai penguat imun tubuh dengan produk berbahan madu dan lemon yang dikemas dalam botol plastik.

Menurutnya minuman tersebut selaras dengan situasi di masa pandemi ini sehingga hasil dari prodak yang dihasilkan tersebut dapat menghasilkan uang dan semangat gotong royong untuk membantu sesama. Seperti yang diungkapkan oleh Aspin Anwar di Yakusa.id “bahwa misi kami selama ini juga untuk menebarkan inspirasi untuk saling berbagi”.

Kemandirian dan kepedulianya berbanding lurus rupanya membuat Aspin menyisihkan 10 % dari hasil penjualan produknya tersebut untuk warga yang terdampak Covid 19. Pada intinya mahaiswa diharap mampu mengarahkan masyarakat untuk mengenali passion mereka masing-masing sekaligus turun langsung dalam berbaur bersama masyarakat sebagai wujud kerja yang nyata.

h.    Dan yang terakhir, sebagai pengontrol kebijakan pemerintah. Mahasiswa yang dikenal dengan agen of social control menjadi tanggung jawab moral yang harus di implementasikan. Kontrol di sini bukan diartikan untuk mengontrol gerak pemerintah, tetapi melakukan pengawasan agar pemerintah tidak berperilaku merugikan rakyat.

Mahasiswa dengan kemampuan ilmiahnya seharusnya mampu menganalisis dan memberikan kritiknya terhadap setiap kebijakan pemerintah agar tidak merugikan rakyat. Sebagai kaum terpelajar yang bebas kepentingan kecuali kepentingan bersama dan objektif harus menjadikan ikhtiar  sebagai nafas di setiap tindakannya. Apalagi di tengah krisis pandemi Covid 19 ini dimana dari sejumlah temuan-temuan di lapangan di berbagai daerah seperti bantuan sosial (bansos) dari pemerintah tidak tepat sasaran.

Seperti yang dilansir oleh Kompas.Com “Bahwa terdapat Ketua RT hingga warga yang punya 2 mobil dapat bantuan dari Pemkot Bekasi. Ketua RW 03 Mustika Jaya, Aris, mengaku warganya tidak ada yang mengajukan bantuan sosial. Sebab, diketahui daerah Mustika Jaya merupakan daerah elit Bekasi yang berisi banyak perumahan. Namun ia kaget saat diketahui RT wilayahnya mengadu karena mendapatkan bantuan sosial dari Pemkot Bekasi mengatasnamakan anaknya yang masih balita. Akhirnya bantuan yang diterima oleh warga di perumahan tersebut dikembalikan lagi kepada Pemkot Bekasi karena merasa ada yang lebih berhak mendapatkan”.

Kejadian tersebut bukan terjadi di Bekasi saja melainkan masih banyak daerah-daerah yang lain yang dinilai kurang tepat sasaran oleh pemerintah. Mahasiswa sebagai agen of social control berkewajiban untuk menjadi garda pengontrol mengawal kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk masyarakat agar tepat sasaran agar lebih objektif. 

*****

Hanafi, lahir di Sumenep Madura, 31 oktober 1998. Saat ini sedang aktif kuliah di Jurusan Tarbiyah Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, semester enam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura di Pamekasan. Ia penah aktif Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah IAIN Madura Angkatan 2017. Kini bertempat tinggal di Jalan Mahoni II No 36 Pangarangan Kecamatan Kota Sumenep,

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4137957780798122753

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA