Ithuk-Ithukan, Tradisi Merawat Mata Air di Banyuwangi



"Ithuk ini juga diambil dari kata kepethuk. Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya,"

Kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat Nusantara cukup banyak unik. Sudah terhitung berapa tradisi masyarakat yangb ada dan berkembang. Namun dengan berkembangnya waktu dan perubahan paradigma masyarakat, tidak sedikit tradisi masyarakat ini mulai dan ditinggalkan oleh pelaku tradisinya.

Namun demikian ada sejumlah tradisi yang masih dipertahankan, antara lain tradisi Ithuk-Ithukan yang ada di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebagaimana diketahui,  di kabupaten ini hidup suku yang cukup dikenal yakni Osing. Masyarakat Suku Osing memiliki kekayaan tradisi yang tak lekang oleh zaman. Salah satunya adalah ithuk-ithukan. Tradisi ini dijalani warga Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, ini sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya sumber mata air di desa.

Dalam pelaksanaan tradisi Ithuk, puluhan ibu berbaris rapi dalam busana khas Suku Osing. Si pria memakai baju hitam-hitam dan si perempuan memakai kebaya hitam dan bawahan jarik Banyuwangi. Di atas kepala mereka tersunggi baskom berisi ithuk-ithukan yang di dalamnya ada makanan menu sederhana.

Ithuk adalah bahasa setempat yang berarti alas makan yang terbuat dari daun pisang. Ratusan Ithuk tersebut siap diarak warga dusun dengan berbagai menu lainnya, seperti ingkung ayam bakar.


"Ithuk ini juga diambil dari kata kepethuk. Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya," ujar Sarino, sebagaimana dilansir situs Kemenko PMK

Menurut warga setempat, tradisi ini adalah salah satu wajah Indonesia dimana nilai-nilai gotong-royong dan kebersamaan menjadi energi yang menyatukan warga. Saya bangga dengan Banyuwangi, disini meskipun daerahnya terus maju dan modern tapi tidak meninggalkan adat tradisi yang di dijaga oleh warga.


Prosesi Ithuk-ithukan ini dimulai arak-arakan dimulai dari pusat pemukiman Rejopuro menuju sumber air yang bernama Sumber Hajar. Lalu ithuk-ithuk tersebut dimakan bersama-sama setelah berdoa bersama di sumber air tersebut. Sumber Hajar sangat penting bagi masyarakat Rejopuro karena air nya yang sangat melimpah dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kebutuhan sehari hari.

Tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam. Kenduri yang digelar di sumber air, lanjut dia, menandakan begitu pentingnya setiap manusia untuk menjaga sumber air sebagai salah satu sumber kehidupan manusia.

Masyarakat setempat selalu terus menjaga tradisi semacam ini di tengah modernitas yang terus tumbuh. Tradisi yang diwariskan leluhur ini, menunjukkan bagaimana kita manusia harus menghormati dan menjaga alam ini dengan bijaksana.

Menurut sesepuh Dusun Rejopuro, Sarino mengatakan, tradisi ithuk-ithukan ini digelar setiap 12 Dulqaidah (bulan ke sebelas penanggalan Hijriyah). Tradisi ini ini selain sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat dari Yang Maha Agung atas sumber daya alam yang melimpah, ini juga digelar agar masyarakat bisa saling kepethuk (saling bertemu).

Kata Sarino, Ithuk ini juga diambil dari kata kepethuk (bertemu). Thuk lalu menjadi ithuk. Banyaknya ithuk yang disajikan ini menandakan jangan sampai ada masyarakat yang lapar. Semua harus kebagian, bahkan yang sedang sakit sekali pun akan kami antarkan ithuk ini ke rumahnya.

Tradisi ini, merupakan bentuk syukur warga atas sumber air di desanya yang melimpah dan tidak pernah kering, kemudian masyarakat  bisa mengairi sawah dan melakukan aktivitas lainnya di sumber tersebut. Berkat sumber air itu pula, hidup kami disini jadi terasa nikmat, warga menjadi dekat satu sama lain dan mudah memaafkan," kata Sarino.

“Itu sebabnya, di dusun ini dinamakan Dusun Rejopuro. Rejo artinya ramai, Puro artinya memaafkan,” pungkasnya. (Redaksi Rulis)

Sumber foto: Kemenko PMK

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 5300884835028617666

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA