Cerita Desa Pabian



Cerita: Qifti Ainun Nuja

Liburan sekolah aku pergi kerumah kakek buyutku. Rumahnya terletak di desa Pabian Sumenep. Di sana sangat nyaman sekali, karena lingkungan dan orang-orangnya ramah. Kalian tahu tidak letak desa Pabian itu di mana?. Letak desa Pabian berada di tengah desa. Desa Marengan sebelah timur, desa Pangarangan sebelah barat, desa Kolor sebelah selatan dan desa Kacongan sebelah utara.

Desa Pabian unik dan penuh cerita.

Di sore hari yang indah, kami sekeluarga duduk-duduk di teras rumah. Ketika terakhir kali aku datang berkunjung kerumah kakek, kakek pernah berjanji mau menceritakan tentang asal usul desa Pabian. Umur kakek buyutku berumur sekitar tujuh puluh tahun, tapi beliau masih memiliki ingatan yang kuat. Beliau masih gesit dan tidak kenal lelah, mungkin karena dahulu kakek buyutku sering bekerja keras.

Dulu kakek buyutku berjualan kangkung, setelah subuh beliau berangkat ke pasar. Sebelum memiliki sepeda, beliau ke pasar berjalan kaki sambil memikul dagangannya. Jaman dulu berbeda dengan sekarang, pada jaman dahulu orang sangat jarang memiliki kendaraan. Kebanyakan orang– orang berjalan kaki, tetapi ada juga orang kaya yang memiliki.

“Kek, dulu kakek pernah berjanji mau bercerita tentang asal usul desa ini, ingat tidak, Kek?” celotehku memulai percakapan dengan kakek. Kakek pun menjawab, “Ya, tunggu sebentar.” jawab kakekku dengan singkat.

“Ayolah, Kek. Aku sudah ndak sabar pengen mendengar ceritanya.” rengekku lagi. Sambil memilin kertas paper yang diisi tembakau kering kakek menjawab “Ya iya, tunggu sebentar lagi.”

Bersamaan dengan itu Bibik datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi gorengan.

“Ini enak,” seru kakekku sambil mengambil pisang goreng yang dibawa Bibik dan memakannya.

“Ayo duduk yang rapi kalau mau dengar cerita kakek.” “Siap.” jawabku bersamaan dengan saudara sepupu serentak. Kemudian Kakek mulai bercerita.

“Desa ini terdiri dari beberapa kampung, kampung paling barat adalah Pajikaran.”

“Kakek, mengapa disebut dengan kampung Pajikaran ?” akupun bertanya.

“Ya karena disana dulu orang – orang atau masyarakatnya yang tinggal bekerja sebagai kusir kuda, jawab kakekku” (Jikar kata lain dari Dokar/ Delman).

“Oh, begitu ya, Kakek.”

“Tapi ada juga yang menyebut kampung “papoka’an.” tambah

kakekku.    “

“Kenapa disebut dengan kampung papoka’an lagi, Kek?” tanyaku kembali.

“Ya karena dulu orang-orang di sana kebanyakan menjual poka’ (sejenis minuman yang terbuat dari santan, gula merah, dan sereh).

Kampung selanjutnya adalah kampung Panglegur, kampung ini terletak disekitar lapangan stadion A Yani.

“Kampung ini dulu sangat keramat.” ujar kakek.

“Kenapa, kek ?” tanyaku. Dulu ada makam yang berongga, dikenal dengan bujuk rongkang. Konon menurut cerita orang-orang dulu ketika ada anak kecil nakal, maka para orang tua dulu memasukkannya ke dalam makam yang berrongga, agar anak tersebut tidak akan nakal lagi. Mungkin itu karena keajaiban dari makam itu. Dan keajaiban lagi dari kampung Panglegur, ketika ada orang yang mengangkat beras kemudian ada orang di kampung sana bertanya ‘Napa eso’on?’ (apa yang diangkat?) maka jangan pernah berkata/ menjawab “beras” walaupun yang diangkat memang benar-benar beras.”

“Kenapa, kek? bukankah itu memang beras ?” tanyaku pada kakek. Kakek pun menjawab

“Karena jika orang tersebut menjawab beras, maka beras itu akan berubah menjadi tanah”.

“Oh, begitu!” seruku.

Kampung selanjutnya adalah kampung Mastasek. “ Kenapa disebut mastasek?” tanya sepupuku.

“Karena dulu menurut cerita ada kapal yang terdampar di perairan di kampung itu. Di sana ada semacam laut yang dangkal. Menurut cerita kapal itu milik Dempo Abhang yang kandas. Para penumpang yang ada di dalam kapal turun semua dan memperbaiki kapal itu dan berkemas-kemas barang bawaannya. Berkemas-kemas ditasek kemudian dijadikan nama kampung. Lama-lama menjadi kampung Mastasek.

“Oh.... itu ceritanya ya, Kek. kirain ada emas di tasek (laut).

Ha ha ha.”

“Kamu ketahuan ya, kalau suka emas” gurau kakekku.

Kampung selanjutnya adalah kampung Billa’an. “Lo, kok ada kampung yang bernama Billa’an, lucu yah.“ kataku.

“Eh, kalian jangan meremehkan kampung itu. Dulu kampung itu tempatnya orang-orang yang membela, ketika ada perkara di desa ini.”

“Seperti pengacara ya, Kek ?“ tanya sepupuku.

“Ya, kira-kira seperti itu.” jawab kakekku, “makanya sekarang dikampung itu didirikan lembaga-lembaga hukum, seperti pengadilan dan rutan.”

“Kampung selanjutnya adalah kampung Karangpanasan. Asal katanya diambil dari karang kapanas.”

”Kenapa kok karang kapanas, Kek?” tanyaku.

“Dulu di kampung itui orang-orangnya membuat krupuk paru. Setiap hari mereka membutuhkan panas matahari untuk menjemur paru. Jadi orang-orang yang membuat paru selalu kekurangan panas matahari.”

“Ayo cicit-cicit kakek, ada yang pernah makan krupuk paru? krupuk paru enak lo!” gurau kakekku.

“Tidak pernah, Kek. Harganya mahal. Jadi ibu tidak pernah membeli!” jawab sepupuku.

“Ha ha, kasihan kalian, doakan kakek biar dapat rejeki, nanti kalau kakek dapat rejeki kakek belikan kalian!” seru kakek.

“Hore!” teriak kami semua.

“Oh ya di kampung karang panasan juga terdapat makam keramat. Di sana ada makam yang sangat panjang, melebihi makam lainnya.

“Hi…! Takut, Kek. Makamnya siapa sih kek!” gumanku.

“Konon menurut cerita, itu adalah makam tangannya Landheur, Landheur adalah manusia sakti yang memiliki tubuh tinggi dan besar yang hidup di jaman dulu. Konon dahulu Landheur berkelahi dengan kiai sakti. Landheur tidak bisa dikalahkan karena memiliki ilmu yang bisa menyatukan tubuh. Jadi setiap kali tubuhnya hancur, pasti kembali pada sedia kala.

Kemudian kiai bertapa dan menemukan cara untuk mengatasi si landheur, ketika berkelahi dengan landheur, sang kiai memisahkan anggota tubuhnya dengan melemparkannya jauh-jauh.

Sekarang tangannya terlempar ke desa ini. Kemudian masyarakat menguburkannya. Sedangkan tubuh lainnya banyak yang terlempar ke desa lain. Mungkin kalau saja tidak dimusnahkan di jaman dulu, Landheur hidup sampai sekarang dan pastinya akan membahayakan.”

Dan kampung selanjutnya adalah kampung Pakole’an.

“Kalian tahu kenapa disebut dengan pakole’an?” tanya kakekku.

“Tidak!” jawabku.

“Karena di sana banyak orang-orang yang bekerja sebagai tukang menguliti kulit sapi, makanya disebut pakole’an. Dikampung pakole’an ini sangat unik, tahukah kalian kanapa kampung ini unik ?”

“Kenapa, Kek?” tanyaku . Karena di kampung ini berdiri 3 tempat ibadah sekaligus. Ada masjid Baitul Arham, ada gereja katolik Maria Gunung Karmel, dan ada klenteng Pao Xian Lian Kong yang bangunannya berdiri berdekatan.

Toleransi para pemeluk beda agama disana sangat kuat, Pernah dulu waktu kakek mau solat ke masjid itu, saat itu adzan berkumandang dan berbarengan dengan suara lonceng di gereja, karena mereka menghormati kami orang muslim, bunyi lonceng mereka hentikan dan begitupun orang muslim.

Ketika acara natal, tetangga dekat geraja ikut membantu menjaga geraja dari serangan bom dan ketika hari imlek, pihak klenteng membagika sembako kepada para tetangga di sekitar klenteng. Seharusnya kita sebagai mahluk sosial harus saling hidup rukun dan toleransi.” seru kakekku.

“Ya, Kek. Kami berjanji akan hidup rukun.” jawab kami.

Dan kampung berikutnya adalah kampung Bara’ Sok- Sok.

“Kampung bara’ sok-sok, Kek? apa kampung itu dekat dengan sok-sok (telaga)?” Tanyaku.

“Ya kamu benar sayang!” jawab kakekku. “Kampung itu tepat berada disebelah barat sok-sok (telaga), makanya disebut bara’ sok-sok.”

Dan kampung terakhir dari desa Pabian.

“Ini adalah kampung kakek, ini kampung Pasar Kayu. Dulu disini banyak orang-orang yang berlalu lalang berdagang. Di sebelah selatan rumah kita ini dulu sungainya dalam dan lebar, banyak perahu dari arah laut Kalianget lewat disini menuju kekota.

Lambat laun dibangunlah pasar kayu ini, karena banyak yang membuat sampan atau perahu. Para pedagang yang membawa barang dagangannya kadang beristirahat disini dan ada juga yang menyimpan barang dagangannya disini.

Dulu di sebelah Barat rumah kakek ini ada gudang. Gudang ini milik pedagang yang ingin menyimpan barang dagangannya. Barang-barang dagangan itu diangkut dari sampan atau perahu yang diparkir di sungai.. Orang-orang disini dulu banyak yang bekerja sebagai kuli angkut barang. Dulu namanya Pabiye’en. Lama-lama orang menyebutnya Pabian dan dijadikanlah nama itu sebagai nama desa ini.”

“Oh, jadi kata Pabian itu berasal dari Pabiye’en atau orang yang bekerja sebagai kuli angkut ya, kek?” seruku

“Ya, kamu pintar juga, ha ha.” gurau kakek. Lalu kakek melanjutkan lagi ceritanya.

“Selain sebagai transportasi air di desa ini, dulu juga transportasi darat di jaman Belanda dulu. Tempat ini dijadikan jalur kereta api, dulu disebut Lori atau kereta yang mengangkut barang, Lori dulu digunakan Belanda untuk mengangkut garam dari gudang garam di Kalianget menuju ke Jawa. Bunyinya sangat unik. kakek masih ingt bunyi kereta lori itu, tut tut tut, greak greak greak.

Saat ada kereta lewat kami berlomba lari untuk melihat kerata itu. Huuu! tapi sayang semua itu sekarang hanya tinggal cerita. Dan untuk cicit-cicit kakek, ingatlah jangan pernah melupakan asal-usul kalian. Je’ kaloppae ka asalla supaya hidup kalian selalu menghargai waktu dan dihargai orang lain. Ini pesan kakek.”

“Ya, Kek. Kami akan selalu ingat pesan kakek!” jawab kami serentak.

“Sekarang sudah petang ayo ambil wudhu’ dan kita sholat berjama’ah.“ perintah kakek. Kamipun bersiap intuk berwudhu’ dan solat bersama . Ini merupakan cerita yang menyenangkan dan sarat akan ilmu sejarah. Semoga bisa bermanfaat padaku khususnya dan pada pembaca umumnya.

***
Qifti Ainun Nuja. Dilahirkan di kota Sumenep pada tanggal 23 Januari 2009 dan saat ini bersekolah di SDN Pabian I, kelas V. Alamat tempat tinggal jalan Yos Sudarso no.40 Pabian Sumene


















MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7258653391488128344

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA