Bunyi-Bunyi Menepis Nonsens

Lukisan Oche Sumantri
 
D. Zawawi Imron

Ketika orang-orang bicara, dua ditambah dau sama dengan empat, kecerdasan otak dan kecendiakiawanan dipastikan bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk masalah politik dan ekonomi, seakan-akan puisi tidak diperlukan lagi. Bisa mungkin ada banyak orang yang berpendapat, penyair hanya tukang bermimpi dari nonsens ke nonsens yang lain.

Para penyair juga bisa menyanggah, bahwa bergudang-gudang ilmu yang berhasil dikantongi para cerdik pandai pada kenyataannya tidak menolong aneka macam keterpurukan. Banyak gagasan, teori dan praktek mereka juga tersandung kerikil nonsens.

Kepenyairan, sebenarnya sejenis upaya untuk menghindari dan menepis nonsens. Dari kepenyairan diharap lahir atau tumbuh sesuatu yang berhati yang bukan nonsesns. Sebagaimana Sitok Srengenge menulis dalam sajaknya “Takbir Para Penyair” (tidak masuk dalam kumpulan “Nonsens”): Bumi yang kepadanya Kau anugrahkan ketabahan / melahirkan puisi dari kekhusyukan samadi./

Berpikir, samadi, kontemplasi, konsentrasi, observasi, meditasi dan merenung adalah kegiatan jiwa atau rohani. “Kekhusyukan samadi” yang disebut Sitok, bisa menjadi pengembaraan jiwa merambah hutan rimba yang ada di balik kehidupan yang sangat luas dan kaya, yang di dalamnya bisa ditemukan atau lahir bayi mungil yang disebut puisi. Saat itulah nonsens itu berhasil ditepis, diusir atau dinonsenskan.

Puisi yang hadir tidak lain sebuah makna yang memancar, sebuah danau yang dalam, sehampar laut dan selengkung langit yang menawarkan arti bagi kehidupan. Jika seorang penyair telah mampu mengusir nonsensnya sendiri, maka kehadiran menjadi “ada”, meng-“ada”. Bukan hanya ada di atas sebuah tempat, tetapi lengkap dengan arah yang berarah dan mengarah. Hal ini, tidak berlaku untuk Sitok Srengenge saja, tetapi juga bagi kreator yang lain.

Bagi Sitok Srengenge, kehadirannya dengan buku kumpulan sajak “Nonsens” itu, seakan menjelaskan terhalaunya sekian nonsens, sekian kesia-siaan yang membuat umur dan detak jantung hanya melintasi hampa dan hampa, puisi menjadi jejak yang tidak mudah dihapus angin.

Itulah, mengapa penyair “Nonsens” itu sesekali menghargai jejak-jejak masa lalu, baik berupa apa yang sudah berlalu atau siapa yang pernah meninggalkan jejak dalam hatinya. Bukankah semua puisi yang ditulis akan menjadi masa lalu. Persoalan yang substansial, bagaimana masa lalu menjadi suara yang mampu bersahutan dengan suara masa kini dan esok. Karena bisa mungkin suara masa lalu mampu memberi inspirasi bagi hari esok. Itu akan lebih baik dari suara hari esok yang tidak bermakna, suara yang mati menjadi nonsens.

Tentang masa lalu, Sitok menulis: Aku mengingatnya bagi sebuah mimpi, namun lupa / apakah mimpi memang penuh warna (Kereta Bawah Laut). Konsekuensi dari mengingat sesuatu yang telah lalu, mungkin tetap bisa ingat dan mungkin juga sudah lupa. Mencoba mengingat apa yang telah terlupa apakah bukan sebuah nonsens? Belum tentu. Bisa nonsens bisa juga tidak. Karena di dalam lupa sendiri kadang terbuka sekian ruang baru, rimba belantara baru, dan samudra pengembaraan baru.

Kemudian saya lanjutkan kutipan potongan sajak di atas: Lupa / lelap / luka / lenyap / Seketika aku terjaga, tatkala orang-orang serentak menjerit / sembari serempak menari / setelah berita: seorang presiden sakit / hampir mati.//

Sajak yang ditulis pada tahun 1966 ini menyitir, bagaimana orang-orang bergembira (menari) karena ada seorang berkuasa yang tidak disukainya sakit dan hampir mati. Berita seprti itu bagi penyair yang merasa sejiwa dengan rakyat yang tertindas, jelas bukan sebuah nonsens.

Rata-rata manusia memang membutuhkan pengalaman demi pengaman. Setelah pengalaman itu berlalu, tidak boleh semuanya menjadi nonsens. Sebagian tetap harus hidup menjadi bagian dari kekinian dan esok, seperti yang ditulis Goenawan Mohamad: Sesuatu yang kelak retak / dan kita membikinnya abadi / (Kwatrin tentang Sebuah Poci).

Itulah barangkali, mengapa hal-hal yang sepele dan sederhana masih dicoba diabadikan oleh Sitok:

Anganku kembali ke suatu pagi yang lapar
        kepak camar di sela gerimis, tepian telaga
                    Setangkup roti tawar
            seputing kismis, lumeran mentega
                        (Maastricht)


Namun agaknya, hal-hal yang sepele itu sempat memberikan sentuhan-sentuhan sublim kepada penyair, sehingga ia merasa menyaksikan sesuatu yang bermakna, sesuatu yang indah, estetis, dan tentu saja puitis. Benda-benda dan binatang yang disebutnya telah memberikan lukisan tentang suasana, sekali gus cuaca, seperti kata-kata: pagi, kepak camar, gerimis, dan roti setangkup untuk mengganjal perut.

Tidak hanya itu, Sitok masih menambah tekanan lebih pada makna dengan persamaan bunyi. Pada sajak yang saya kutip di atas ada kata “lapar” yang disahut kata “tawar”, kata “telaga” yang disahut kata “mentega”.

Tampak sekali penyair menganggap penting persamaan bunyi sebagai pendukung kekuatan sajaknya. Tidak mustahil pada sajak-sajak Sitok yang lain tetap terjaga kemerduan bunyi sekali gus bunyi-bunyi yang saling bersambut; bagai suara dari atas bukit yang bersipongang ke lembah-lembah di bawah. Sipongang itu telah bergaung membuat kesunyian di atas lembah menjadi terisi.

Kata-kata yang bunyi pantul memantul itu membuat puisi menjadi segar. Kita perhatikan larik-larik di bawah ini:

            Kini aku menepi
        pada sunyi umbai umbi,
        butir gerimis nitis berdenting
                ke kolam hening
                   dan suara gelebung udara
        nyembul dari lubuk-lubuk plankton purba
                        (Seusai satipana)


        ke sanalah sungai menjalar
        mendaratkan kekasih dan ular
                        (Quinta Cinta)


        Berkemaslah, sebelum maut
        sembari kenang pohon renah berlumut
        yang kautiti melintas jurang
        di belantara rimba nenek moyang
                        (Sonet Situmorang)

                Kita saksikan laut
        melalui nyala lilin dan rekahan kembang
        pulau-pulau bagai bangkai hanyut
        jerit di jauhan menyusun bukit karang
                        (Kenangan Scheveningen)

Permainan-permainan bunyi pada larik-larik di atas bukan permainan untuk sekadar permainan. Lebih dari itu, bunyi-bunyi yang pantul memantul itu agaknya telah menyatu dengan makna seperti manisnya gula yang lebur dalam totalitas minum kopi. Bunyi yang sambut menyambut itu agaknya telah menjadi musik yang menyampaikan getaran ruh penyairnya.

Sajak-sajak dalam kumpulan “Nonsens” banyak mengangkat persoalan-persoalan yang sederhana. Ada yang berisi percakapan dengan seseorang, misalnya, “Seusai Sapisatana”, “Jalan Simpang, Utrecht”; lukisan tentang ayah dan bunda lengkap suka dukanya, “Alegori Waktu”; catatan perjalanan, “Solo Heresio”, Konsenrufu”, “Mata Danau”, “Elegi Dorolegi”; surat kepada seseorang, “Sonet Situmorang”, disamping tentang cinta, mitologi, kelahiran, dan lain-lain.

Tema-tema yang sederhana itu – yang juga bisa dialami oleh orang lain – dengan ditunjang kemampuan Sitok berbahasa dalam puisi, lengkap dengan gayanya yang spesifik, sajak-sajaknya bisa menampilkan sisi-sisi lain deri kehidupan, sehingga ada hal-hal yang tak terduga dan mengejutkan.

Pemilihan kata-kata dan penyusunan menjadi baris atau kalimat yang tepat, membuat puisi punya tenaga. Jika dari pantun lama kita mendapat kemerduan bunyi dari dua larik sampiran dan dua larik puisi, pada sajak-sajak Sitok sampiran itu berhasil diselundupkan ke dalam isi dan menjadi isi tersendiri. Hal ini tentu bukan sekadar keterampilan, lebih dari itu merupakan hasil jerih payah kepenyairan yang tidak lain adalah buah dari kerja kreatif.
   
Dengan bunyi-bunyi yang saling berpantulan itu, hal-hal yang sederhana menjadi tidak nonsens, pengalaman itu telah berdenyut, menggelitik, dan sesekali menggairahkan. Sitok tidak bicara dua tambah dua sama dengan empat, ia telah menambah dan menggairahkan dengan pengalaman estetiknya, dengan kemampuan berolah kata, dan kemampuan menampilkan bunyi-bunyi yang tak terduga.
   
Sajak Sitok yang sangat menggelitik, antara lain ialah “Osmosa Asal Mula”. Sajak ini berupa untaian bait-bait yang dibentuk agak baku - model Sitok -, namun dilengkapi beberapa kalimat yang menggeliat lincah. Contoh:
   
            Aku bertanya kepada sungai
            dari mana suber air susu
            Sungai menjulangkan gunung
            dan kusaksikan lembah bergaun kabut

 
Tak ada gading yang tak retak. Tentu saja sajak-sajak Sitok kalau dicari akan ada kelemahannya. Saya tidak ada waktu untuk itu. Saya hanya ingin mengemukakan hasil upaya si penyair untuk memperkaya khazanah sastra Indonesia. Kelemahan dan keterbatasan itu bukannya tidak diakui oleh Sitok. Dalam mengakhiri sajak “Libido Sangkuriang”, ia menulis: puisi / di dalam diri / tak seutuhnya / tertampung kata //. Maksudnya, masih banyak puisi yang bergetar di dada penyair, tetapi tidak tersedia susunan kata segar yang mampu menampungnya. Kalau terpaksa ditulis, bisa gagal menjadi puisi. Atau bisa menjadi puisi nonsens.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 63630222314523473

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA