Turnamen Cipta Vaksin Covid-19




oleh: Sayyidati Sholeha

Kuantitas pasien Covid-19 yang terus bertambah di setiap harinya, membuat pemerintah setempat terus melakukan lockdown di beberapa titik. Kondisi ini tidak dapat diremehkan oleh siapapun, dengan peningkatan yang begitu signifikan dan cepat. Melihat bagaimana usaha keras tim medis menyelamatkan pasien Covid-19 sebagai garda terdepan, mereka bekerja siang-malam, meninggalkan keluarga dan sebagian harus berjuang hingga wafat.

Di satu sisi, para ilmuan juga tengah berupaya meracik dan menyiapkan vaksin dengan berbagai uji coba yang dilakukan, agar vaksin dapat bekerja cepat serta betul-betul dapat melawan virus korona. Sementara itu, kita masih harus tetap tenang menunggu validitas obat yang akan diluncurkan secara resmi oleh lembaga medis setempat.

Salah satunya adalah sebuah obat yang ditemukan untuk melawan virus korona, yang dikabarkan oleh Tribunnews (23/03). Obat tersebut adalah Avigan dari Jepang dan Klorokuin obat Malaria, kedua obat tersebut sudah dijadikan alternatif untuk mengobati pasien virus Covid-19. Rasio obat ini sebesar 90% untuk menyembuhkan, namun obat ini belum resmi dikeluarkan, uji coba masih terus dilakukan pada pasien virus korona.

Dengan hasil yang cukup efektif, dimana pasien yang diberikan obat bisa disembuhkan dan memberikan perubahan yang signifikan. Obat yang disebut dengan Tocilizumab atau dikenal dengan Actemra ini dapat menurunkan demam pasien dengan cepat, gejalanya membaik dan berangsur normal. Hasilnya, obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Swiss Roche ini, sudah memulangkan 19 orang dari 20 pasien setelah menjalani perawatan selama 13,5 hari.

Tingkat jumlah penyembuhan ini terbilang sangat berpengaruh pada penderita paparan korona, percobaan yang terus dilakukan akan menentukan efektifitas bagaimana vaksin ini bekerja. Dari hasil uji coba pertama ini, dengan keberhasilan yang terus berlanjut hingga betul-betul efektif, mampu disiapkan dalam dosis besar yang siap diluncurkan ke seluruh dunia. Bila bahan-bahan yang digunakan mudah di temui, obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit malaria dan persendian ini tersedia di banyak di setiap negara. Maka, pembuatannya pun tidak akan serumit yang dipikirkan.

Di Australia sendiri, yang dilansir oleh kompas.com (26/03) menurut Bruce Thompson, Dekan Fakultas Kesehatan di Universitas Swinburne, mulai menguji vaksin yang dibuat oleh para pakar ilmuan tersebut. melalui tahapan proses standardisasi mulai dari fase 1 sampai 3 fase, berdasarkan uji klinis, mereka memeriksa setiap obat yang akan dikonsumsi. "Kita harus memastikan obat atau vaksin itu aman, tidak melukai dan tahu seberapa efektivitasnya," jelasnya.

Sementara proses secara umum terbagi menjadi enam fase: Desain Vaksin: Proses di mana para pakar mempelajari patogen dan memutuskan bagaimana sistem imun bisa menyadari kehadiran patogen tersebut. Uji Hewan: Vaksin baru yang diuji kepada hewan berfungsi untuk menunjukkan apakah vaksin itu dapat bekerja dan tidak memiliki efek samping yang ekstrem. Uji Klinis Tahap I: uji pertama dipresentasikan kepada manusia untuk mengetahui tingkat keamanan, dosis dan efek sampingnya.

Percobaan tersebut membutuhkan sedikit relawan. Uji Klinis Tahap II: yakni terdapat analisis mendalam tentang bagaimana cara kerja vaksin secara biologis. Percobaan ini membutuhkan relawan yang lebih banyak dan membutuhkan penilaian terhadap respons psikologis dan interaksi selama perawatan. Uji coba vaksin virus korona ini menilai bagaimana stimulasi vaksin dalam sistem imun bekerja. Uji Tahap III: tahap akhir yang melihat bagaimana jumlah besar relawan yang diuji coba merespons dalam waktu lama. Kemudian akhir dari proses ini adalah persetujuan Peraturan: yakni badan pengawas akan melihat hasil uji coba, serta menyimpulkan apakah vaksin tersebut layak diberikan atau tidak.  Kondisi yang genting ini, dan kebutuhan vaksin siap konsumsi yang cepat membuat proses dalam tahap-tahap tersebut dilakukan lebih singkat, dengan uji klinis melalui relawan yang sudah mendaftar.

Kabar ini menjadi angin segar, tidak hanya untuk para penderita akibat Covid-19, namun juga untuk seluruh penduduk dunia yang sedang menantikan normalitas  pergerakan global. Covid-19 sangat berpengaruh pada kehidupan kita. Imbas virus tersebut tidak hanya menyebar pada tubuh satu ke tubuh lainnya, melainkan imbas Covid-19 ini sudah merebak pada sektor ekonomi yang semakin memburuk, kondisi sosial eksternal seperti melumpuhkan pusat-pusat perkumpulan yang melakukan transaksi dan kerjasama, meminimalisir pertemuan, dan menunda kegiatan belajar-mengajar.

Aspek sosial internal personal juga tidak luput dari dampak virus tersebut. Bagaimana sanak keluarga yang kehilangan orang tua, kerabat dan saudara dalam waktu yang singkat bahkan bersamaan. Baik di negeri China, negara lain maupun di Indonesia, seperti Eva Rahmi Salama, salah seorang pemudi yang harus kehilangan ibu akibat virus korona pada 19 Maret lalu, dengan persyaratan pemakaman yang cukup ketat yakni tanpa dihadiri oleh pelayat, dan hanya diantarkan oleh tiga orang saja. Kemudian disusul oleh wafatnya ayah (21/03) yang juga terpapar Covid-19.

Bukan soal seberapa besar rupiah yang diberikan pemerintah terhadap sanak keluarga yang kehilangan keluarga akibat virus ini, melainkan kebutuhan psikologi akan keluarga yang harus bisa ditangani, demi stabilitas diri menghadapi kehidupan selanjutnya. Tidak mudah menghadapi peliknya kondisi ini, namun perlu perhatian yang intensif dari semua pihak, saling mendukung dan tidak mencemooh.

Sebab bila kuantitas terus bertambah akibat kesalahan tekhnis, keterlambatan intruksi, atau kebijakan pihak yang berwenang, maka kondisi akan semakin membengkak dan lebih serius lagi dari yang sedang dialami. Usaha demi usaha tim medis membantu meminimalisir pasien, kerjasama antar bangsa menyatukan kekuatan memerangi virus ini, tidak akan bisa maksimal tanpa aksi yang penuh kewaspadaan, serta ketenangan kelompok kecil di sebuah kawasan.

Bukan hanya pemerintah yang berperan membantu memutuskan rantai penyebaran virus korona, namun para relawan yang sedang menjadi sampel percobaan vaksin turut berjuang untuk menyelamatkan dunia, dengan resiko yang lebih besar akibat efek samping vaksin yang dibuat. Demikian, perlu perhatian lebih segala pihak dan perlu pengertian lebih dari masyarakat luas untuk tetap mematuhi aturan dan melaksanakan arahan, demi kebaikan pribadi dan kemaslahatan bersama. (Sayyidati Sholeha)

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 6372741996670067462

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

item

WA