Nenek Arwisa, Tetap Semangat Menjalani Hidup
Meski Usia Seabad, Ia Jalani dengan Jualan Rengginang




Oleh: Siti Sholeha Th*

Siang sunyi, hembusan angin di antara pepohonan rindang menerpa dengan berkelebat lembut, rambut beruban nenek tua yang sudah berusia satu abad. ia tertidur pulas di atas tempat tidur bambu, yang sudah puluhan tahun semenjak berdirinya rumah nenek tua ini, keringat menetes di antara lipatan kening keriput yang semakin nampak jelas di raut lelahnya.

 Tiap hembus nafasnya terdengar dalam lelap. Baru 10 menit penulis sampai di kediaman tua, memperhatikan raut wajah dan tubuh kurus itu. Beliau terkejut hingga sontak terbangun, duduk dari tidurnya.

Semakin tampak jelas saja postur kurus dan keriput di area lipatan kedua mata beliau. Rambut panjang yang sudah memutih di bagian depan, nyaris membuat sebagian helai rambut hitam tidak terlihat saat diikat. Nenek yang berumur lebih dari seratus tahun ini bernama Arwisani, seorang nenek yang semasa hidupnya dijalani dengan penuh kesederhanaan, perjuangan yang berawal dari kekurangan, bertahan dengan keuangan yang tidak seberapa, semenjak dahulu hingga sekarang, berjuang membesarkan 5 anaknya tanpa lelah dan keluh kesah.

Hal ini tergambar lewat kisahnya yang sedari kecil beliau sudah ditinggal oleh kedua orang tua beliau, beliau menjadi yatim piyatu kemudian diasuh oleh bibi dengan perlakuan yang cukup kasar. Alih-alih diberikan kebutuhan sekunder, kebutuhan pangan dan pendidikan saja beliau disisihkan sedikit serta diasingkan dari saudara-saudara sepupu beliau.

“Dari kecil, saya tidak tahu sama sekali seperti apa rupa ayah dan ibu saya, ibu saya meninggal semasa saya bayi yang baru keluar, ya, masih merah tuh udah ditinggal ibu. Gak tahu rasanya digendong ibu. Gak beruntung sama sekali nak rasanya ga punya orang tua. Kalo sudah gak kerja, pasti dipukul pakek kayu, kalo sudah malam mau ke pengajian, nenek harus lari dulu dari rumah. Maghrib tuh masih ada di hutan desa, jalannya terjal. Nenek lari sambil ketakutan, takut ketahuan bibi dan takut ada hewan buas disana, ya kayak gitu kalo sudah tinggal sama orang lain, mellas jadi anak” ceritanya.

Kondisi itu bersamaan dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang di masa itu, hingga beranjak usia remaja, perlakuan kasar keluarga semakin membuat beliau tidak nyaman, ditambah lagi dengan perlakuan penjajah Jepang di desa itu.

Tak cukup menderita atas perlakuan keluarga, semasa muda beliau dihabiskan dengan bertani untuk bisa memakan seonggok singkong rebus dan ketela rebus, harus diam-diam pula. Beliau berlari terbirit-birit bila kompeni datang, menyelamatkaan bahan pokok yang masih tersisa dari hasil panennya.

“Kalo Belanda masih mending itu, lama tapi gak terlalu nyiksa, jarang juga datang ke desa saya, tapi kalo Nippon itu jangan macam-mcam, kejam betul mereka. Saya masih sangat ingat bagaimana zaman Jepang itu disini, keuangannya gimana saya tahu itu dulu”

“Kami gak tahu kapan Nippon itu bakalan dateng, jadi kalo udah ada yang teriak tanda Nippon bakal dateng ke desa, orang-orang langsung lari ngambil semua bahan pokoknya, trus disembunyikan di bawah tanah, di tanah itu ada bolongan agak besar, paling dalemnya 1 meter dan ditutupi batu melingkar, warna batunya juga udah dipenuhi lumut dan tanah. Kami berusaha naruh secepat mungkin, trus langsung lari sembunyi di rumah masing-masing. Setiap Nippon dateng, pasti kami kayak gitu, kadang nyisihin sedikit buat makan, dan kadang kalo ada lebihnya ya ditaruh. karena hasil panennya juga gak tentu.”

Bila hari sudah menjelang petang, beliau berusaha lari dari rumah menyusuri hutan area kampung untuk bisa sampai ke tempat mengaji Al-Qur’an, sebab aktifitas mengaji sangat dilarang oleh keluarga beliau dan memprioritaskan untuk bekerja siang-petang. Takkan beliau mengaku pulang dari surau tempat mengaji, karena tahu konsekuensi yang akan diterimanya nanti di rumah.

“Buat ngaji maghrib itu susah nak, ya gak mungkin nenek kasih tau kalo nenek habis mengaji, pasti dipukul, jadi pas berangkat nenek pakek baju biasa trus setelah mengaji, ganti baju kerja lagi sambil bawa barang, entah tas bawaan atau apalah.”

Kondisi ini berlanjut hingga proklamasi di resmikan, namun tak begitu mengubah jalan hidup beliau, harapan demi harapan terus timbul dalam pikiran Arwisani, salah satunya adalah bisa keluar dari kelompok keluarga yang cukup menyiksa fisik dan batin beliau, perlakuan keluarga yang masih teringat jelas hingga detik ini.

Tahun demi tahun berlalu, beliau bertemu dengan salah seorang calon pasukan militer Republik Indonesia, namun, kala itu beiau batal meresmikan dirinya untuk menjadi pasukan militer, sebab keputusan untuk lebih memilih kembali pada urusan tauhid dan meninggalkan dunia militer. Arwisani menikah dengan Alm. Moh. Ali, kemudian dibawa oleh laki-laki tersebut ke daerah tempat tinggal mereka yang baru, tepatnya di kawasan Beringin, Sampang, jauh dari keluarga bibi Arwisani di daerah Robatal, Sampang.

Beliau menikah dan dikaruniai 5 orang anak, hidup beliau betul-betul diuji dengan cobaan yang bertubi-tubi. Dari semasa kecil putra-putri beliau, stabilitas keuangan sangat tidak memadai. Kebutuhan harus dipenuhi dengan usaha keras, Arwisani menjual telur keliling, sementara usaha suami yakni menjual geddek, terkadang beliau juga menjual bakiak, dan usaha-usaha lain untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Sampai usia anak-anak kian dewasa, suami beliau meninggal pada tahun 2009, anak-anak beliau menikah dan kini tinggal di rumah baru masing-masing. Kehidupan anak-anak Arwisani dengan perekonomian lebih baik, tidak merubah banyak keadaan beliau. 4 anak putra beliau masih menghidupi keluarga dan keturunan beliau, dan satu anak sulung perempuan yang bertahan di rumah sesepuh ini, ia berada bersama Arwisani sebagai ibu rumah tangga, setelah kehilangan suaminya juga yang meninggal pada tahun 2016 lalu.

Arwisani masih bertahan dengan keadaan yang terkadang masih menyiksa batin beliau. Berkutat dengan usaha memproduksi rengginang rumahan, meminjam modal bahan ketan dan bawang pada toko sembako, beliau memulai bangkit kembali untuk menunjang kebutuhan ekonomi.

Ekonomi yang tidak pasti, membuat beliau dilecehkan, dicemooh dan diremehkan oleh sebagian tetangga. Namun beruntungnya, beliau masih memiliki orang-orang yang sangat percaya pada beliau dan keluarga beliau, orang-orang yang simpati dan peduli, termasuk pemilik toko sembako tempat meminjam modal bahan usaha rengginang beliau.

Penghasilan yang tak seberapa, satu buah rengginang hanya dihargai sebesar Rp.300,-, pelanggan membeli setiap pesanannya sebanyak 50 buah hingga 100 buah. Setelah rengginang tersebut dijual, uang hasil penjualan dibayarkan pada pemilik modal bahan rengginang. Harga sembako yang tidak tentu membuat hasil penjualan itu mengalami pasang surut, apalagi karena rengginang harus mengalami proses penjemuran, cuaca sedang tidak bersahabat seperti musim penghujan dan pancaroba, juga membuat kualitas tekstur rengginang tersebut menurun, sementara pelanggan masih menuntut untuk mendapatkan keuntungan timbal balik, dengan rengginang yang besar dan lebih murah.

Salah satu kalimat dari kisah beliau, memberikan pengertian bahwa bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi, namun juga diselaraskan dengan keihklasan melayani masyarakat.

 “Ta’ ghâmpang bhing, dâddhi rèng odi’. Mun dâddhi orèng ta’ andi’ bhing, kadhâng pas cem-macem sa è koca’, kèng maskè orèng ngoca’ apa, ta’ osa bâddhâi, mun se ta’ amanfaat ta’ osa edingngaghi. Poko’en alako karana Allah, jhâ’ rèng mun ta’ alako nèser orèng tako’ abâli, la karè dâpa’. Dhina bhing, ango’an neng-ngennemgnga. La pas alako, tako’ orèng bhutoh.”
(Tidaklah gampang nak (bhing: anak perempuan, jadi orang hidup. Bila jadi orang tidak punya nak, kadang macam-macam yang disebut, meski orang bilang apa saja tidak usah diwadahi, apabila yang tidak bermanfaat tidak usah didengarkan. Pokoknya bekerja karena Allah, sebab orang yang tidak bekerja, takut mereka kembali, sudah terlanjut sampai. Biarkan nak, lebih baik diam, yang penting bekerja, kuatir ada orang butuh)

Beliau menyatakan bahwa hidup itu tidak mudah, keadaan ekonomi seseorang yang berada di level menengah kebawah, terkadang membuatnya dicemooh. Namun, meski begitu, hal tersebut tidak perlu digubris, tidak perlu mendengarkan perkataan yang tidak bermanfaat. Sebab manusia bekerja karena Allah, jika berhenti bekerja karena perkataan, maka pelanggan akan pulang tanpa membawa rengginang yang dibutuhkan, karena stok produksi sudah habis. Nenek tidak ingin merugikan mereka, jadi sebaiknya diam saja, tidak usah menjawab perkataan mereka dan terus bekerja melayani kebutuhan.

Hati yang begitu ikhlas, beliau tetap melayani pelanggan yang bersikap variatif dengan baik. Tak jarang beliau merasa sakit hati, namun memilih diam dari pada harus kehilangan pelanggan. Kebutuhan pelayanan ini mulai dirasakan oleh nenek karena produksi rengginang nenek tersebut tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal saja, bahkan pembeli luar Madura dan TKI Malaysia juga datang membeli atas permintaan majikannya di negeri tersebut. Pelanggan datang, namun tak banyak dengan waktu yang tak tentu.

Saldo bersih yang dimiliki nenek ini tidak begitu sebanding dengan proses pembuatan rengginang. Sekali penjualan keuntungannya dibawah Rp.15.000,-. Sedikit uang yang disisihkan ini ternyata masih sempat disimpannya dibawah tikar, tempat tidur sekaligus tempat dimana beliau sholat dan berdzikir, untuk nantinya diberikan pada cucu-cucu beliau dikala sesekali berkunjung ke rumah tua ini.

Tidak ada yang tahu bagaimana isi hati nenek ini setiap harinya, nenek ini hanya menampakkan kebahagiaan pada orang sekitar dengan kondisi apa adanya. Tubuh yang sudah mulai rentan sakit, masih dipaksa untuk melayani pelanggan rengginang, hanya karena tidak ingin pelanggan kecewa dan pergi, serta perasaan yang selalu tidak ingin merepotkan siapapun, bahkan anak cucu, beliau melarang siapapun untuk memberi tahu kondisi beliau yang sebenarnya pada anak-cucu beliau.

Karena beliau sangat menjaga perasaan keluarga, beliau sangat tidak ingin ada yang konflik antara satu sama lain,  atau menimpa hal yang sama seperti yang beliau rasakan. Dengan perjalanan hidup yang seperti ini, entah sampai kapan beliau akan bertahan dengan keteguhan hati dan kondisi hidup yang dirasakannya sendiri itu.

Penulis adalah mahasiswi Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan, Fakultas Dakwah/KPI, Semester VI, ssal Sampang

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 1144525023286187637

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA