Mengembalikan Pesantren Pada Dunianya


Oleh: Wahdaniah,

Sejak dekade 80 dan 90-an, banyak pemikiran-pemikiran progresif yang menguliti seluk beluk pesantren, mulai dari kultur, tradisi, pemikiran dan sebagainya. Lompatan-lompatan pemikiran itu muncul dari greget untuk membuat pesantren beberapa langkah lebih maju. Ini biasanya muncul dari ilmuwan yang pernah mengenyam pendidikan pesantren lalu dan melanjutkan studinya di luar pesantren yang fokus pada masalah-masalah dunia kepesantrenan. mereka seakan melihat, bahwa ada yang kurang pas di dunia pesantren, dan masih perlu dibenahi sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Umumnya mereka melihat menganggap pesantren punya keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan lain. tapi disisi lain pesantren juga memiliki kelemahan-kelemahan yang justru pada sistem pengelolaan pendidikan lain itu. Kelengkapan-kelengkapan inilah yang mereka sarankan dan juga diadopsi oleh pesantren. semisal, bagaimana pesantren juga bisa membuka diri dengan mengadpsi materi-materi pendidikan yang lebih ‘mencerahkan’, termasuk di dalamnya mampu menyesuaikan dengan fenomena teknologi, globalisasi, dan seterusnya.

Akhirnya, meskipun tidak sepenuhnya mengikuti arus semacam itu, realitas di pesantren juga tidak mau ketinggalan, kerena perkembangan zaman global ini, terus mengejar perkembangan-perkembangan baru dan akan selalu berlangsung. Maka, dewasa ini amat jarang orang mengatakan “pesantren harus maju mengikuti perkembangan zaman”, karena realitanya sistem dan produk pesantren relatif dapat dapat bersaing dengan dunia luar.

Sementara itu, pendidikan modern dikritik karena memisahkan anak didik dari alam lingkungan, terutama dunia kerja dimana mereka berasal. Banyak anak nelayan, petani atau pedagang, setelah bersekolah tidak bisa kembali ke habitatnya, karena setelah menerima cita rasa pendidikan, mereka tidak lagi betah dengan dunia lama yang menghidupinya. Hal itu tidak lain karena pendidikan diselenggarakan tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi dan lapangan kerja yang ada.

Inilah yang mulai hilang dari pendidikan yang dianut pesantren (tradisional) waktu dulu. Pendidikan tradisional lebih bisa berdialog dengan lingkungan, karena pada dasarnya, pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan anak didik dalam mengelola dunianya sendiri. Kini, setelah pesantren banyak melakukan pergeseran-pergeseran, dari tradisonalisme ke modernisme, tentu saja dampaknya tidak berbeda dengan penerapan sistem pendidikan modern: anak didik terpisah dari alam lingkungan mereka berasal. 

Dampak terpenting sebagai imbas dari pergeseran tersebut tentu sangat kasat mata, jika ada pertanyaan, misalnya, seberapa banyak santri yang bercita-cita hendak memajukan sektor pertanian di desanya? Atau mungkin, adakah santri yang bercita-cita menjadi petani professional, kelak setelah ia pulang kampung?. Tentu saja pertanyaan ini terkesan lucu. Sebab arah pertanyaannya telah ‘lepas’ dari konteksnya. Tak ubahnya seperti ketika ada pertanyaan, “kapan bus ini take-of”? sebab istilah take-of, konotasinya tetap akan  mengarah pada pesawat terbang. Dan hukum kelumrahan seperti itulah yang lama-lama membentuk suatu konteks yang spesifik untuk dunia pesantren.

Kebanyakan, konteks pendidikan pesantren saat ini telah berubah dari sejarah awal dimana pesantren dibangun, yakni sebagai lembaga sosial keagamaan; mengayomi masyarakat sekaligus urusan keberagaman mereka. Kemudian, dengan sistem pendidikan yang modern,dunia pesantren tidak hanya sekedar dibentuk untuk mengatasi masalah-masalah lokal, yang berseliweran di tengah-tengah masyarakat. Namun lebih dari itu, pendidikan pesantren juga dipersiapkan untuk hal-hal yang bersifat global dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, sekaligus aneka ragam tantangan. Sesungguhnya, ini adalah respon positif pesantren terhadap globalisasi. Tapi malangnya, respon itu, malah mampu mendominasi akar (jati diri pesantren), sehingga cabang itulah yang lama-kelamaan membentuk konteks spesifik bagi pesantren.

Dari sini, maka tidak heran jika kemudian pesantren tidak banyak berintreraksi dengan masyarakat, demikian pula sebaliknya, masyarakat agak canggung untuk melakukan interaksi-interaksi langsung dengan pesantren dalam segenap problem yang mereka hadapi. Hubungan antara masyarakat dan pesantren, dengan sistem yang banyak diberlakukan dewasa ini, tak lagi seharmonis pada masa lalu hubugan keduanya; terlalu formal dan kaku, hingga terkesan kurang akur.

Masalah lanjutan yang lebih serius adalah pemberdayaan masyarakat. Jika para santri sudah tidak mengenal dunianya sediri, maka telah terpikat untuk mempelajari dunia orang lain yang tentu saja masih asing, maka kelak mereka jelas akan kesulitan untuk melakukan tindakan-tindakan  riil dalam rangka  melakukan peberdayaan masyarakat. Sebab di pesantren, sebelumnya mereka tidak pernah bersentuhan (baik secara teori maupun praktek) dengan dunia yang dulu melahirkannya, dan kelak akan menjadi tempat rujuknya.

Karenanya, barangkali cukup pas jika dikutip cerita D.Zawawi Imron dalam kumpulan artikelnya, Gumam-gumam dari Dusun. Bahwa pada suatu universitas, terdapat mahasiswa fakultas pertanian yang minggat dari kampus entah kemana. Tentu saja ia dicoret dari buku induk dan tidak lulus. Akhirnya, sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba namanya mencuat kepermukaan, dan dikabarkan telah berhasil menyuburkan berhektar-hektar lahan gersang di suatu desa. Ketika berkunjung ke kampusnya, ia mendapat sambutan hangat, penghargaan tinggi, dan dianggap kembali untuk almamaternya.

Cerita si Celurit Emas itu setidaknya merupakan gambaran yang cukup cerdas, bagaimana dan kemana seharusnya has dari pendidikan itu mesti didedikasikan. Maka bagi pesantren, melakukan penyesuaian-penyesuaian sistem adalah sebuah keniscayaan, akan itu tidak berarti harus menghilangkan identitas diri, atau abai terhadap kararkter dan status asalnya. Artinya, bagi pesantren, menggeser ‘tradisonalisme’ pada ‘modernisme’ adalah sah-sah saja,  sepanjang tradisionalisme itu tidak dipangkas hingga ke akar-akarnya. Sebab dari tradisionalisme itulah pesantren berangkat, hidup dan bangkit. Jika identitas asli digeser, maka pesantren bukanlah sebuah pesantren, dan barangkali bisa kehilangan jati dirinya. 

Wahdaniah, mahasiswi KPI/IV/IDIA Prenduan Sumenep

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8823675647154317254

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA