Jaran Goyang vs Kata Hati


Cerpen: Alviana

Apa salah dan dosaku sayang
Cinta suciku kau buang-buang
Lihat jurus yang akan kuberikan
Jaran goyang-jarang goyang


Bulan sabit mengambang di angkasa menjadi saksi perjalanan seorang pemuda berusia 17 tahun. Namanya Radit Saputra. Dia melangkah mantap menyusuri jalan setapak ditemani rimbunnya semak belukar yang tumbuh di pinggir jalan kecil itu. Langkahnya didorong oleh rasa sakit hati yang begitu dalam semenjak peristiwa empat hari yang lalu, yaitu Ketika pernyataan cintanya ditolak oleh seorang gadis yang telah lama dipuja dan dicintainya. Gadis itu teman sekolahnya. Radit ingin membalas sakit hatinya dengan cara menaklukkan hati gadis itu bagaimanapun caranya.

Radit bertekad ingin meminta bantuan kepada Ki Sunamo, seorang laki-laki tua di kampunnya yang dipercaya mempunyai ajian yang sangat ampuh dalam hal menaklukkan hati seseorang dalam waktu singkat dan bisa membuat seseorang yang dituju benar-benar bertekuk lutut. Ajian jarang goyang adalah andalannya.

Radit Saputra telah sampai di tempat yang dituju. Sebuah rumah kecil yang sebenarnnya lebih pantas disebut gubuk telah berdiri di depannya. Rumah itu terbuat dari anyaman bambu dan dengan atap yang terbuat dari daun siwalan. Rumah itu berdiri jauh dari tentangga di sekitarnya seakan pemiliknya sengaja menghindarkan diri dari keramaian. Untuk menjangkau rumah itu pun harus melewati jalan setapak yang berkelok-kelok.

Radit Saputra duduk bersila di hadapan seorang laki-laki tua yang umurnya berkisar 70 tahun. Tatapan laki-laki tua itu tajam dengan jenggot putih yang memanjang. Di hadapannya terdapat beberapa keris dengan variasi bentuk yang aneh, buku-buku lusuh dengan sampul tulisan Jawa kuno, dan beberapa barang antik yang tidak Radit kenal. Bahkan, seumur hidup baru sekarang Radit melihatnya dan juga aroma khas dari dupa yang asapnya mengepul pun merasuk indra penciumannya.

“Siapa nama gadis itu?” tanya Ki Sunamo dengan suara yang dalam.

“Gadis itu bernama Zulfa Aulia, dipanggil Zulfa,” jawab Radit sembari menyerahkan sebuah foto berukuran 4x6, tercetak jelas seorang perempuan manis berkerudung biru sedang tersenyum di foto itu. Ki Sunamo menerimanya, lalu meletakkan foto itu di samping dupa yang asapnya mengepul sejak tadi.

“Tunggu dalam tiga hari. Gadis itu akan benar-benar bertekuk lutut dan takluk kepadamu,” ucap Ki Sunamo dengan suara mantap. Radit mendengarnya dengan hati penuh harap.

Sekitar pukul 20:21 Radit meninggalkan rumah kecil itu. Dia baru sampai di rumahnya hampir larut malam karena selain jaraknya yang cukup jauh untuk sampai di tempat itu dan juga hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

“Datang dari mana kamu sampai selarut ini?” tanya ibu Radit tidak sabar.

“Datang dari rumah teman. Ngerjain tugas sekolah,” jawabnya santai, lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan ibunya yang    ingin menginterogasi dengan pertanyaan selanjutnya.

***

Waktu yang ditunggu telah tiba. Ini adalah hari yang dijanjikan Ki Sunamo. Radit berangkat ke sekolahnya dengan perasaan yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan hati pujaan hatinya. Zulfa Aulia pasti akan bertekuk lutut padanya, setidaknya itu yang ada di pikiran Radit.

Seulas senyum manis menyambut kedatangan Radit di pintu gerbang sekolah. Senyum manis itu milik Zulfa Aulia. Senyum itu membuat hati Radit semakin yakin dan mantap. Saat itu Zulfa sedang berdua dengan temannya, Riska.

“Hai Zulfa, Rika,” sapa Radit kepada keduanya.

“Hai Radit,” jawab Rika, sedangkan Zulfa tak henti-hentinya menyunggingkan senyum manisnya kepada Radit.

***

Jam sekolah berakhir. Radit menghampiri Zulfa yang berdiri di samping gergbang sekolah menunggu jemputan.

“Nunggu dijemput?” tanya Radit basa-basi.

“Iya, Dit,” jawab Zulfa masih dengan senyum merekah.

“Zul, tawaranku seminggu yang lalu masih berlaku lho. Aku ingin kepastian kamu lagi sekarang mengenai perasaanku yang telah kamu tolak seminggu yang lalu. Siapa tahu dalam waktu seminggu ini ternyata kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku dan berhasil mengubah keputusanmu seminggu yang lalu itu,” ucap Radit panjang lebar dengan hati penuh harap. Radit sudah sangat yakin bahwa kali ini akan berhasil.

“Radit! Mungkin kamu adalah orang pertama yang akan aku beritahu sebuah kabar bahagia. Seminggu lagi aku akan bertunangan dengan seseorang yang sudah menjadi pilihanku sejak lama. Maaf Dit.” Mendengar pernyataan Zulfa seperti itu, hati Radit semakin terkoyak. Terhempas sudah harapannya untuk memiliki Zulfa bersamaan dengan apa yang telah dijanjikan oleh Ki Sunamo. Radit kecewa.

Sebuah sepeda motor Vario berhenti di seberang jalan. Seorang cowok berkulit putih tersenyum manis kepada Zulfa. Cowok itu terlihat melambaikan tangan.

“Dia adalah calon tunanganku. Namanya Ahmad Idhafi,” ucap Zulfa bersemangat.

“Aku duluan, Dit,” tambahnya sembari menghampiri cowok itu. Radit menyaksikan kepergian mereka berdua dengan hati miris.

“Hey!” tiba-tiba seseorang mengejutkan Radit. Dia adalah Rika, sahabat Zulfa. Radit hanya tersenyum kecut.

“Dit! Sebenarnya Zulfa pernah curhat kepadaku kalau akhir-akhir ini dia selalu terbayang-bayang wajah kamu. Dia bilang bayangmu selalu menghantuinya, bahkan dalam tidurnya sekalipun. Namun, dia sadar bahwa apa yang terjadi kepada dia akhir-akhir ini bukanlah berasal dari kata hatinya sehingga dia bertekad untuk tidak memedulikan semua itu dan lebih memilih menurut apa kata hatinya,” jelas Rika.

Radit mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengerti dan sadar bahwa cinta sejati harus diperjuangkan dengan cara yang murni dan tulus. Radit sadar, cara dia untuk mendapatkan Zulfa dengan pergi ke Ki Sunamo adalah salah. Dia semakin kagum kepada Zulfa, seorang gadis yang lebih mengikuti apa kata hatinya.

“Semoga kamu bahagia, Zul. Sekarang aku ikhlas,” gumam Radit pelan sambil tersenyum samar.

Juruan Laok, 28 Februari 2020


******


Alfiana
Alviana. Lahir di Juruan Laok, 25 Juni 2001. Menempuh pendidikan di MI Darussalam Juruan Laok, MTs  Miftahul  Ulum  Batang-Batang,  dan SMA Nurul Jadid Batang-Batang. Saat ini, dia masih berstatus sebagai pelajar SMA Nurul Jadid. Penulis sangat mencintai literasi dan aktif dalam organisasi literasi sekolah. Dia memiliki hobi membaca, baik fiksi dan nonfiksi. Selain itu, dia sangat menyukai novel yang bergendre misteri. Prestasi yang pernah dicapai mendapatkan penghargaan sebagai juara 3    Addhuen nyerrat carpan Madhura se-Madura dengan judul Naleka Adhat Nyandhang Taresna.





MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3588745594593859250

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA