Senja



Cerpen:  Siti Ria Khoiriah

Senja itu, sehari sebelum hari raya idul fitri aku tengah berbaring melepas penat sejenak di kamarku yang nyaman disela-sela kesibukanku membantu ibu membuat kue di dapur. Aroma sedap bolu kojo  menyeruak tercium hingga ke kamarku, bolu kojo adalah makanan khas Sumatera Selatan dibuat dari tepung beras, warna hijau alami serta aroma yang menggiurkan dihasilkan oleh daun pandan yang dihaluskan kemudian diambil saripatinya.

Bolu ini khusus dibuat ketika ada perayaan keagamaan dan acara resmi lainnya seperti pernikahan, acara adat, syukuran, dan lain-lain. Aromanya yang sedap membuat siapa saja meneguk air liur, adik bungsuku yang baru belajar berpuasa suda berkali-kali merengek ingin membatalkan puasanya, tapi ibuku dengan kesabaran beliau yang tak bertepi, selalu mempunyai cara untuk membujuk si bungsu agar tetap berpuasa, sebelum masuk kamar tadi, ku lihat si bungsu sibuk bermain dengan teman sebayanya.

Senja itu, semilir angin berhembus pelan menenangkan hati, sayup-sayup terdengar suara murottal dari toa masjid di kampungku, kesibukan benar-benar terasa, semua orang bersiap-siap menyambut hari kemenangan. Aku kembali berfikir sampai kapan aku begini? Akan kemana ku bawa hidupku ini? Secara fisik aku terlihat baik-baik saja, hidup ditengah keluarga yang hangat, memiliki orangtua yang melimpah ruah kasih sayangnya, dan sekarang aku tercatat sebagai guru tetap di madrasah dan guru ngaji di musholla “Baitul Inabah”. Tapi keresahan hati ini sudah setahun terakhir selalu membayangi, jauh di lubuk hatiku masih tersimpan rapi keinginan untuk kuliah, untuk meneruskan pendidikanku.

Bayangan teman-temanku yang melanjutkan studi mereka ke jenjang S1 membuat selera makanku menurun, bayangan mereka yang berlari-lari di koridor kampus untuk mengejar kelas membuat hatiku cemburu dan dalam diam tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku aku sering menangis karena keinginan untuk kuliah ini  menyiksa batinku.

“Assalamu’alaikum! Aisyah! Aisyah!” suara Ayah dari depan rumah membuyarkan lamunanku, aku membatin dalam hati, tidak biasanya Ayah kembali jam segini? Ayah adalah sosok yang sangat aku sayangi dan hormati, beliau adalah idolaku setelah nabi Muhammad.

Karakter beliau benar-benar telah membuatku sadar bahwa pelajaran sabar takkan pernah habis dibahas sebatas dalam kelas, melainkan kita senantiasa akan terus diuji dengan pelajaran kesabaran ini. Di akhir bulan Ramadhan ini Ayah akan sangat sibuk di masjid, beliau menjadi amil zakat yang bertugas mengurus zakat fitrah.

“Ya Ayah, Aisyah ada di kamar, ada apa?” baru bertanya Ayah telah berdiri di ambang pintu sambil membuka gorden kamar dan tangan lainnya membawa secarik kertas.

“Ada beasiswa ke pulau Jawa, ini kesempatan emas nak, Aisyah masih berkeinginan untuk kuliah kan?” jawab Ayah to the point, aku terpana tak dapat berkata-kata mendengar kabar ini.
“Ada apa yah?” tanya ibu yang muncul dari dapur, tangan Ibu masih belepotan adonan kue, keringat membasahi pelipis beliau.
“Ini bu, Ayah dapat informasi dari teman Ayah, ada beasiswa hifdzul Qur’an ke pulau Jawa” setengah terkejut wajah Ibu dan tak dapat aku tafsirkan ekspresi itu.

“Sekarang Aisyah pikirkan baik-baik kesempatan ini nak, Ayah sebenarnya tahu, menuntut ilmu ke pulau Jawa adalah impian Aisyah sejak SMP, betul?”

Tanganku bergetar memegang formulir itu, jantungku berdegup kencang, rasa bahagia, tak percaya, bimbang dan cemas melebur menjadi satu dalam dada.

“Beasiswa hifdzul Qur’an gimana yah?” tanya ibu.

“Jadi program ini dari pemerintah daerah dikhususkan untuk anak-anak yang ingin melanjutkan studi S1 sembari menghafal al-Qur’an” mendengar sembari menghafal timbul pertanyaan-pertanyaan di kepalaku

“Universitas mana yah? Kuliahnya sambil mondok gitu?”

“Kamu pernah dengar pondok Al-Amien Prenduan di Jawa Timur, di sana ada perguruan tingginya, pondoknya bagus, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Arab dan Inggris”

“Ohh Al-Amien, Aisyah tahu pondok itu yah, pimpinan pondok Aisyah waktu SMP dulu alumni dari Al-Amien” jawabku antusias

“Waktu itu ketika Aisyah bilang ingin kuliah, lalu melihat Aisyah murung dan tidak semangat mengajar membuat Ibu kepikiran. Ibu dan Ayah bukan tidak ingin menguliahkanmu nak, kami hanya tidak mau Aisyah tinggal di lingkungan yang tidak baik, Aisyah sudah paham betul bagaimana bahayanya pergaulan di luar sana” mata Ibu berkaca-kaca, aku mencerna dengan baik apa yang Ibu sampaikan.

Tiba-tiba si bungsu berlari dan berteriak dari depan rumah, “Ibu!! Bedug!, buka puasa! Ye ye buka puasa makan bolu kojo” kami serentak menoleh dan tertawa melihat tingkah si bungsu yang sangat menggemaskan itu.

Takkan ku lupakan senja itu, wajah Ayah, Ibu dan si bungsu terekam jelas dalam ingatan. Aroma bolu kojo samar-samar tercium di alam pikiranku. Sekarang tiga tahun setelah senja itu aku di sini menyibukkan diri dengan organisasi, menghafal al-Qur’an, dan mengasah potensi diri. Betul pepatah bijak yang mengatakan semakin banyak engkau menguasai ilmu, maka akan semakin bodoh dan merasa tak punya apa-apa jika dibanding dengan ilmu Allah yang maha mengetahui. Aku dan teman-teman sedaerah lainnya termasuk 8000 santri beruntung yang menimba ilmu di pondok pesantren Al-Amien Prenduan.

Jika setiap sesuatu yang kita inginkan dapat terwujud, maka dari mana kita belajar arti kesabaran? Sekecil apapun kesabaran hari ini pasti esok lusa akan berbuah, dan perlu kalian tahu pembaca yang budiman, saat kesabaran itu berbuah kita akan sangat bersyukur seraya berucap dalam hati betapa ni’matnya buah kesabaran ini.

Siti Ria Khoiriah, Asal Muratara, Palembang,   mahasiswi semester:VI Intensif (PAI) IDIA Prenduan Sumenep


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Kolom Aja 8480807152410785160

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA