Santri; Media Sosialisasi dan Dakwah Islami

Oleh : Anisa

Beberapa waktu yang lalu, barangkali  masih lumrah kita dengar  bahwa santri adalah personal-personal yang kolot, terlalu menutup diri dari perubahan, dan tidak berperan dalam masalah domestik negara. Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman, asumsi tentang santri yang demikian sudah tidak diimani lagi. Sebab mereka tidak hanya menekuni ilmu-ilmu agama. Semua bidang ilmu bagai permata yang sayang sekali apabila dibiarkan berlalu begitu saja. Maka tidak heran jika kemudian kita lihat banyak santri yang menjadi tokoh-tokoh penting di negara. KH. Ma’ruf Amin misalnya. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menghimbau agar  santri selalu siap berprestasi, siap di era digital, untuk melestarikan pesantren sebagai pusat pengkajian kitab yang lebih mantap.

Pada esensinya, santri adalah sebutan bagi seseorang yang belajar agama islam di pesantren dan menjadi unsur utama dari terbentuknya sebuah pesantren. Secara terminologi, santri berasal dari bahasa sanskerta Shastri yang memiliki akar kata sama dengan “Sastra” yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. Ada pula yang mengatakan bahwa santri berasal dari kata “Cantik” yang artinya para pembantu begawan atau resi, seseorang yang cantik tersebut kemudian diberi upah berupa ilmu pengetauan oleh begawan dan resi tersebut. Barangkali, cantik yang dimaksudkan adalah bagusnya akhlak yang dimiliki oleh seseorang yang mengabdi.

Akan tetapi, jauh dari figur tersebut, santri meupakan pandangan hidup tentang seluruh kepercayaan dan keyakinan, sehingga mereka mendapat gelar manusia yang benar-benar manusia lahir batin. Santri memikul amanah yang luar biasa berat baik di pesantren maupun setelah boyong dari pesantren. Dari saat mereka masih berstatus sebagai santri aktif, mereka berkewajiban untuk mematuhi dan menaati semua perintah dan aturan dari pengasuh dan pengurus pesantren.

Dari sinilah bekal kehidupan masa depan bermasyarakat dimulai. Setelah resmi dinyatakan boyong dari pondok pesantren, mereka langsung dihadapkan pada lautan kepercayaan, tanggung jawab amanah, dan kepada santrilah harapan masyarakat dipulangkan. Sebab hanya santri yang dipercaya mampu memimpin umat setelah ulama dan kiai dalam personelia terkecil kehidupan bermasyarakat. Untuk itulah Fardu ‘ain kiranya bagi santri dalam menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan iptek yang semakin berkembang di muka bumi. Agar Indonesia tidak selalu terbelakang dengan tetap mengamalkan ajaran-ajarna dalam rambu-rambu kebenaran.

Mengingat Indonesia adalah negara dengan keragaman suku bangsa dan bahasa yang terangkum dalam Bhinneka tunggal ika, menjadikan masyarakat terbelah menjadi dua bagian. Yaitu masyarakat primitive yang menolak setiap bentuk perkembangan iptek, dan masyarakat yang membuka tangan menerima kemajuan iptek. Alasan inilah yang kemudian mewajibkan santri agar dapat membatasi pergerakan aktif mereka jika sewaktu-waktu tidak sejalan dengan syari’at islam. Baik di media sosial, maupun di media-media yang lain. Berbekal kepercayaan yang dimiliki oleh santri dalam urusan ajaran agama, memungkinkan santri lebih mudah didengar. Dengan cara mensosialisasikan kepada masyarakat luas melaui media sosial bahwa terdapat manfaat besar yang akan diperoleh seandainya masyarakat mau menggunakan teknogi sebaik-baiknya.

Akan tetapi, jauh dari semua itu, masyarakat yang dengan membuka tangan dalam menerima kemajuan teknologi malah memanfaatkan media sosial informasi sebagai ajang penyesatan rakyat secara meluas. Pembdohan massal mengenai ajaran-ajaran yang sangat menyimpang dari akhlus-sunnah wal jamaah tentu akan merugikan kaum muslim. Umat islam yang terkadang masih berjuang dalam tahapan pemahaman ajaran agama islam malah dengan mudah menseratus persenkan semua yang ada di media informasi. Padahal mereka tidak tahu, terdapat oknum-oknum yang sengaja ingin menyesatkan umat islam melaui syariat yang sudah tidak lazim dan tidak sesuai lingkaran akhlus-sunnah wal jamaah. Wahhabi misalnya. H. Luthfi Bashori dalam bukunya Sunni dan Wahhabi menuliskan bahwa upaya pembunuhan karakter dan penghilangan ciri khas amaliah warga muslim asli Indonesia semakin marak dilakukan oleh oknum-oknum pendatang.

Dengan mudahnya mereka mengkleim dan menuduh bahwa suatu ajaran dan pemahaman tertentu sebagai bid’ah, sesat, bahkan syirik. Tentunya tuduhan salah yang tidak mendasar ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Memberi pemahaman tentang hal yang sebenarnya adalah kewajiban bersama. Yaitu dengan meluruskan dan mendudukkan perkara sesuai ajaran syariat.

Disinilah santri dedikasi santri sangat dibutuhkan. Sebagai generasi milenial, santri mempunyai tantangan untuk meluruskan informasi-informasi merah jambu yang berseliweran. Dimulai dari serbuan pemahaman-pemahaman yang tersebar di media informasi dan teknologi yang menandakan bahwa di era ini, aspek-aspek kehidupan memasuki dunia virtual. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menbantahnya sesuai dalil dan nash yang dipelajari di Lembaga pesantren.

Secara tidak langsung, santri diharapkan mampu memawaskan diri agar sepenuhnya dapat memahami yang sebaenar-benarnya era kini, sehingga mudah bagi mereka sebagai mediator atau dalang di balik layer untuk membantah dan memfilter melalui karya agar tidak terjadi pembodohan dan penyesatan massal secara kontinou. Menyikapi masalah penyimpangan ajaran islam keluar dari ruang lingkup aswaja di media sosial, Gusmus menegaskan bahwa hari ini ketika semakin banyaknya tontonan dan sedikitnya tuntunan, menjadikan apa yang menjadi tontonan sebagai tuntunan. Serta semakin canggihnya teknologi, maka semakin menguaknya fitnah dan kesesatan serta aib yang tersebar.

Terkait dengan tersebarnya pemahaman-pemaham di media sosial di luar aswaja, kiai Warits selaku salah satu pengasuh pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sangat tegas menginginkan agar aswaja menjadi tata gerak dan  ekspresi yang diperlihatkan oleh hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya dan dari manusia kepada Tuhan. Kiai yang sangat memahami sejarah keaswajaan dengan detile ini pernah menyampaikan dibeberapa kesempatan perihal hadist nabi mengenai Al-Firqoh an-Najiyah, terpecahnya manusia menjadi beberapa golongan.

Sedangkan majalah Tebuireng juga memaparkan disalah satu rubriknya bahwa kemudian banyak golongan yang tampil di tengah masyarakat dan mengacak-acak aqidah umat sehingga tak lagi tampak antara yang hak dan yang batil. Disanalah ruh aswaja dihadapkan pada tantangan wahabiisme, neoliberalisme, syi’ah serta kecamuk aliran lainnya yang saling berebut untuk mengeluarkan kader-kader aswaja dari aqidahnya yang semula dengan berbagai cara.

Disilah santri harus benar-benar memaksimalkan kemampuannya untuk membantah dan langsung menyesuaikan kembali persebaran pemahaman-pemahaman yang sengaja dibelokkan dari aliran Aswaja. Sebagaimana yang dilakukan oleh KH. Muhammad Hosnan, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah daerah Kusuma bangsa, yaitu membuat blog cyber khusus santri untuk berkarya. Setiap kali terdapat isu-isu yang menyimpang dari aliran NU yang ASWAJA, maka santri diharap bisa berargumen dengan bantahan yang didasari dalil-dalil yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah di blog cyber santri NU tersebut.


Anisa adalah  Siswi kelas akhir MAPI yang aktif, di Sanggar Sareang, dan anggota FLP Ranting Annuqayah Latee II.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7334721626212128860

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA