Sajak-Sajak Rizki Pauziah Siregar, Medan

Rizki Pauziah Siregar, lahir di  Sibuhuan, Medan,  22 Desember 1998, sekarang tercatat  sebagai mahasiswi Semester VI Jurusan  Ilmu Al-Qur’an Tafsir, Fakultas: Ushuluddin,  IDIA Al-Amien Prenduan Sumenep Madura.  Hobbi: Membaca Novel, Menulis Puisi, Memasak

*****

Air Mata Kesuksesan


Terkadang dunia tak berpihak padaku
Ku tersesat dalam lembah yang gelap
Ku terjatuh tak berdaya...
Diriku terluka, jiwaku pun terkoyah
Aku goyah akan impian yang telah ku bangun
Kenapa ini semua terjadi...?
Apakah diri ini tak pantas untuk itu?
Oh tuhan..!!
Ku ingin teriak..., dan ingin ku hampaskan semua ini
Tapi ku tak boleh lakukan itu semua...
Sebab impianku haruslah jadi impian yang nyata
Kesuksesan... harus berlutut padaku
Karena, kesuksesan bukanlah sekedar tujuan bagiku
Tapi, kesuksesan adalah perjalanan hidupku


Rindu yang Tak Sampai

Maaf bibirku tak mampu merajut kata
Mataku gak bisa berbohong
Hatiku tak bisa memetikkan nada indah
Ku lihat hujan menari di atas bumi
Air mata pun mengalir di lembah pipi
Tak kuasa jiwa ini....
Sebab rinduku terlanjur tersirat di hati
Kau bagaikan matahari...
Yang kusayangi, tapi tak mampu kugapai
Hanya bisa ku kagumi dalam diam sendiri
Ya ilahi...
Jantungku bergetar kencang tak terpungkiri
Sayap ini terasa patah tersakiti
Teruntukmu wahai matahari...
Bisakah engkau mengobati luka sayapku ini??
Kan ku tunggu sinarmu dalam sujudku di malam hari...

Tagisan Bidadari Dunia

Tuhan tolonglah hapus dia dari hatiku
Kini takkan pernah terjadi kisahku dengannya
Ku sakit tertusuk duri
Terhempas sudah rasa ini
Yang pernah kutitipkan padanya
Senja yang tak bisa ku mengerti
Aku hanya manusia biasa bukanlah bidadari
Seperti  harapmu  selalu disisi
Kini ku tahu cinta tak mesti memiliki
Walau aku senang bukan berarti ku bahagia
Ada ragaku hilang tak ku ketahui dimana
Untuk apa lagi ku bertahan  akan hal ini ...
Angin bawa rasa ini menjauh dari diri
Tuhan... Ku ingin lupakan...
Hamba-mu  yang pernah kudambakan


Teguran Sang Ilahi


Buah hati semakin sulit diatur
Pergaulan semakin hancur...
masyarakat banyak yang kufur
Tak ingat mati dan siksa kubur...
Diri yang tak pernah bersyukur...
Atas nikmat tuhan yang tak terukur
Semua selalu berpikir...
Bagaimana cara dapatkan harta dan tajir
Siapkan berbagai  taktik, tak mau tersikir
Mesjid tak lagi terukir...
Karena manusia begitu kikir
Teguran tiba dengan air mengalir
Ialah banjir yang takkan terungkiri
Wahai manusia yang tak berpikir...
Bertaubatlah, kepada tuhanmu yang tak pernah kikir


Serigala Berjubah Emas

Kaki- kaki terus beraktivitas
Tangan- tangan  tuntaskan semua tugas
Pikiran berlari.. Begitu ganas.
Lembah pun terbentang luas
Serigala berjubah emas...
Berhamburan, di bumi yang panas..
Semut- semut diinjak...sampai lemas
Lupa akan asas dan batas
Senyuman pun terulas puas..
Manusia menjauh...
Ibadah semakin malas
Ya robbi...!
Ampuni kami yang tak pernah pantas
Atas nikmat-mu yang sangat luas

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3122941494583709142

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA