Sajak-Sajak Lailatul Husni, Jember

Lailatul Husni, asal Jember, kini sebagai mahasiswi Fakultas Dakwah, Prodi KPI,  Institut Dirosat Islamyah Al-Amien (IDIA) Prenduan, Sumenep

*****

Asaku

peduli,acuh
egois,ramah
tangis,tawa
sedih,bahagia
semua.....
dirajut seulah tingkah
menjadi asa yang melekat pada raga


Tawa Lepas

getaran alam merespon tawa lepasmu
angin merekam setiap kejadian
tak ada bunyi suasana sunyi
dihiasi beraneka tawa
tawa jahat
tawa sinis
tawa kemenangan
tawa sekarang bukan lagi tawa kebahagiaan
melainkan tawa jahat yang menyimpan seribu dendam


Keringat Dingin

kucuran air membasahi tubuh mungilku
hati gelisah tanpa henti
detak jatung terus berderu bak motor rusak
wajah memerah bak ditaburi bluss on
pikiran lari terbirit-birit
tak ada titik fokus untuk diucapkan
namun keringat dingin mengadu pada kenyataan
aku benci kehadiran
aku benci dilihat orang
dan aku tak mau bersahabat dengan keraguan


SajakMu MelumpuhkanKu

sajak rindumu menghentikan malamku
sajak cintamu membiarkan senyapku
sajak kasihmu menghilangkan senyumku
sajak sajakmu mengiyakan semua baitku
kau tak pernah berhenti memukaukanku
kau tak pernah puas menggodaku
bahkan....
kau punya seribu jurus untuk melumpuhkan ku


Dibawah Alam Sadar Ku

alunan nada menjebakku dalam lenyap
mata terpejam
telinga tuli
mulut membisu
pikiran hilang mengenal alam mimpi
ku terperangkap ditengah hutan yang tak berujung
ku juntaikan tubuh yang tak berdaya
tak ada tanda kehidupan ku harapkan
entah apa yang harus ku lakukan
binatang buas yang siap menerkam tubuhku
menatap tajam tak ada maaf
keringatku terus mengalir
tubuhku terbujur kaku
tiba-tiba sebuah tangan menyentuhku
berharap, ku segera kembali ke alam sadar ku


Diam

Sentuhan matamu mengalirkan cinta
Getaran aneh mengrogoti tubuhku
Diam seribu bahasa
Layaknya mumi yang tak berdaya
Layaknya patung liberty yang menebarkan pesona
Tiada guna namun banyak makna


Teriakan Matahari

Teriakan matahari menyadarkanku dari lamunan
Benda-benda diam membisu
Tak ada yang bergerak
Menunggu bait-bait yang akan disyairkan


Halamanku
 
Mentari tak lagi menyinari halamanku
Bunga di depan gubuk tua ku tak kembali bermekaran
Tanah sekitar bukan lagi terlihat seperti tanah
Melainkan lumpur yang menguasainya
Angin berhembus kencang
Tak mau berhenti seakan marah pada lagit
Halaman ku....
Diselimuti awan hitam yang tak mau bersahabat
Disini tersayat luka yang menghasilkan tangis
Kebisingan bermunculan sesuai alur
Tak peduli siapa di sampingnya
Halaman ku....
Hancur ditimpa coklat mengerikan
Tangisan menyeruak penuhi sisa ruangan yang rapuh
Seakan menuntut, semuanya kembali utuh


Pagi Ku adalah Kamu

Dikau asing tapi disukai
Dikau sulit tapi digemari
Dikau aneh tapi ditelusuri
Mulut ku tak berhenti mengingatmu
Lidah ku lentur karena mu
Bak bule yang lontarkan katanya
Telinga ku tuli dari bahasa sendiri
Mata ku buta dari tulisa tak asing
Mulut ku bisu lontarkan bahasa ku
Yang ada hanya kamu
Yaa kamu, bahasa asing ku





Tulisan Terkait

Utama 5568869892961743721

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item