Pentigraf Sarana Pembelajaran Sastra yang Efektif


Lilik Rosida Irmawawi saat mempresentasikan  bukunya


Buku Kitab Pentigraf “ Tikaman Penuh Senyum” karya Lilik Rosida Irmawati, lagi, dibedah dihadapan para siswi Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah,  Putri, Guluk-guluk Sumenep,  Jum’at pagi, 7 Pebruari 2020.

Dalam kesempatan tersebut sang penulis, Lilik Rosida Irmawati menyebut, menulis pentigraf tidak sama dengan menulis catatan harian.

“Sebagai karya sastra, pentigraf bukan memindahkan pengalaman ke dalan tulisan begitu saja, tetapi perlu diolah (diangkat) menjadi sebuah realitas baru, realitas sastra, realitas imajinatif,” jelasnya.

“Dalam ruang yang terbatas (hanya 3 paragraf), seorang pentigrafis dituntut menyertakan 4 unsur pokok sebuah cerpen dalam tulisannya: tokoh, alur, seting, dan tema,” katanya.

“Untuk itu, menulis pentrigraf butuh kejelian dalam menyusun kata dan kalimat sehingga apa yang ditulisnya tidak terjebak pada tulisan, sebagaimana ditulis dalam bentuk cerita pendek. Standar penulisan pentigraf hanya butuh tulisan ukuran kertas A5,” jelasnya.
M. Faizi
Dalam kesempatan yang sama, hadir pula M. Fauzi yang memberikan apreasi terhadap buku kitab pentigraf ini sekaligus memberi motivasi kepada para siswai.

Sastrawan yang lahir dan besar di Ponpdok Pesantren Annuqayah ini, menyebut karena menulis pentigraf lebih pendek dari cerira pendek, maka dibutuhkan strategi penulisan yang praktis, padat dan benar-benar hemat kalimat.

“Dalam kondisi masyarakat sekarang yang serba sibuk, memang butuh bacaan yang pendek dan praktis. Jadi bisa saja, ketika ibu-ibu sedang sibuk memasak di dapur,masih ada kesempatan sambil membaca pentigraf, karena hanya beberapa menit cerita yang dibaca tuntas,” jelasnya.

Syaf Anton Wr yang terlibat juga memberikan apresiasi pada acara tersebut mengatakanpentigraf sangat efektif sebagai sarana pembelajaran menulis fiksi, karena dalam proses tulisaannya tidak membutuhkan banyak kalimat.

“Sebagai tulisan fiksi, pentigraf akan menjadi menarik bagi siswa dalam menerjemahkan imajinasinya dalam bentuk tulisan’” ungkapnya di hadapan sekitar seratus siswi.

Dialog yang dipandu oleh Asy’ari Khotib itu berlangsung cukup manarik, dan memunculkan keinginan siswa untuk memulai menulis pentigraf, yang selama ini masih condong menulis puisi. (Audi)

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 3005171880672287885

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA