MIrabilis Jalapa (bukan) Santri Jancukers


Cerpen:  Zaa Nizara

     Aroma parfum L’eau D’Issiy seorang gadis yang baru saja melintas masih membaui penciumannya. Bakri begitu larut dalam penasaran yang tak biasa. Gadis dengan jilbab pink Baby seakan memiliki daya tarik berbeda. Tak seperti biasanya Bakri begitu berhasrat untuk memikirkannya. Entah siapa namanya. Namun semenjak peristiwa dua hari lalu, ia nampak begitu yakin, gadis yang senantiasa menundukkan pandangannya itu bukanlah gadis sembarangan. Lebih tepatnya ketika Bakri menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ia dipotret beberapa kali oleh orang yang diyakininya sebagai paparazi.

    “Ceritakan padaku sedikit tentang Marabilis jalapa!” sontak Bakri terlonjak dari tangga masjid saat mendapati Gus Army menegurnya. Segera ia menciumi tangan Gusnya itu dalam gemetar yang tak bisa diartikan. Dadanya naik turun dari saking terkejutnya. Aneh. Tak seperti biasanya Gus Army menyapa santrinya begini.
    “’Afwan, Gus. Apa yang mesti diceritakan?” sungkan Bakri bertanya. Tampak lelaki gagah yang dipanggil Gus Army itu membenarkan posisi tepat di dekat Bakri. Tangannya menepuk-nepuk lantai tangga mengisyaratkan bahwa Bakri dipersilahkan duduk.
    “Kau pasti tahu geng Marabilis jalapa, bukan?”
    Mantap Bakri menjawab “Geng yang beroperasi tepat pukul empat menuju fajar dan senja”
    “Lalu?”
    “Lalu apa?”
    “Hanya itu?” Bakri mengangguk.
    “Dasar Bodoh! Percuma aku mendatangimu kemari” tampak Gus Army geram. Bakri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak mengerti atas apa yang baru saja disampaikan oleh Gusnya itu. Meski sebenarnya, Bakri tidak suka ambil pusing. Ia merasa keputusannya tidak pernah salah mengenai geng Marabilis jalapa. Memang tidak banyak yang tahu tentang gengnya itu.

    Sebuah geng di Pondok Pesantren yang hanya beroperasi tepat jam empat sesuai dengan arti istilahnya. Marabilis jalapa merupakan nama latin dari bunga pukul empat. Namun kenyataannya, dari kedua belas anggota geng tersebut, tak satupun dari mereka  yang mencirikan sebagai bunga. Malah mereka lebih  condong pada Drosophila si lalat buah. Dari kebiasaannya yang suka mencuri makanan dan fasilitas santri lalu menghilang ketika jam empat tiba, mereka menjadi satu-satunya geng yang tidak pernah bisa diberantas oleh pengurus Pesantren, bahkan oleh Kiai sekalipun. Disanalah Bakri dan sebelas temannya menguji sucinya sebuah ambisi.

***
   
Seperti biasa. Bakri, Samsul, dan Fuad duduk-duduk di serambi masjid sambil memperhatikan santri-santri yang berlalu lalang dihadapannya. Berbeda dengan Aji dan Rahman yang meskipun menjadi salah satu dari mereka, senantiasa menengadahkan  tangan ke langit-langit di dalam masjid berdoa kepada Allah. Sebenarnya mereka semua adalah santri yang baik. Akan tetapi mereka tidak tahu cara mengeksplorasi hoby dan kesukaannya. Fuad pandai melukis, bukannya dilukis disebuah kertas lukis, malah memenuhi tembok dengan lukisan-lukisannya.
    “Jam empat, jangan lupa ngumpul di luar gerbang utama!” perintah Bakri yang tiba-tiba melengang pergi begitu saja  membuntuti dari jauh gadis berjubah  biru laut yang menuju ke arah toko serba ada Pesantren. Suka tidak suka, gadis itu harus memberi tahu nama dan alamat kamarnya padaku, batin Bakri.

    Tepat ketika berada di kiri jalan, sebuah mobil lolos menarik tubuh gadis itu kedalamnya. Sempat terlihat pemberontakan, namun apalah dayanya. Mobil melaju dengan membawa sebentuk penasaran dan insiden panjang yang Bakri rasakan. Segera ia mengejar mobil itu dan dengan mudah badannya menyembul masuk kebagian badan belakang mobil. Sudah biasa baginya melakukan hal yang demikian tanpa diketahui oleh siapapun.

Sungguh panas luar biasa punggung Bakri. Mesin mobil terdengar serak namun angkuh dengan ke empat ban besarnya membelah jalanan. Entah kemana penculik itu akan membawa gadis itu pergi. Diam-diam Bakri mengintip.  Geram rasanya melihat perempuan diperlakukan tidak hormat di depan matanya. Ingin sekali ia melabrak dua pria bertubuh kekar di kanan kiri sang gadis yang  memaksanya diam tak meronta. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba gadis itu merosot kepangkuan salah seorang diantara mereka tak sadarkan diri.

Namun bukan Bakri namanya  kalau tidak punya seribu akal cerdik. Dikeluarkannya Android dari gulungan sarungnya dan megaktifkan GPS. Ia mengetikkan sesuatu dan mengaktifkan sillent lalu memasukkannya kembali kedalam gulungan sarung kotak-kotak hitamnya. Mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan minimalis berchat hijau. Kedua pria tersebut membopong tubuh gadis yang tak sadarkan diri dan menutup rapat pintunya.

    Malam tak menghentikan langkah Bakri untuk terus memburu. Ia melompat turun dari bagian belakang badan mobil. Perlahan, ia mengendap mencari celah untuk mengintip keberadaan gadis itu disembunyikan. Dari sisi ke sisi, bangunan tersebut tampak seperti gubuk tua yang sudah lama tak dihuni namun bersih dan terawat. Samar-samar, ia mendengar suara jeritan seorang gadis dan bunyi tamparan bertubi-tubi. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Namun yang pasti, Bakri harus segera mencari tahu keberadaan sang gadis melalui pendekatan suara.

       Dan kali ini keberuntungan berpihak di tangan Bakri. Ia menemukan sebuah jendela dengan ventilasi yang cukup besar. Disibaknya sedikit tirai yang menampilkan keberadaan orang-orang dan gadis itu berada. Hatinya bergetar tak terima. Wajah gadis itu semrawut tanpa Jilbab. Tangannya terikat dan ia terus-terusan memaki semua orang di dekatnya. Dan, sebentar. Bukankah lelaki gagah itu Gus Army. Apa yang dilakukannya disini?

    Mata  Bakri membulat sempurna.  Didepannya ia melihat Gus Army menopang dagu gadis yang ketakutan seolah telah melakukan kesalah besar yang tak termaafkan. Ia berpikir, kira-kira siapa Gusnya itu. Ia tak bisa ambil gegabah untuk melabrak mereka. ia yakin, pasti ada saat tepat untuk menyelamatkan gadis misterius itu.

    “Kiran!” Gus Army mendampratnya.
    “Jalang tak pantas bertaubat! Tuhan tidak sudi memaafkan pelacur jahannam sepertimu!”

    Jadi, gadis bernama Kiran itu adalah lonte.
    Bersamaan dengan teriakan Gus Army, Bakri tidak sengaja jatuh terjerembab. Separuh badannya masuk kedalam. Seketika ruangan dibuat senyap. Kali ini ia tak bisa berbuat apa-apa.

    Pikirannya menerawang. Gusnya sering mengajar santriwati dan membawa beberapa dari mereka pergi. Pernah ia mengaku beberapa santrinya kabur saat sedang ke Pesantren Ja’fa di Magelang. Hilangnya santriwati itu tak diusut tuntas entah apa alasannya. Akankah Gus Army adalah seorang germo? Apakah Mbah Arif  tahu kelakuan putra tertuanya? Atau sebenarnya ia juga dalang dibalik semua ini?

***

    Badannya remuk redam. Bakri tersadar saat cahaya matahari menusuk tajam matanya.  Ia menatap sekeliling tidak seperti asramanya di Pesantren. Ia  baru ingat. Kejadian dari jam dua sore kemarin seakan berputar-putar di benaknya. Spontan ia berusaha bangkit, namun tangan dan kakinya terikat kuat. Tak ada siapapun di  sekitarnya. Sarung dan baju kokonya tanggal entah kemana. Tinggal kaus oblong dan celana selutut yang melekat pada tubuhnya.

    Tiba-tiba pintu mengeluarkan bunyi krowek saat seseorang masuk dan menendang keras bokongnya. Sontak Bakri meringis kesakitan.

    “Kamu salah memilih berurusan dengan Army”
    “Siapa kau?”
    “Berdoalah semoga Army tak jadi melenyapkanmu!” ia meludahi tubuh Bakri. Sedang Bakri  berusaha melepaskan tali yang mengikatnya meski sebenarnya hanya akan menghasilkan sebuah kesia-siaan. Dari sisi ruangan yang lain, ia mendengar suara jeritan Kiran yang sepertinya kesakitan.
    “Jangan kalian apa-apakan Kiran! Atau kalian akan tanggung akibatnya!” teriak Bakri disusul gelegar tawa lelaki berkulit gelap yang langsung mengangkat paksa tubuh Bakri berjalan menuju sebuah ruangan tempat Gus Army dan Kiran berada. Ia kaget tidak percaya. Tubuh Kiran lolos tanpa kain sehelai pun.

    Tampak memar-memar memenuhi tulang pipi dan sisi bibirnya. Bakri langsung memalingkan wajah. ia tahu, Kiran tidak suka diperlakukan demikian. terbukti dengan kepalanya yang tertunduk dalam dengan sesenggukan yang sangat memilukan.

    “Lihatlah tubuh si jalang ini?” Gus Army mendaratkan tinju tepat di perut Bakri. Ia sempoyongan disertai keluarnya darah dari mulutnya. melihat itu, Kiran berteriak keras mencaci Gus Army dan beberapa lelaki lain yang memeganginya dan Bakri.

    Tiba-tiba pintu didobrak dari luar dan muncul sebelas sekawanan Bakri dengan alat-alat tajam di tangannya.

    “Janagn bergerak! atau kalian kami tembak!” susul polisi di belakang mereka.
    “Benar-benar santri Jancuk!” umpat Gus Army marah.

***
   
Benderang sosrot lampu menusuk matanya. Riuh suara santri yang berdesakan dan gema shalawat terdengar dimana-mana. Kiran duduk membetulkan jilbabnya yang bergerak-gerak ditiup angin. Ia bersyukur Tuhan memberinya hidayah sebelum ia benar-benar jauh masuk ke dunia hitam. Ucapan Bakri masih terngiang-ngiang dalam ingatan Kiran, Hubungan adalah jawaban dari sebuah kesepian. Apapun itu bentuknya, tetap jalani dengan cara yang diridhai. ya, Kiran percaya bahwa tahta dan jabatan tidak menjamin kesalihan seseorang.

    Berhubungan dengan putera kiai besar bernama Army Haromain yang harusnya semakin mendekatkan diri kepada Allah, malah menjerumuskannya ke dalam lembah zina yang terlaknat. Sedangkan Bakri dan teman-temannya yang hanya seorang santri biasa selalu dicap buruk dengan langganan pelanggaran karena geng Marabilis jalapanya yang selalu bertindak tidak sesuai peraturan Pesantren. Malah, geng inilah yang telah memberantas kejahatan dari putera sulung pengasuh Pondok Pesantrennya sendiri.

    Ia ingat betul bagaimana Army menjual dirinya beserta beberapa santriwati cantik ke germo-germo yang mampu membayarnya selangit. Untuk menebus kesalahannya, maka ia harus dipenjara. Tiba-tiba ada seseorang menepuk bahunya dan memanggil salam. Ia adalah Nyai Qomariyah, ibunda Army sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoir Al-Haromain.

    Gugup Kiran menjawab, “Waalaikumussalam!” wajah Nyai Qomariyah tampak berseri-seri sedang matanya menyimpan beban yang membadai. Kiran mengerti maksud beliau menemuinya.

    “Saya sudah maafkan...!” kata-kata Kiran dipotong dengan sebuah pelukan yang tak bisa Kiran artikan. dalam pelukannya, Nyai Qomariyah sesenggukan.
    “Tolong, Nak! Maafkan Army. Izinkan dia mempertanggung jawabkan kesalahannya padamu!” hati Kiran berdesir dan matanya panas. Suaranya tercekat dan sekujur tubuhnya melemas. Jauh di dalam hatinya masih ada ruang yang pernah diisi Army dahulu. Tetapi setelah apa yang dilakukan Army padanya, ia rasa tidak yakin dapat melakukannya namun tak bisa berkelit. Mungkin inilah jalan takdir yang digariskan Tuhan dalam lembar hidupku! Kiran memposisikan diri sebagai seorang hamba yang senantiasa ikhlas.
    “Biidznillah” dengan suara bergetar.

***
   
22 Oktober 2015. Pernikahan itu berlangsung sederhana tepat dihari santri nasional. Army menyesali perbuatannya dan meminta maaf pada semua orang termasuk dengan membeli kembali santriwati yang pernah dijualnya dulu. Pesantren ramai dengan tahuhan genta, rebana, dan alat musik tradisonal lainnya. Kiai Arif Al-Haromain memberikan penghargaan pada geng Marabilis jalapa dan mengesahkan geng tersebut sebagai organisasi baru di Pesantren.

    Berbarengan dengan terbongkarnya kedok puteranya, ia dikejutkan oleh fakta tentang kelakuan geng Marabilis jalapa. Setiap jam empat sore, geng tersebut keluar pesantren untuk menemui gelandangan dan anak yatim piatu dengan membawakan alas tidur dan makanan hasil curian dari Pesantren. Jam empat pagi saat fajar mulai menampakkan diri, mereka membangunkan kaum gelandangan dan anak yatim piatu tersebut untuk shalat subuh berjamaah dan membawa pulang alas tidur itu kembali.

    Kiai Arif menyesal telah mengabaikan permintaan geng tersebut dalam mengeluarkan sejumlah dana untuk membelikan kaum fuqaha makanan dan beberapa lembar pakaian. Ia menyangka permintaan tersebut hanya salah satu dari akal-akalan mereka saja
.
    Bakri, Samsul, Fuad dan yang lainnya maju ke depan dibarengi sorak sorai tepuk tangan para santri. Dari kejauhan, tampak Kiran tersenyum simpul memandangi Bakri dan teman-temannya yang asik memimpin shalawat. Di sampingnya, Army duduk membungkuk malu. Tak banyak yang bisa ia harapkan, sebentar lagi akad akan dilaksanakan. Ia tahu betul bahwa setiap kejahatan, harus diganjar sesuai dengan kadar kejahatannya. Untuk itu, Army tidak berontak sama sekali saat tangannya diborgol kembali tepat setelah akad dan dinyatakan sebagai penghuni baru sel tahanan.

Zaa Nizara, Siswi kelas XII MIA2 MA1 Annuqayah putri yang aktif di Sanggar Sareang.

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4419251231825423302

Posting Komentar

  1. Maaf, nama Latin/ilmiah Bunga Pukul Empat adalah Mirabilis jalapa. Mohon dikoreksi.

    https://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_pukul_empat

    BalasHapus

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA