Ambil Alih Surat Mandat Hidup


Oleh: Sayyidaty Sholeha
 
Percaya atau tidak, manusia adalah budak dari pikirannya. Ini soal mandataris kehidupan yang sedang dipengang erat oleh tiap-tiap jiwa. Sejak dilahirkannya ke dunia, Tuhan sudah memberikan kartu bertanda bahwa inilah hidup yang harus dipegang. Sedari kecil, hidup berjalan begitu sederhana, bagaimana manusia-manusia kecil yang tercipta dengan ketidakberdayaan memulai kehidupan.

Surat awal dipegang oleh orang tua, segala aspek kehidupan, berawal dari sebelum dilahirkannya manusia hingga masa pertumbuhan dan perkembangan anak, di mana surat mandat harus diserahkan pada waktu yang seharusnya. Surat yang harusnya dikembalikan kepada pemilik aslinya, manusia yang terlahir harus menanggung hidupnya secara mandiri, menata batu jalannya sendiri secara utuh, justru berubah mejadi lamban, mengalami stagnasi dan tidak mampu melakukan apa-apa di tangan pendidik yang melatihnya sejak dini sebagai passenger.

Perubahan dunia yang semakin baru semakin bergerak secara dinamis di segala sektor tidak bisa dikendalikan oleh jiwa-jiwa passenger, sebab personal yang memilih menjadi seorang penumpang tak mampu mengendalikan dunia dengan tangannya. Bagaimana tokoh seperti interpreneur Jack Ma, Steve Jobs, Presiden Soekarno, atlet Moh. Ali dan tokoh lainnya bergerak sejak dini dengan memilih hidupnya sebagai seorang driver.

Mengambil alih kembali surat hak menerima mandat dari Tuhan adalah pilihan hidup untuk bertarung di masa depan, karena meminta mengalihkan kehidupan yang lebih layak bukan perkara mudah untuk dilalui. Bila seorang passenger memilih untuk duduk manis di belakang sopir, ia bisa santai tanpa memperhatikan jalan, ngobrol, mengantuk bahkan bisa tidur-tiduran, tidak perlu membersihkan serta merawat mobil. Seorang driver memilih jalan hidup untuk berpikir dan memilih hidup untuk dirinya dan bermanfaat bagi orang lain.

Passenger hanya menerima segala aturan dari orang tua, mulai dari perawatan intensif, dibesarkan sejak kecil hingga dewasa, instansi pendidikannya, tempat kuliahnya, dibelikan tiket yang harusnya bisa ia urus sendiri, fakultas yang harus ia tekuni, hingga ditentukan kriteria pasangan untuknya. Bahkan tempat tinggal, ekonomi ditentukan oleh pola asuh anak-anaknya. Pada akhirnya pribadi passenger seperti ini hanya akan berputar pada aturan kehidupan yang dilalui dengan sederhana dan begitu saja, semua teratur dari bangun tidur hingga tidur kembali, bekerja, kembali ke rumah dan menjalani hidup yang pasti-pasti.

Tak ubahnya dengan perusahaan, instansi pendidikan dan lembaga lain yang memiliki bos yang menentukan bawahan sesuai dengan kehendak dan aturan yang dibuatnya. Semua mindset harus sejalan dengannya, meninggikan argumen di atas argumen yang lain, menutup pikiran orang lain dengan managemen yang dikendalikannya sendiri. Personal yang seperti ini cenderung tidak mampu mengendalikan diri di kala harus menerima kritikan dari orang lain, emosional, menganggap dunia sedang mendiskriminasi, teoritis dan minim toleransi.

Di satu sisi, pendidik lain memfasilitasi jasa hidup yang lebih dari standar kelayakan seorang anak didik di mana sepantasnya terlahir lebih mandiri. Saraf-saraf passenger terbentuk menumbuhkan ketidakberdayaan untuk menghadapi persoalan komprehensif, bahkan yang standard sekali pun.

Tak jarang bila manusia-manusia yang terlahir dengan memiliki watak pendidik seperti ini mengalami pergerakan yang cukup lamban, inovasi, kreatifitas membeku dan sulit besosialisasi. Sebab sejak kecil dilatih untuk menutup pikiran–tidak dibuka secara bebas. Sikap berlindung di balik ketiak orang tua, serba ketergantungan terhadap orang lain tidak mampu mengubah pola hidup lebih maju.

Salah satu nasihat Jack Ma, dalam menentukan jalan hidup, pemuda sebelum berumur 20 tahun harus tekun dan rajin belajar, menguasai teori, kemudian akan diaplikasikan kesesuaiannya dengan praktisi, saat umur 20-30 tahun. Ikutilah bos yang baik, yang mau mengajarkan dengan benar dan tepat. Saat umur 30-40 tahun, lakukan apa yang paling disukai dan benar-benar tekuni pekerjaan yang sangat disukai tersebut. Saat umur 40-50 tahun, maka pekerjakanlah pemuda, buka kesempatan bagi pemuda untuk mengaplikasikan apa yang telah diusahakan sejak lama, ajarkan dan ciptakan generasi penerus. Pada umur 60 tahun ke atas, nikmatilah masa tua dengan keluarga dan hasil yang telah didapat.

Banyak pula anak didik yang berusaha mengambil alih hak hidupnya sendiri demi menjadi seorang driver, tidak menghendaki kondisi sebagai seorang passenger. Usaha driver ini bisa cukup lebih berat menata jalannya atau tidak terlalu berat dalam meminta surat hak hidupnya. Seorang passenger yang berusaha mengambil alih control steering atau kontrol setir hidup memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi pendidiknya.

Sesuai dengan usaha, mindset terhadap diri dan pendidiknya, kepercayaan serta bukti yang mampu dicapainya, driver handal mampu mengambil surat hak tersebut dengan cara yang baik, meminta izin hidup yang lebih baik dan diberikan dengan baik pula. Dengan demikian, seorang driver mampu melalui rute hidup dengan hebat serta mampu mencapai tujuan dengan selamat.

Sebab driver memiliki risiko dan tanggung jawab yang lebih besar daripada seorang passenger, seorang supir harus tetap fokus pada jalan yang dituju, tidak boleh mengantuk, memperhatikan kondisi penumpang, sabar menerima komplen dari pengendara lain dan pandai merawat mesin.

Hanya seorang driver yang mampu menopang hidup lebih kokoh, menghasilkan bibit lebih unggul, menebarkan manfaat lebih besar dengan jasa dan materi. Bila hidup tetap dilalui sebagai seorang penumpang yang serba ketergantungan dan takut akan risiko, selamanya ia tidak akan menghasilkan apa-apa selain pikiran yang begitu sederhana. “if you don’t do it, nothing is possible, but if you try to do it, at least you have the hope”, jika kamu tidak melakukannya, maka kamu tidak akan dapat apa-apa. Akan tetapi, jika kamu mencoba untuk melakukannya, setidaknya masih kau memiliki harapan.

Dunia yang dinamis menelan merk, produk, perusahaan, personal dan pribadi yang tertinggal. Sebab menjadi seorang driver setidaknya bisa terhindar dari dinamika hidup yang menelan kaum konsumtif dan serba ketergantungan serta tidak senada mengikuti irama pergerakan dunia.
 
Sayyidaty Sholeha Mahasiswa Institut  Dirosat Al-Islamiyah Al-Amien Prenduan, Sumenep-Madura, Fakultas Dakwah/KPI,Semester VI


   



MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 7620056535548489604

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA