Takdir Tuhan pada Cinta


Cerpen: Salsabila Mumtaz

Aku menatap hamparan rumah dan puing-puing di hadapanku. Tak ada yang berdiri kokoh. Semuanya tampak rata. Serata tanah yang ku injak. Disinilah aku. Di tanah Palestina yang sebagian hidupnya dirampas dengan paksa oleh mereka yang biadab.

Semua yang aku miliki, ku tinggalkan begitu saja di negri kelahiranku. Aku hanya ingin mengabdikan seluruh hidupku pada mereka yang sangat membutuhkan bantuanku, seperti janjiku yang ku ucapkan sebelum aku menjadi seorang dokter bedah termuda di Indonesia  juga pada dia yang tidak memercayaiku. Ya, dia. Lelaki yang sangat ku cintai. Dia tidak memercayaiku. Entah, apa yang membuatnya tidak percaya, tapi aku hanya ingin menunjukkan padanya bahwa aku benar-benar telah masuk ke dalam agamanya karena keinginanku bukan karena cintaku yang begitu besar padanya.

“Aku mencintaimu, Ali” ungkapku padanya saat kami tengah menghabiskan makan siang bersama. Tampak raut terkejut dari wajah teduhnya. Siapa yang tidak terkejut jika ada seorang perempuan yang baru kau kenal dua minggu yang lalu menyatakan cinta padamu. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan selama dua minggu terakhir ini.

“Jangan bercanda, Cristy” jawabnya sambil tersenyum miring lalu menyesap kopi hitamnya. Aku menatap dua mata teduh yang sudah mengganggu tidurku. Tubuhku masih menegang menahan semua perasaan yang kurasakan.

“Aku serius Ali. Apa kamu melihat aku sedang mengerjaimu dengan ungkapan cintaku?” Tanyaku. Dia kembali terdiam. Aku tahu dia sedang berfikir. Jadi aku membiarkannya
.
“Kamu tau kita berbeda agama, kita tidak akan bisa bersatu, Cristy” aku terdiam. Dia pun terdiam. Kita larut dalam pikiran masing-masing sampai aku berani menyatakan,

“Bagaimana kalau aku berkata aku telah masuk islam?” Ungkapku lagi. Dia kembali terkejut, tapi aku tersenyum. Pasti setelah ini dia akan menerimaku.

“Tidak Cristy. Aku tahu kamu dan keluargamu adalah penganut agama yang taat. Aku tidak bisa memercayaimu. Lagi pula aku telah berisrti.”aku terkejut bukan main. Bagaimana bisa aku tidak tahu jika dia telah memiliki seorang istri. Selama ini dia tidak pernah menyinggung tentang statusnya atau istri yang dia miliki, lalu kenapa baru sekarang dia mengatakan kalau dia telah memiliki seseorang di hatinya, setelah dengan mudah aku menaruh hati padanya.

“Maaf, aku tidak tahu jika kamu telah memiliki seorang istri. Tapi aku akan membuktikan padamu tentang keislamanku, dan semua itu bukan atas dasar cintaku padamu tapi karena aku menginginkannya dari dalam hatiku.”

Aku tersenyum mengingat kenangan pahit itu. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang?, apa dia sudah bahagia dengan istrinya atau masih memiliki rasa bersalah padaku. Aku kembali tersenyum. Untuk apa dia yang merasa bersalah. Toh dalam kisah ini aku yang menginginkannya bukan dia yang menginginkanku. Aku hanya perlu membuktikan padanya bahwa aku telah masuk islam dan akan mengbdikan diriku pada Allah.

“HUMAIRAAAH!!!” Teriak seseorang. Aku tersadar dari lamunaku. Itu suara Aisyah. Teman baruku di Palestina. Aku melihatnya meneriaki nama Humairah. Anaknya. Air matanya membasahi pipinya. Apa yang terjadi?, kenapa ia meneriaki nama Huamirah?, ada apa dengan Humairah?. Ku ikuti arah pandangnya yang menatap khawatir ke arah depannya. Mataku membulat sempurna saat melihat Humairah tengah berdiri diantara ranjau-ranjau di sekitarnya dengan membawa sebuah boneka yang ku berikan pada ulang tahunnya yang ke empat kemarin.

Tanpa sadar kakiku berlari mendekatinya. Kini Aisyah yang bergantian meneriaki namaku. Ada beberapa orang yang juga meneriaki namaku dan memintaku untuk berhati-hati dengan berbagai ranjau di sekitarku. Aku berjalan pelan, sangat pelan untuk menghindari ranjau-ranjau mengerikan tersebut. Tinggal sedikit lagi aku akan sampai pada tempat Humairah berdiri. Aku memintanya untuk tidak bergerak dari tempatnya. Tak berapa lama aku telah mendekap tubuh kecilnya dalam pelukanku.

Nafasku tersenggal-senggal. Aku menatap wajah polos tersebut dengan sangat khawatir. Aku tersenyum, akhirnya aku bisa menggapainya. Aku melihat senyum kelegaan dari wajah Aisyah di seberang sana. Aku akan membawanya pada Aisyah dengan keadaan selamat, dan itu akan sangat mudah, karena aku cukup menggendong Humairah dan membawanya menjauh dari tempat mengerikan ini.

Ku gendong tubuh mungil itu. Baru beberapa langkah, tiba-tiba aku mendengar suara Humairah menangis dan suara teriakan lainnya. Ku tatap wajah cantik itu dengan penuh tanya. Ku lihat dia menunjuk ke arah belakang kami, ku ikuti arah tunjuknya, dan aku menemukan bonekanya tejatuh dari tangannya. Tapi bukan itu yang menjadi fokusku sekarang. Melainkan, orang yang berdiri dengan gagah, tak jauh dari kami.

Tubuhku menegang seketika. Aku tersadar, bahwa aku dalam keadaan bahaya sekarang. Aku langsung melarikan diri. Menyelamatkan nyawa kami dari anggota Zionis Israel. Tak ku hiraukan tangisan Humairah yang meminta bonekanya kembali. Yang terpenting adalah nyawa kami selamat.

Aku terus berlari menjauh. Berharap Allah mau membantuku. Aku mendengar suara tembakan memenuhi udara, dan itu bukan hanya satu, tapi banyak. Tanpa kurasa tubuhku tersungkur ke depan. Kakiku terluka, terkena salah satu peluru itu. Kepalaku terbentur batu besar. Aku merasakan pelipisku mengalirkan darah. Sangat sakit. Ku pejamkan mataku untuk menghalau rasa sakit tersebut. Ketika ku mencoba untuk membuka mata. Semua pandanganku mengabur. Aku merasakan tubuh Humairah terlepas dari pelukanku, dan ia terjatuh di depanku. Aku berteriak, memintanya untuk berlari menjauh. Walau dengan keadaan menangis, ia tetap menuruti perintahku sambil meneriaki kata “Ummi”.

Saat dia tengah berlari. Aku kembali mendengar suara tembakan memenuhi gendang telingaku. Aku melihat tubuh Humairah bergetar mengeluarkan darah di seluruh tubuhnya. Sempat aku menyebut namanya dan kudengar Aisyah melakukan hal yang sama denganku, sebelum semuanya menjadi gelap, lalu aku merasakan kepalaku dibentur ketanah dengan keras dan tubuhku diseret, entah kemana. Hal terakhir yang kuingat adalah kematian nahas Humairah dengan kedua bola mataku sendiri. Bagaimana peluru-peluru panas itu menembus tubuh kecilnya yang tak berdosa.

Aku mencoba membuka mataku dengan susah payah, tapi nihil. Mataku terlalu sembam dan sulit untuk melakukannya. Akhirnya aku hanya bisa menggerakan sedikit badanku. Dan hal pertama yang kurasakan adalah rasa sakit yang begitu luar biasa menyelimutiku.

“Akhirnya kau sudah sadar juga, selama seminggu kau pingsan.” Aku mendengar suara berat itu berbicara. Dari aksennya berucap, sudah kupastikan bahwa dia adalah anggota Zionis Israel. Seminggu?, benarkah?, selama itukah aku tak sadarkan diri?. Tapi aku tetap bersyukur, masih diberi hidup hingga saat ini oleh Allah. Meskipun aku merasakan, kini aku tengah disekap di penjara mereka. Ya, bisa ku rasakan dari udara yang lembap dan sesak ini. Tangan dan kakiku pun terikat dengan kencang.

“Tunggu nanti malam. Bosku memintamu untuk menemaninya ketika kau sudah sadar.” Ucapnya lagi sebelum pergi meninggalkanku. apa maksudnya menemani?, apakah aku akan…?. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Lebih baik aku mati saat ini juga dari pada harus melakukan hal keji tersebut. Ya Allah, tolong bantulah aku, selamatkanlah aku.

Aku mendengar derap langkah mendatangiku. Aku tetap pada posisiku. Biarlah mereka mengira bahwa aku telah mati. Aku tidak peduli itu. “periksa dia!. Apakah dia telah mati atau belum?.” Perintah seseorang dengan nada angkuh. Aku bisa merasakan seseorang lainnya mendekatiku dan berlutut di sebelahku. Dia memegang pergelangan tanganku dan merasakan denyut nadiku. Aku hanya bisa pasrah, denyut nadi tidak akan bisa berbohong.

“Hei, Cristy!” suara itu?. Itu suara Ali. Apakah aku sedang bermimpi?, atau aku sudah mati hingga aku bisa mnedengar suaranya. Sepertinya aku terlalu merindukannya. Orang itu sedikit memukul pipiku untuk menyadarkanku dan menyebut namaku. Aku tersentak. Itu benar-benar Ali. Ku hadapkan wajahku padanya, ku coba untuk membuka mata walaupun yang kembali ku lihat adalah kegelapan. Kenapa dia bisa ada disini?, bagaimana bisa?.

“Aku tahu kamu mendengarku. Aku akan menyelamatkanmu,” ucapnya sangat pelan dengan menggunakan bahasa Indonesia supaya orang Israel itu tidak tahu apa yang kita bicarakan. Ali berusaha membuka ikatan tali di tanganku lalu myerahkan sebuah belati untukku.

“Gunakan ini untuk menusuknya. Pastikan kamu menusuknya tepat di jantungnya. Aku kan melumpuhkan dua penjaga di luar. Lalu kita bisa kabur dari tempat ini.” Lanjutnya. Memberi intruksi untukku. Sejak kapan dia menjadi tegas seperti ini?. Apakah selama tujuh tahun ini di telah beruabah?.

Bersambung : Takdir Tuhan pada Cinta (2)


MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 4623807228194943967

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA