Takdir Tuhan pada Cinta (2)

 Cerpen: Salsabila Mumtaz

Dia pergi meninggalkanku setelah memberitahu pada orang Isarel tersbut bahwa aku baik-baik saja. Orang Isarel itu tertawa dan berjalan mendekatiku. Saat dia telah ada di hadapanku. Aku segera memeluknya. Dia tertawa mengetahui reaksiku. Tawa yang sangat menjijikan bagiku. Ketika aku telah menemukan dada kirinya, letak jantungnya berdetak. Aku langsung mengambil belati yang telah ku sembunyikan. Ku tusuk dada kirinya. Cukup dalam. Lalu aku memutar belati tersebut. 180 derajat. Dia memekik, sebelum jatuh ambruk di depanku. Itu sebagai pembalasan karena telah membunuh Humairah di hadapanku.

Ali berjalan menghampiriku dan menyingkirkan mayat itu dari kakiku. Sepertinya dia telah melumpuhkan dua penjaga di depan. Tanpa menimbulkan suara?, semudah itukah?.ada yang aneh dengannya sekarang.

“Maafkan aku.” Ungkapnya dan semuanya menghilang. Aku kembali tak sadakan diri.

Aku memasukkan tubuh Cristy ke dalam karung yang sangat besar, setelah membuatnya pingsan dengan obat bius yang kuberikan. Berkali-kali aku mengucapkan maaf dalam hatiku karena telah memperlakukan Cristy dengan cara seperti ini. Tapi hanya cara inilah yang bisa menyelamatkan kami.

Setelah aku memasukkan dua mayat penjaga itu ke dalam sel. Aku memanggul tubuh Cristy di pundakku. Tidak terlalu berat, karena tubuhnya dua kali lebih kurus sebelum terakhir aku melihatnya.

Aku membawa tubuh Cristy keluar dari ruangan penjara bawah tanah. Aku bertemu dengan beberpa anggota Zionis Israel lainnya, dan aku berusaha bersikap biasa saja. Solah tidak ada yang terjadi. Mereka bertanya padaku, apa yang aku bawa?, dan aku menjawab, “hanya potongan daging segar untuk makanan anjing.”. hanya alasan itulah yang mampu membuat mereka percaya, mengapa aku membawa sebuah karung besar keluar dari ruangan penjara.

Setelah aku merasa semuanya telah aman. Aku meletakkan tubuh Cristy di dalam mobil bak yang berisi gandum dan bahan pangan lainnya. Aku menyalakan mobil tersebut dan membawanya keluar. Aku sengaja memilih waktu malam hari untuk menjalankan misi ini. Berjaga-jaga agar tidak ada yang mengetahuiku.

Beberapa pos keamanan telah ku lalui. Semua berjalan sesuai rencana. Aku berhasil membawa Cristy bersamaku, walapun dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Aku mencari tempat aman untuk menyembunyikan mobil ini dari pengawasan. Setelah aku menemukannya, aku segera membopong Cristy memasuki pusat kota. Tempat warga Palestina mengungsi dan menyembunyikan diri.

Semua orang terkejut melihat kehadiranku. Siapa yang tidak terkejut, jika melihat anggota Zionis Israel memasuki kawasan mereka dengan membawa karung besar di pundaknya. Aku tersadar dari penyamaranku. Aku membuka topeng berbahan elastis dari wajahku, untuk mengelabuhi anggota Zionis tersebut bahwa aku adalah pasukan Israel. Mereka semakin terkejut dengan apa yang aku lakukan, sampai salah satu dari mereka menyadari keberadaanku, lalu meneriaki namaku, “itu dr. Ali!” teriaknya. Merekapun akhirnya membantuku untuk membawa Cristy ke rumah sakit. Malam itu juga dilakaukan operasi untuk mengangkat peluru yang berada di kakinya. Dan aku sendiri yang melakukannya. Sebagai menebus kesalahanku padanya.

Akhirnya aku sampai di kota yang penuh bahaya ini. Tujuan utamaku kemari adalah menjemput Cristy pulang. Aku bertemu seseorang yang mengenal Cristy. Tidak, tidak hanya satu orang yang mengenalnya tapi semua orang mengenalnya. Mereka bilang Cristy adalah dokter hebat yang berhati malaikat. Ya, aku tahu itu. Aku tahu jika Cristy berhati malaikat.

Orang tersebut membantuku untuk menemui Cristy. Aku berjalan beriringan dengannya. Namanya Ahmed. Bocah berumur 18 tahun yang salah satu kakinya harus dioperasi karena terkena salah satu ranjau ketika berlari menjauh dari seorang Zionis Israel, dan saat itu Crsty datang menyelamatkannya. Cristy membantu memapah dirinya dan bersembunyi dari Zionis Israel tersebut. Dari situlah Ahmed sangat mengagumi Cristy dengan hati malaikatnya.

Bukk!. Seseorang menabrakku dari belakang. Hampir saja aku terjatuh jika Ahmed tidak membantuku. Wanita itu meminta maaf padaku. Lalu beralih pada Ahmed di sebelahku dan menanyakan tentang keberadaan anaknya. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Ahmed menggeleng menjawab pertanyaannya. Sampai seseorang meneriaki namanya dan mengabari bahwa anaknya yang bernama Humairah tengah dalam bahaya. Ia pun langsung berlari mencari keberadaan anaknya. Karena penasaran aku dan Ahmed pun menyusul. Aku membantu Ahmed untuk mempercepat langkahnya.

Saat kami telah berdiri di tempat mereka meneriaki nama Humairah. Tubuhku seketika menegang. Keringat dingin bercucuran dari seluruh tubuhku, menyaksikan Cristy tengah berlari mendekati gadis kecil tersebut ditengah-tengah ribuan ranjau di sekitarnya.

Tubuhku hampir limbung saat kedua bola mata ini melihat bagaimana Cristy berusaha menyelamatkan Humairah hingga kakinya tertembak dan kepalanya terbentur sebuah batu besar. Aku ingin berlari mendekat membantu Cristy, namun Ahmed menahanku. Dia bilang disana sangat berbahya. Tapi aku juga tidak bisa diam saja ketika melihat Cristy dalam bahaya seperti itu. Sampai aku benar-benar jatuh berlutut ketika kepala Cristy dibenturkan dengan keras ke tanah dan tubuhnya diseret menuju tempat mereka. Tubuhku seketika lemas. Aku harus mencari cara untuk menyelamatkan bidadari tak bersayapku yang telah ku biarkan terbang sendiri sedangkan aku adalah sayap-sayap itu.

Dua hari setelah operasi. Cristy siuman. Aku tersenyum melihatnya sadar. Dua hari aku tidak beranjak dari tempatku hanya untuk memastikan bahwa orang pertama yang dilihatnya adalah diriku. Tiba-tiba dia berteriak histeris. Membuatku terkejut dengan reaksinya. Dia menangis sambil memegangi kakinya dan dia bertanya ”Aku lumpuh?!” aku langsung mendekapnya dalam pelukanku. Aku tahu jika dia lumpuh. Peluru yang berada di kakinya terlalu dalam menembus kedua kakinya dan itu membuat saraf-saraf di kakinya putus. Dia masih syok dengan apa yang menimpa dirinya. Aku masih memeluknya dengan erat. Berharap dari pelukanku dia bisa menjadi sedikit tenang.

“Dan aku buta?!” kali ini aku yang terkejut mendengar pertanyaannya. Ku tatap wajah cantiknya. Ku perhatikan kedua matanya. Mata indah itu terbuka sempurna tapi  menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Bagaimana bisa aku tidak tahu jika hal ini terjadi padanya?, sedangkan aku yang menanganinya semalam. Bagaimana ini bisa terjadi?. Aku semakin membawanya dalam pelukanku. Aku sangat merasa bersalah atas semua ini. Semua ini terjadi karena aku.

Ya, tentu saja semua ini karena diriku. Andai saja tujuh tahun lalu aku berkata yang sebenarnya bahwa aku belum menikah, bahwa aku terlalu pengecut untuk mendapatkan cintanya, bahwa aku terlalu takut untuk membahagiakannya, sedangkan aku tidak memiliki apa-apa untuk itu semua.

Setelah kepergiannya aku baru merasakan penyeasalan yang sangat dalam, dan penyesalan itu semakin menjadi sangat dalam saat aku tahu bahwa dia benar-benar membuktikan keislamannya dengan mempertaruhkan nyawanya dengan pergi ke Palestina. Setelah kepergiannya, aku langsung mencari beasiswa kedokteran melalui hafalan qur’anku, dan aku mendapatkannya. Allah mempermudah perjuanganku. Aku menjadi dokter dalam waktu singkat karena kegigihan dan kecerdasanku. Setelah gelar dokter ku dapatkan aku memasuki sekolah kemiliteran dan bergabung dengan inteligent rahasia. Semua benar-benar ku siapkan dalam waktu tujuh tahun untuk menyusul Cristy disana dan memintanya untuk kembali padaku.

Kini aku telah menjadi seorang dokter, anggota inteligent rahasia dan Cristy telah bersamaku. Aku telah mendapatkan semuanya, tapi aku harus merasakan kehilangan lagi. Kehilangan yang berkali-kali lipat lebih dalam ku rasakan, karena aku harus merelakan kehilangan kebahagiaan Cristy dalam hidupnya, dan semua itu salahku. Akulah yang bertanggung jawab atas semua ini.

“Apapun yang akan terjadi. Aku tetap disini, tetap disisimu. Maafkan aku Cristy. Maaf atas semuanya.” Dan hanya itulah yang bisa aku ucapkan. Air mataku berhasil lolos dari kedua kelopak mataku. Allah benar-benar telah menghukumku karena telah menjadi seorang lelaki yang tidak becus dalam menjaga hati seorang perempuan yang telah tulus mencintaku dengan hati sucinya.
       
Salsabila Mumtaz  Siswi Kelas 5 DIA-B MA TMI Putri Al-AMIEN Prenduan


Sebelumnya: Takdir Tuhan pada Cinta

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Cerpen 6427108626869897650

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis


 

item

WA