Sebuah Penyesalan


Cerpen Baiq Wahyu Diniyati H

Hari ini, Aku kembali mendengar cerita mamak yang diceritakannya hampir setiap hari.” Jangan pernah sekali-kali mendekati batang kayu disamping sungai itu. Disana ada ular hijau yang siap mematukmu kapan saja. Dengarkan kata mamak”. Mendengar jawaban mamak, pasti aku akan berjinjit ngeri. 

 Saat duduk menunggu senja, aku melihat batang kayu itu semakin tumbuh besar, aku tersenyum, sepertinya ia mengajakku untuk berdialog. Mengajakku untuk bermain bersama layaknya teman baru yang mengajak berkenalan. Entah sadar atau tidak batang kayu itu seolah berjalan kearahku, saat batang kayu itu mendekat mamak memanggilku. Batang kayu itu kembali berdiam di tempatnya. Aku segera menghampiri mamak, jika tidk segera menghampirinya. Pasti mamak akan marah dan mengomeli aku sesukanya.

Semakin hari, aku selalu memperhatikan batang kayu itu, aku mulai menghiraukan cerita mamak. Semakin gigih aku meredam keinginan untuk mendekati batang kayu itu, semakin gencar pula mamak mengulang hikayatnya. Cerita yang sudah kuhafal setiap bagiannya. Ah, menyebalkan sekali. Sekarang umurku bukan anak 4 tahun lagi, usiaku sudah 17 tahun. Mamak mulai mengingatkan agar aku tidak sekali mendekati batang kayu itu. Disini aku mulai berfikir seberapa benar cerita mamak dengan batang kayu itu? apakah cerita mamak ini sekedar dongeng semata? Kebenaran itu tidak kutemukan sampai sekarang.

“Dibatang kayu itu ada seekor ular hijau besar yang siap mematuk siapapun yang mnedekatinya. Dulu ada seorang gadis yang berambut panjang hitam legang, bermata belok dengan bibir yang sangat tipis. Cantik sekali. Namun sayang ia tidak mengabaikan perintah mamaknya, untuk tidak mendekati batang kayu itu. hingga pada akhirnya iapun dipatuk oleh ular besar itu. Aku menangguk mendengarkan.

Saat mamak tidak berada di rumah. Aku mencoba menguji keberanianku untuk mendekati batang kayu disamping sungai itu,  aku yakin, aku bukan anak bocah seperti dulu lagi, yang masih bisa ditakut takuti dengan kisah yang kebenarannya tidak bisa dipercaya. Aku mulai berjalan kearah sungai, aku melihat seorang laki-laki, membawa pesona yang menarikku untuk mendatanginya.

Sekilas tatapan mata tajam menatapku. Bergidik adalah pilihanku, Bola mata yang tidak biasa terlihat. Aku memandangnya penuh takut. Biru adalah warna yang tajam ketika melayangkan tatapan. Bersembunyi menjadi keinginan terbesarku. Namun sayang, nalarku masih berbentuk syair. Membawa kuberjalan dihadapannya. Dia tidak seindah pesonanya. Cerita mamak masih menjadi memori yang kuhafal sejak belasan tahun lalu, perlahan mengantarku pada perintah mamak, untuk tidak mendekati batang kayu ini. Menatap tatapan ngeri itu adalah keinginanku. Tetap saja menakutkan. Pesonanya masih merayuku untuk mendekat.

Ketika mendekat, dari sudut lain, gadis berambut panjang hitam legam, bermata belok dengan bibir yang sangat tipis, mencegahku. Aku melangkah,  menikmati cerita manusia dulu yang dipatuk ular. Semacam putri yang menghipnotis setiap mata yang memandang. Sungguh cantik. Benar adalah ceita mamak. Dulu memang ada gadis cantik yang dipatuk ular. Gadis itu tampak sedih ketika melihat kearahku. Aku rasa gadis ini seperti aku dengan ciri-ciri yang sama persis, yang membedakan wajahnya saja yang terlihat lebih pucat dariku.

Setelah menikmati teh bersama mamak, ia kembali bercerita “dibatang kayu itu ada seekor ular hijau besar yang siap mematuk siapapun yang mnedekatinya. Dulu ada seorang gadis yang berambut panjang hitam legang, bermata belok dengan bibir yang sangat tipis. Cantik sekali. Namun sayang ia tidak mengabaikan perintah mamaknya, untuk tidak mendekati batang kayu itu. hingga pada akhirnya iapun dipatuk oleh ular besar itu. Aku menangguk mendengarkan.

Apakah aku menjadi gadis cantik yang diceritakan mamak?. Dipatuk ular besar hijau karena mengabaikan perintah mamak. Aku sampai saat ini tidak mengerti. Airmata adalah alasannya membuka mata, aku sungguh tidak mengerti dengan cerita mamak, perempuan cantik itu masih ada. Dia tidak mati. Ia masih menangis, lalu apa yang harus aku lakukan, laki-laki itu masih saja tidak mengedipkan mata. Sungguh dunia apa yang aku temui. Kisah gadis yang sangat aneh.

Suara mamak kembali memanggil. Aku masih menatap layar televisi yang dinyalakan dua jam lalu. Aneh betul ketika aku mencium aroma sungai dalam rumah yang dikemas mamak begitu indah. Terdengar suara desisan ular yang semakin berdenging dalam telinga. Perih mulai kurasakan. Tiba-tiba saja mataku mengeluarkan titik-titik kecil yang mengalir disekitar pipi. Aku menangis. Entah perasaan apa yang melandaku sekarang. Sungguh dunia apa yang aku temui sekali lagi.

Gelap meredam senja yang biasa aku nikmati dengan mamak, masih tidak lupa dengan ceritanya yang akan aku ceritakan kembali “dibatang kayu itu ada seekor ular hijau besar yang siap mematuk siapapun yang mnedekatinya. Dulu ada seorang gadis yang berambut panjang hitam legam, bermata belok dengan bibir yang sangat tipis. Cantik sekali. Namun sayang ia tidak mengabaikan perintah mamaknya, untuk tidak mendekati batang kayu itu. hingga pada akhirnya iapun dipatuk oleh ular besar itu. Aku menangguk mendengarkan. Sungguh bosan aku mendengar cerita ini. Laki-laki di balik batang kayu itu membuatku ingin kembali. Namun aku bosan dengan tangisan gadis itu. Mencegah untuk tidak mendekat. Baiklah, aku mendengarkan gadis itu. Laki-laki itu semakin menatap ngeri, kedatanganku tak diinginkan. Nyatanya aku menginginkannya. Sungguh dunia apa yang aku temui.

Batang kayu itu semakin membesar. Tengah malam ini, aku diam-diam menemui batang kayu dengan laki-laki bermata biru, cahaya menyapa hangat tatkala kakiku menyentuh air sungai penuh ular. Gadis itu menangis. Saat ini bulan memang sengaja tak bersahabat denganku, perihal dia mengtahui pertemuanku dengan gadis yang diceritakan mamak. Aku hampir tidak mengerti dengan tatapan laki-laki itu, tujuanku tetap satu. Menemui gadis yang diceritakan mamak. Untuk kembali mendengar kisah aneh yang membuatnya merasakan pilu.

Sepertinya perjalanan hidup selalu berulang. Puluhan tahun silam, aku pernah menjadi anak mamak yang nakal. Selalu tidak mendengar perintahnya, tetap memandangi batang kayu yang dijaga ular hijau. Aku merindukan tatkala mamak memanggilku, banyak kenangan tertampung disungai ini. Jangan kembali, Dengarkan mamakmu. Pesannya padaku. Aku benar-benar tidak mengerti. Sungguh dunia apa yang aku temui.

Laki-laki itu mendekat, sekumpulan ular-ular itu terbangun, lalu berlomba mendesis. Peristiwa apa yang aku saksikan sekarang?. Laki laki itu sekejap menjadi ular besar hijau yang diceritakan mamak. Ia mematukku tanpa ampun. Gadis itu hilang, dan ku tahu ini adalah takdir yang tidak pernah tertulis. Mamak memanggilku. Menangis tersedu. Melihatku sudah tak berdaya, hingga aku benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan perintahnya. Aku baru menyadari ternyata gadis yang diceritakan mamak itu benar adanya. Gadis itu adalah aku yang diceritakannya pada riwayat tulisan sebagai pesan untuk gadis jika tidak mendengarkan mamaknya. Hingga pada akhirnya aku kembali bercerita tentang sebuah penyesalan.

Baiq Wahyu Diniyati H,  Mahasiswa PBA/IDIA Prenduan


Tulisan Terkait

Utama 5166920067731358562

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item