Sajak-Sajak Siti Sholeha Th, IDIA Prenduan

Siti Sholeha Th, Mahasiswa Institut  Dirosat Al-Islamiyah Al-Amien Prenduan, Sumenep-Madura Fakultas Dakwah/KPI Semester VI

******

Jauh Kehendak Mahkota

Jangan melangkah terlalu jauh jika tak tahu area di ujung sana
Jangan coba-coba bermain jika banyak duri di dasar lembah
Jangan berani mendekat bila jika tak berani menatap cahaya pupil dibalik rantai buas
Jangan coba memilih bila neraca menimbang berat sebelah
Sentuh jari bunga setangkai
Kenyam madu setetes ditengah sarang lebah
Atau meronta ratu jagad nampak raib permata mahkota
Tak usai lisan bertitah
Sisihlah! Tak usah menghinggap mawar merah di ladang sebrang
Sebab takkan menyiram hingga merekah
Sisihlah dari melati yang tengah merindukan sebongkah salju
Atau dandelion akan menebar sari tanpa henti
Sepoi dibalik kincir berseru
Tanpa pirsa paham maksud mesin tua
Usaikanlah sudah hiruk angin
Yang beradu bergesek menyisihkan hiraani
_

Pusaran Rembulan 

Malam..
Haruskah sampai mati unuk menunggu derasnya hujan?
Selaras namun tak berirama
Sepotomg coklat diruang masih diam membisu
Dingin tanpa sentuhan dimakan abad
Entah kapan pemilik ratusan lembar surat ini kembali
Mencetak rapi angan-angan surga
Tak deras pula hujan sore ini
Gerimis dan angin kembali berbisik
Terbesit satu kata
Tengoklah disana
Serangkaian awan musim semi akan kembali
Bukan apa-apa
Sepotong coklat itu masih sendiri
Vertebrata mendekat menikmati aela berganti rintik
Pohon pinus di samudera sebrang tersenyum simpul dalam lamunan mengudara
Berbisik menikmati keindahan khayal ilusi
Baiklah, terserah bongkahan otak ini
Terpukul palu ingatan mata batin
Jiwa rapuh ini tenggelam dalam samuderamu
Tanpa daya urat-urat tercekik balutan arusmu
Rembulan, kapan lagi bersinar dalam bola mataku?
Bersinar memacar menikmati sejuknya angin malam kembali
Kerikil kecil ini sudah paham segalanya
Tersiratpun sudah bisa dibaca
Tanpa kacamata pula
Oh rembulan
Mengapa menggantung saja dilangit sana?
Mengapa mentari meguap redup saja disore senja?
Mengapa pula ultraviolet tak bunuh saja fatamorgana disebrang sana?
Gemericik perairan kian terdengar
Tidakkah engkau hendak meninggalkan langit
Sejenak bersama merengkuh jemari-jemari masa
Tak sadarkan diri dalam melodi dan bahasa
Ciptamu adalah denyutku
Tak sanggup bila puzzle ini harus terpisah lepas tanpa arah
Rembulan, detik penuh sejarah dan kisah
Hilangkan saja salah satu organ, atau bumi ini akan luluh lantah
Takkan rela tetes air ini jatuh tersayat di udara
Bila rekat akar terlepas begitu saja
Entah kapan mentari menebarkan senyum bahagia
Meriam harapan bertubi-tubi menyerang dinding kokoh ini
Memaksa, meraung tanpa ampun
Jerit peri-peri kecil melengking mendenging
Hanya mampu berteriak dalam pusaran rembulan
Tak jua terwujud dalam realita
Lelah kaki berdarah diatas goresan kayu tajam
Tak ada yang terasa dan merasa
Langit masih terlihat lengang begitu saja
Menyapa tanpa makna
Rembulan, adakah yang mampu menutupi segalanya dalam balutan sutera?
Tak bergeming meski luluh lantah menghancurkan permukaan dunia
Meski saraf jernih telah kembali
Tiada satu kerikilpun yang sanggup mengobati
Kecuali mutiara hati
Meski saraf jernih telah kembali
Siapa yang hendak menghentikan laju roda hari ini?
Sudah sedari dulu melaju
Dikala jarum jam berdetak diwaktu yang sama
Seolah jagad raya tak terjadi apa-apa
Rembulan, aku pun bisa menolak mentah-mentah suguhan secangkir teh terbaik diatas meja
Tapi justru tak berdaya pula bila jarum jam sedang berputar diufuk sana
Bukan soal materi hati berbisik
Apa yang bisa dilakukan seonggok gula kotak dicangkir sebelah bergumam seraya menatap?
Ah, siapa yanng tahu itu?
Tanpa sehelai rambut pun, serangga malam tahu denyut ini menanti
Berbeda pula dengan gumpalan awan yang menyapa langit dikala rindu
Benteng malaikat ini mulai tergoyahkan
Sepucuk kertas berkelebat diantara papan baru sadar jikalau kapur ini berbeda
Mengganti tatap warna kapur yang tak dapat menghilang
Aduahai, di antara papan istana
Bila air raksa disiramkan
Ia tak mampu menghilang
Justru warnanya semakin melekat
_

Lepas Pasung Maya

Sering sudah
Pasung rantai mengikat erat
Stabilitas saraf tak terhentak
Dikala sedang bersama
Namun bila satu sama lain beranjak
Dari satu sudut paku tak lagi tertancap
Tertatih ungkapan tak dapat dibaca
Sejenak bergumam merasa
Mutiara bening terlepas dari keranjang angkasa
Tak ada yang mampu menata ribuan bahasa
Merpatipun tak mampu membawa pesan angin dalam kantong
Sekali rajawali beranjak
Tak mampu lagi merasa nyaman merebah di singgasana
Menerbangkan mandatpun tak jua mengembalikan rajawali
Kali ini rasa lemah dibawah asa
Meski menggalakkan lewat tonngak
Menunggu mentari terjun menuju gelap
Hanya menyisakan bayangan dibalik paldu pemisah








MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 8728023543111761743

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.Komentar akan diposting setelah mendapat persetujuan dari admin.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Medsos Rulis

item

WA