Sajak-Sajak Abdullah Mamber

Abdullah Member
Abdullah Mamber atau akrab disapa Pak Dul lahir 17 April 1983 di Banuaju Barat, Batang Batang, Sumenep, Madura. Menyelesaikan sekolah dasar di tanah kelahiran, kemudian hijrah ke Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk Guluk, Sumenep sampai selesai program S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Keislaman Annuqayah (kini INSTIKA).

Selepas Annuqayah, dia mengembara ke Bandung dan aktif di Jendela Seni bersama Faisal Er. Di sana, dia memperdalam seni peran, dan ilmu kehidupan sebagai pengembara. Namun pengembaraannya hanya terhitung bulan, dia akhirnya pulang kampung karena tak tahan pada panggilan tanah kelahiran.

Karya-karyanya sudah pernah dimuat sejumlah media, sampai buku puisi bersama. Kini dia sedang mempersiapkan buku puisi tunggal pertamanya dengan judul yang masih dirahasiakan. Pintu silaturahmi: ra_mamber@yahoo.com.



Mahia 1

1/
Sepercik dari setetes sukma
Sepi ruang di sunyi waktu
Nanti menanti ruh rindu

Menjadi sebiji benih
Tanam tumbuh di tanah jiwa
Daun pucuknya julur menjuntai
Menggapai gapai

‘Tiap kemilau,
Tidak selalu silau’

2/
Di lubuk kelam
Segala waktu adalah malam

Yang pergi pasti kembali
Dalam makna dan arti

2016


Tanpa Aku

Kebenaran tanpa Aku
Hampa ruang hampa waktu

Kesalahan tanpa Aku
Tiada jiwa tiada ruh

Cinta candu mencari Aku
Dengan tandu rindu

Dalam raga ragu
Hanya menemu nisan batu

2016


Mahia 2

Ruhku pantai
Tuju rindu ombak dan gelombang

Tempat kesiur angin bersenandung
Sampan harapan tepikan jangkar

Nelayan melabuhkan muatan
Ikan-ikan kehidupan

2016

Mahia 3

Nafsu merajahi sejarah
Atas nama kemanusiaan

Manusia saling menjarah
Ruh disingkirkan dari kenyataan

Menjadi dunia
Menjadi aku

2016


Sambung Nyawa

Semakin kau bunuh
Aku semakin hidup

Darah nyawaku
Bercampur garammu

2016

 
Ibu

Tanpa restumu
Kaki ini meniti
Sehelai bulu
Sepi

2016


Falsafah Padi

Menadah berkah tahun baru
Hujan keramat menguyupkan daunan doa
Batang permohon dibasahi airmata langit yang malam

Padi menguning
Di sawah pagi hari musin panen
Runduk tawaduk ke tanah sunyi
Menunggu mata arit yang tajam

Menjadi beras
Putih karena kebersamaan

2016


Kesaksian Reformasi

1/
Di gaduh riuh pekikan politik
Hutanku terbakar hutanku dibakar
Negaraku berkubur ke abu arangnya
Tertimbun bermasa masa

Hajat makhluk sejagat
Berbanding hayat cacing seperut

2/
Pada desas desus isu politis
Sungaiku sepi ikan, lautku sepi lokan
Di parit yang mampat
Negaraku adalah jentik nyamuk yang ganas

Mereka melumpuhkan anak cucu kami
Bahkan yang belum terlahirkan

2016

Zawiyah

Daging tulang ku tumpuk dalam bentuk
jiwa hati hijrah meninggalkan sejarah
ziarah dari kesunyiaan ke keabadian

Aku melupakan merahnya darah
nir akan cecap rasa
melumpuhkan otak atik

Kaki tangan ku pagut geraknya
dengan tali temali kebakaan
meninggalkan ragawi
yang memenjarakan ruhani

Aku dan diriku
berhadap-hadapan satu sama lain

Yang kenyataan yang hayalan

Aku mengembalikan ruhku
kepada yang Maha Ruh

2016

Garam Kalianget

Kau talangan menambak asin samudera
Mengeraminya dengan panas matahari kemarau
Mengkristalkan butir-butir garam ingatan
Cinta kasih lautmu pada daratan

2016

Keintiman Penyair dan Kata

Penyair dan kata
Sedekat urat leher dan tuhannya
Darah sumsum tulang daging
Otak hati jiwa raga, puisi

Kata punya cita citra
Dunia dalam hakikat terpendam
Ada dalam kesadaran ruh
Sublim ke yang ilahiyah

Penyair memaknai
Dalam cinta dan metafora
Menangkap sinar kenyataan
Ilham suci yang dinajiskan

2016

Maha Sunyi

Semyummu di atas senyumku
Pada senyummu senyumku bersunyi

2016


Menagih Janji

Biarpu panen gagal
Jagung layu mati pupus
Padi rubuh di kaki hama
Kacang tanah tak berbiji
Pohon kelapa tanpa buah
Siwalan juga menetas cuka

Aku menantimu
Di tanggal yang kau tinggalkan

2016


Mangle

Tiga kalung bunga kefanaan
Tanda lepas pisah ruh dan badan
Yang tersandera hidup kehidupan

Tiga kalung bunga kefanaan
Menandai mula sirat keabadian
Ke hadirat kedamaian

Tiga kalung bunga kefanaan
Menjadi pilar ingatan
Tiga janji tuhan

2016

Ruh Cahaya

Hujan malam ini
Tiba deras memeluk bumi
Basah becek;
air yang mengalir menggerus tanah
Ke parit ke sungai,
tapi tak keruhkan jernih lautku
Tak tawarkan asin samudraku

Hujan malam ini
Selimut dingin yang menggigilkan tubuh
Tidak ruh yang hangat di buaianku

Biar hujan mengguyur
Ruhku tak tersentuh basah
Ruhku bukan tanah tapi cahaya
Pendarnya melampaui matahari

2016

MENARIK JUGA DIIKUTI:

Tulisan Terkait

Utama 2351945345036643883

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Album Lagu Madura

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA