Bahasa Madura Sudah Saatnya Masuk Sekolah

Oleh: Ahmad Faizi

Pada peringatan hari guru waktu lalu, Presiden RI Joko Widodo memberikan sambutan di depan ribuan guru dari berbagai tingkatan dan lembaga pendidikan. Salah satu pesan yang betul-betul ditekankan adalah penanaman nilai-nilai kepada anak didik di sekolah atau Madrasah. Pesan tentang nilai-nilai ini disampaikan berulang kali oleh Jokowi, sebagai bentuk keseriusan beliah tentang betapa pentingnya penanaman nilai-nilai sejak dini dari lembaga pendidikan.

Sejauh yang penulis ketahui, sudah banyak yang dilakukan sekolah dalam upayanya untuk menanamkan nilai-nilai kepada anak didik. Misalnya dengan menyelenggarakan pembiasaan kegiatan ubudiah ‒shola dhuha, sholat jamaah, dan ngaji bersama sebelum ataupun sesudah dilaksanakan pembelajaran. Selain itu, berbagai kegiatan eksra juga dilaksanakan untuk menanamkan nilai kedisiplinan dan religiusitas kepada anak didik, seperti Pramuka, PMR, dan berbagai kegiatan yang lain.

Terlepas dari semua upaya yang sudah dilakukan oleh pihak sekolah termasuk di daerah Probolinggo, ada salah satu cara atau upaya yang belum dilakukan oleh pihak sekolah, yaitu menanamkan nilai-nilai dengan berlandaskan budaya lokalitas. Nilai-nilai sebagai taeget ketercapaian dari segala upaya mendidik tidak akan bisa terlepas dari budaya yang berkembang ditengah-tengah masyarakat. Kita tahu di setiap daerah berkembang berbagai budaya yang sarat dengan belbagai nilai yang akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak didik di sekolah.

Ada berbagai budaya lokal yang menunjukkan ciri khas kedaerahan, misalnya kesenian tradisional, permainan khas kedaerahan, belbagai tradisi berbusana, dan termasuk budaya kebahasaan. Khusus untuk tradisi kebahasaan, setiap daerah memiliki keunikan dalam bertutur satu sama lain. Keunikan dalam bertutur tidak bisa terlepas dari peran bahasa daerah yang mewarnai aktivitas sebagian besar masyarakat di daerah, termasuk di lingkungan pendidikan. Aktivitas kebahasaan yang menggunakan bahasa daerah cenderung berlangsung secara natural dan alamiah sesuai kebudayaan masing-masing daerah.

Bahasa Madura sebagai salah satu bahasa daerah menyimpan segudang nilai-nilai yang mencerminkan identitas penuturnya. Probolinggo sebagai salah satu daerah dengan penduduk mayoritas sebagai penutur bahasa Madura tidak bisa terlepas dari berbagai budaya yang ada dan berkembang di dalam komunitas penutur Madura. Namun demikian, berbagai nilai yang ada tidak menutup kemungkinan akan terkikis dan tergeser oleh nilai-nilai luar yang setiap saat mewarnai kehidupan masyarakat Probolinggo. Pengikisan itu berlangsung secara nir-sadar, sehingga tidak tampak jelas upaya dari masyarakat untuk membendung atau membentengi diri dari gempuran budaya luar.

Menyadari akan pentingnya bahasa daerah, termasuk bahasa Madura akan menjadi benteng ampuh menahan gempuran budaya luar yang menggerus nilai-nilai positif yang sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Bahasa Madura mengajarkan tentang tata cara bertutur yang baik dan benar. Kelas tuturan yang dimiliki bahasa Madura akan memberikan pencerahan tentang bagaimana bertutur kepada lawan tuturnya. Perbedaan lawan tutur akan membedakan tuturan yang digunakan oleh penutur. Misalnya, tuturan siswa terhadap teman akan berbeda jika dibandingkan dengan tuturan siswa kepada guru-gurunya. Tuturan seorang anak kepada orang tuanya akan sangat berbeda dengan tuturan seorang anak kepada temannya.

Kelas tuturan yang ada di dalam bahasa madura akan sangat memengaruhi sikap penutur ketika bertutur. Penggunaan tuturan ‘engghi bhunten’ akan menjadi pemicu bagi penutur untuk bersikap santun. Di samping itu, kelas tuturan ‘engghi bhunten’ juga sudah dianggap sebagai bahasa yang dinilai bisa menyantunkan tuturan. Anggapan itu sekaligus menjadi konvensi dan menjadi tolok ukur tingkat kesantunan tuturan dari penutur terhadap petutur. Konvensi-konvensi dalam budaya kebahasaan itu sudah menjadi keniscayaan dan tidak mungkin bisa dihindari dari kehidupan yang membutuhkan aturan-aturan dalam berinteraksi.

Dengan demikian, bahasa Madura sebagai sebuah kekayaan akan menumbuhkan dan menanamkan kesadaran akan keberagaman masyarakat Indonesia. Kelas kata yang ada di dalam bahasa daerah tersebut menjadi bukti keberagaman kelas yang ada. Berbeda-bedanya fungsi kelas tuturan juga akan memperkuat perbedaan sebagai sebuah keberagaman bukan pertentangan. Terbukti sejauh ini belum pernah ditemukan masyarakat yang berseteru satu sama lain karena mempermasalahkan fungsi dari kelas tuturan yang ada.

Bahasa Madura Masuk Kurikulum Sekolah

Sebagai bahasa daerah, bahasa Madura memiliki beberapa fungsi, yaitu fungsi edukasi, fungsi sosial, dan fungsi moral. Sehubungan dengan berbagai fungsi tersebut, rasa-rasanya jika dihubungkan dengan kondisi masyarakat pada saat ini ‒termasuk masyarakat sekolah‒ sudah saatnya bahasa Madura diadopsi ke dalam kurikulum sekolah di daerah Probolinggo, agar anak didik mengenal jati diri dan nilai-nilai yang ada di daerah mana dia berasal.

Fungsi edukasi yang ada di dalam bahasa Madura akan mengajarkan berbagai hal tentang tata cara bertutur terhadap mitra tuturnya, sesuai dengan status sosial yang melekat pada kedua belah pihak. Nilai-nilai yang ada di dalam bahasa Madura akan sangat mungkin untuk disinergikan dengan tujuan berbagai kompetensi yang harus dicapai oleh anak didik di sekolah. Sinergitas tujuan pendidikan yang tercermin pada kurikulum yang disahkan pemerintah dengan nilai-nilai lokalitas yang salah satunya ada pada bahasa Madura selayaknya harus dilakukan agar tidak terjadi benturan nilai-nilai yang dipercaya masyarakat.

Sedangkan fungsi sosial yang ada pada bahasa madura tampak pada keakraban yang tercipta ketika dua atau lebih orang bertutur menggunakan bahasa Madura, yang kemungkinan tidak ada pada bahasa Indonesia. Probolinggo yang terdiri dari mayoritas penutur bahasa Madura perlu melestarikan bahasa Daerahnya agar tetap menjaga solidaritas kedaerahan sesama masyarakat Probolinggo. Solidaritas ini bisa dibangun dari sekolah-sekolah dengan tidak mengenyampingkan kepentingan nasional.

Sekanjutnya, kelas kata yang dimiliki bahasa Madura dan berbagai budaya kebahasaan yang ada di dalamnya kan menanamkan nilai moral yang memang sudah menjadi konvensi masyarakat secara umum. Sebagai anggota masyarakat, anak didik di sekolah tidak mungkin didorong untuk mengambil sikap berbeda dengan konvensi yang sudah ada, akan tetapi mengajak untuk mengenali berbagai konvensi yang sarat dengan nilai-nilai budaya, terutama budaya kebahasaan.

Alhasil, penulis berharap ada gerakan dari berbagai pihak untuk turut memikirkan dan memperjuangkan kelestarian bahasa Madura di Probolinggo. Salah satu yang dapat dilakukan adalah memasukkan bahasa Madura sebagai salah satu muatan di dalam struktur kurikulum agar sekolah menjadi ujung tombak pelestarian budaya lokal yang sangat diperlukan untuk berbagai fungsi yang sudah diuraikan di atas. 

  *) Pemerhati Budaya Madura dan Pendalungan di Probolinggo
      sumber: www.academia.edu

Tulisan Terkait

Utama 5173066860742458403

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Rumah Literasi Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

Berlangganan: cantumkan alamat email Anda:

item