Bayangan



Cerpen Diniyati

“Entah berapa kali, aku membayangi sosokmu yang tersenyum, melambai seakan mengajakku duduk sekedar untuk bercengkrama. Tapi sekali lagi sosok itu tidak pernah ada”
Itu hanya ilusi yang kuciptakan sendiri, datang untuk sekedar menghiburku.


Semalam, setelah aku pulang dari surau, kusempat kan diri pergi ke danau Lara, untuk sekedar membayangkan apa yang ada di dalam danau ini, sudah ratusan tahun lamanya danau ini tidak tersentuh manusia, setiap orang mengatakan jika danau ini merupakan danau keramat yang tidak boleh disinggahi siapapun. Letak danau ini jauh dari perkampungan. Karena memang danau ini konon bisa-bisa saja menelan siapapun yang mendekatinya. Entahlah itu hanya mitos belaka atau bukan. Sampai sejauh ini aku tidak pernah percaya tentang itu. Karena yang aku tahu danau ini sungguh sangat memberiku ketenangan.

Aku sering menghabiskan waktuku di danau ini, berharap akan kehidupan untuk menjadi lebih baik lagi, aku sering bercerita pada danau ini, entah dia mendengar atau tidak. Setiap keluh kesah ku utarakan padanya, batu batuan kecil yang ada di pinggir danau sering aku lemparkan ketika aku merasa kesal. Entahlah danau ini marah atau tidak. Karna nyatanya aku tidak pernah melihat ada kemarahan pada air tenangnya.

Dua hari yang lalu, laki-laki renta menemuiku, ia mengajakku untuk segera pulang, hari mulai menjelang malam, langit yang awalnya kebiru-biruan telah berubah menjadi jingga diujung barat yang masih dengan siluet senja yang begitu meneduhkan.

Laki-laki renta itu berteriak “ Wahai anak muda, hari akan segera hilang. Pulanglah!” aku hanya tersenyum menanggapinya. Air jernih itu seperti mengajakku bicara, sehingga teriakan orang-orang yang melihatku dipinggiran danau itu sama sekali tidak kudengarkan. Aku membutuhkan air jernih ini, aku membutuhkannya. Tidak terasa malam sudah datang, aku tertidur diatas batu pinggiran danau. Tanpa sengaja aku melihat sosok perempuan mengenakan gaun putih, rambut panjangnya terurai indah, menutupi sebagian punggungnya. Aku tetap tidak bergerak melihat sosoknya, terlalu indah jika aku gambarkan, sedikitpun mataku tidak berkedip melihatnya. wajahnya baru terlihat jelas ketika cahaya purnama membelai lembut wajahnya. “Tuhan aku tidak pernah melihat perempuan secantik ini”. Ia masih memainkan air berlarian mengejar kunang-kunang yang tengah menyapa malam. Sesaat setelah itu. Perempuan itu menatapku, ia tersenyum kearahku, Tidak... dia terlalu indah untuk ku tatap.

Keesokan harinya aku kembali lagi ke danau itu. Untuk kali ini aku kesini bukan lagi untuk bersua dengannya. Melainkan menanti perempuan bergaun putih.

Dan sekarang, penantian itu benar-benar datang, Perempuan itu kembali berlarian.. Mataku kembali tidak bisa berkedip. Dan kali ini ia datang menghampiriku..

Tidak....

“ Ada apa gerangan kamu menatapku ?” perempuan itu sedang berada dihadapanku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apapun. Seolah mataku terkunci oleh matanya.

Tidak lama setelah itu, aku seperti bukan berada ditempatku. Danau itu tidak ada, suara-suara binatang liarpun tidak terdengar bahkan pohon-pohon liar itu tidak lagi bersuara lagi.

Perempuan itu menghilang.

Ahh tidak...

Aku tidak percaya. Aku melihat tubuhku tengah terkapar di tepi danau, terkapar tak bernyawa. Bahkan sekarang tengah mengambang ditengah danau

Tuhann... Aku tidak mati. Tapi nyatanya sekarang sekedar untuk memegang tubuhku saja aku tidak bisa, benda-benda yang berada disekitarku tidak bisa lagi kusentuh. Sekarang aku bukan lagi Rahman si pemuda penikmat danau. Melainkan telah menjadi bayang yang menjadi penunggu sang danau.

Perempuan itu tidak pernah ada, Dia hanyalah ilusi yang kuciptakan sendiri. Dan karenanya aku tidak sadar, ketika aku harus mengahiri hidupku dengan menenggelamkan diri di danau.

Sungguh menyesal, aku tidak mendengar teriakan orang-orang yang memanggilku. Aku hanya mendengarkan diri sendiri. Aku menyesal.

10/10/18

Menarik juga:

Tulisan Terkait

Utama 6503745979110707628

Posting Komentar

Komentar dan kritik Anda akan memberi semangat pada penulis untuk lebih kreatif lagi.
Silakan

emo-but-icon

Terbaru


Indek

Memuat…

Relaksasi

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

Tips Antisipasi Sebaran Virus Corona

item

WA