Sajak Khalilullah “Bagian dari Madura”


Khalilullah bernama pena Khalil Satta Èlman lahir di Pulau Poterran, Sumenep, Madura, 7 Mei 2003. Menulis puisi dalam dwibahasa, Indonesia dan Madura. Puisi Bahasa Madura-nya sering dimuat di Radar Madura dan Majalah Jokotolè (Balai Bahasa Jawa Timur), sedangkan puisi Bahasa Indonesinya terangkum dalam antologi bersama diantaranya; Jazirah; Jejak Hang Tuah dalam Puisi (Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2018) Jazirah 2; Segara Sakti (Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, 2019), Perihalnya Matinya Si Pemuda(Oase Publishing 2019),Gus Punk; Puisi untuk Gus Dur (Pelataran Sastra Kaliwungu Kendal 2018), Meminang Putri Dewa (Tidar Media 2018), Rasa dalam Karya (Sahabat Literasi Kita, 2018), Kangen (Rex Publishing, 2019), Negeri Sawit (Malam Puisi Rantauprapat, 2019), dll. Saat ini masih nyantri di PP. Al-Ghufron (Battangan) dan masih tercatat sebagai siswa kelas XI prodi IPS/2 di MA Nasy’atul Muta’allimin (1) Gapura Timur, Gapura Sumenep, Madura. Aktif di Komunitas Asap dan Sanggar Biru Laut. Email :khalilzafra@gmail.com.Facebook:Khalilullah/Khalil Satta Elma


Bagian dari Madura


1.Carok

sebelum berlaga, pasrah dada dan ritual sudah ada.
di atas talam sepasang calorèt bewrajah moyang
berbinar-binar bersama berlayarnya segala getar.
padahal calorèt-calorèt masih amis darah sejarah.

setelah kesepakatan sudah terpampang di teluk dada
di medan lagalah segala onak di di dada berbahasa.

roh-roh nenekmoyang bergentayangan, sambil bergumam;
“ini tanah Madura, sekaigus tanah para jawara.
arit dan hargadiri adalah urat kita!”

2.Kerrabhȃn Sapè

derap sapi kita melebihi derap kuda perang.
melesat melebihi kilat cahaya. bersayap selaksa mantra
dan kerap kita acu dengan peccot adi rasa.

angin jadi cemburu pada lesat-telapak kalèlès itu
padahal panas yang seamsal kerikil ababil
sudah cukup lama bersamadi di lubuk mata [sapi kita]
;paku-paku pilu menusuk-nusuk bokong rindu.

ah, sapi kita memang sangat istimewa. melebihi istimewa
sapi pada zaman kaum musa.

3.Rokat Tasè’

mari kita larungkan saji dengan gayuh doa paling puisi
biar segala cemas-taufan pergi dari ini hati.

tentang sampan kita yang kerap melayari wajah laut
telah Tuhan taburkan kembang tujuh rupa .di tubuhnya

dan biarkanlah bhitèk yang memuat  jhȃjhȃn ghenna’ itu
bertemu dengan khidir di teluk laut biru.

lalu meminta selaksa doa paling rahasia;
(agar segala noktah di lembar nasib, terhapus segala).

4.Ojhung

bila lama hujan tak datang. tanah kerontang.
kita gelar pertarungan dengan manjhȃlin sebatang.

layaknya pertarungan awan dan angin
yang membuat dada langit dingin.

hujan. hujan. hujan. menetaslah!
sebab ini jiwa sudah kehabisan airmata.


mantra-mantra masih dirapal sepanjang pecutan
sedangkan asap-kemenyan menjadi garis ring pertarungan.

tuhan, kami mengharap ‘kau mencatat keinginan kalbu
yang mengharap hujan datang; dengan zikir tubuh.


5.Lalabȃt

apabila sebuah kabar sudah menetas debar
di teluk ada ziil yang ingin menghadir.

bukan hanya tradisi, tapi ini tuntutan dari hati.

mungkin dengan beras tello ghȃntang
abȃ’ bisa mengubur suara-suara sumbang.

tersebabab tak hanya lidah yang bisa berdoa.
batu-nisan pun bisa meronta meski tanpa suara.

abȃ’ menyaksikan duka paling maha
meski abȃ’ tahu, derita hanyalah pakaian sementara manusia.

orang-orang masih sibuk berbicara tentang yang berpulang
aku pun bertanya: apakah izrail masih di ruang?

tak ada satu pun orang yang menjawab
hanya sepi yang mengucap;

yang berpulang hanyalah jasadnya tapi arwahnya
akan tetap berkeliaran dari lo’-tello’ sampai to’-pètto’.

6.Pandhȃbȃ

tukang tembang membuka macapat dengan tembang kasmaran
bhȃṭharakala pun datang ke altar upacara: dan berkata :
“sesungguhnya di antara mènnyan,labun,panebbhȃ,rabunan
dan semua ini, adalah berawal dari permintaanku pada adam.
bapakku. dan kemudian biar darma yang ‘kau sakralkan dengan tembang
tak lupa asal keberadaan.tak sunyi dari nyanyi ketaatan.” Ucapnya.
sang panegghes pun menegaskan dengan tembang mèjhil dan pangkor
biar segala kotoran di hati dan dada luntur dengan cara yang akur.

waktu menduduki sepertiga malam. tapi ritus tak kunjung usai.
padahal mènnyan sudah dinyalakan. panebbhȃ  diayunkan
rabunan dijungkalkan. labun diselimutkan. nyadhȃr di selaksa halaman.

Malam memawarkan senyum. Tembang salangèt semakin terdengar manyun.
Tukang mamaca dan sang panegghes menegaskan dengan tembang durma:
bhȃṭharakala, pulanglah ‘kau ke teluk sejarah, dan bawalah
kutukan-kutukan yang ‘kau tempelkan di ini dada. kembalilah. kemabalilah.
kembalilah. dengan diiringi tembang suara jiwa. artatè dan dhurma.”

7.Tanḍȃ’

ia bertandang di alunan suara gendang dan gambang
yang gemulai tubuhnya sehalus tarian gelombang.

matahari jatuh di muka.sepasang purnama rebah di dada.

di antara lantunan kidung, para najȃghȃ menyesuaikan gandrung.
ah, sayang keluarga besar sedang terkena pènjhung.

mungkin dengan kèjhung angling. mata-mata mereka
tak kubuat berpaling. apalagi dengan tiupan suling.

matahari semakin membara. suluh birahi di dada
ah, lagi-lagi di bawah tèrop hujan rupiah.

:demi hasrat, demi budaya –budak tak berdaya-


Al-Ghufron, Oktober 2019
   



(Puisi : "Bagian dari Madura", sebagai Juara Harapan III pada Lomba Cipta Tingkat SMA/MA/SMK dan Mahasiswa se Kabupaten Sumenep, yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep, tahun 2019.)








n.

Tulisan Terkait

Utama 4689527752552339676

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item