Dari Ladang Seniman Santri



Oleh: Zainul Walid

"Ayo, pejamkan matamu. Ingat kembali, kamu pernah bertemu anak TK di mana? Ingat kembali, bagaimana ekspresi anak TK itu saat pamit ibunya untuk mandi hujan? Ingat dan rasakan perasaan anak TK itu? Lalu, berpuisilah kamu, bergeraklah seperti anak TK itu!" pinta saya.

"Jangan asal bergerak. Kuatkan imajinasimu. Bayangkan kamu jadi anak TK yang minta mandi hujan itu!" lanjut saya. "Namun, ingat, berpuisilah tetap dalam kesadaran. Meskipun total, kamu tetap sadar, tetap bisa merasakan mana baik mana buruk. Tetap sadar apakah kopi saya akan kenak injak atau tidak, hehehe...!"

Setelah beberapa saat terpejam, diam, senyap, kemudian adik-adik santri putri peserta Sekolah Deklamasi itu bergerak ekspresif, membacakan puisi "Kekasih Hujan" yang saya tulis 3 November lalu,

KEKASIH HUJAN


Hujan lebat dalam tidurnya
"Ibu..., aku ingin mandi," igaunya

Esoknya
hujan lebat di halaman
ia telanjang sendiri
"Ibu..., aku ingin mandi."
wajah ibunya cuka
ia melompat saja

Hujan menyobek bukunya
melelehkan gambarnya
merusak mainannya
ia tidak marah
ia tertawa renyah
"Ibu..., aku ingin mandi."

Hujan menyeret angin
memecah bubungan
merobohkan pohonan
"Ibu..., aku ingin mandi."
mata ibunya singa
ia melompat saja

Hujan membuatnya sakit
wajah dokter jarum suntik
ia menangis
bukan karena sakit
anak-anak berlari di matanya
mengejar hujan
sampai ke tegalan

Bila hujan lama tak datang
ia dekap bantal erat
"Ibu..., kapan hujan?"
ibunya menjawab dengan selimut
hujan terisak-isak rindu
dalam tidurnya yang biru

--------------
Zainul Walid
Sukorejo, 3 November 2019

Selama 3 bulan (September-Desember 2019) mereka harus mengikuti pendidikan Sekolah Deklamasi, sejenis pendidikan nonformal yang dilaksanakan malam hari, selepas kegiatan muthala'ah pondok. Sejumlah materi teoritis dan praktik disampaikan oleh "master" (sebutan untuk pembimbing).

Untuk sampai ke puncak pendidikan, harus melalui 3 tahap: Tahap 1, pengenalan dasar, 1 bulan, kemudian ujian kenaikan tahap; tahap 2, pendalaman, 1 bulan, kemudian ujian kenaikan tahap; tahap 3, karantina untuk persiapan mengikuti ujian akhir (kelulusan sebagai deklamator/deklamatris). Inilah ujian paling menegangkan, tidak sedikit orang tua mereka turut hadir, utamanya yang berasal dari Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember, menyaksikan putrinya berdiri dalam panggung panas yang disaksikan ribuan santri.

Di atas panggung panas, mereka harus menentukan sendiri puisinya, seting pentasnya, instrumen dan soundeffect-nya, properti dan busananya, pengelolaan latihan dan kru pendukungnya, termasuk aktor/aktris pembantu bila diperlukan untuk menguatkan kesan, pesan, dan suasana puisi. Belum lagi mereka harus siap ditanya oleh penguji, baik tentang materi yang berkaitan dengan puisi dan deklamasi, maupun alasan-alasan pola akting, performa, tata pentas, tata instrumen, dan lain-lain. Stres bukan?

Dalam ujian akhir, mereka harus menempuh 2 jenis ujian: tulis dan praktik. Penguji pada ujian kelulusan biasanya menghadirkan penguji tunggal dari tokoh penyair/pembaca puisi nasional. Tahun ini, ujian akhir diperkirakan akan dilaksanakan pada akhir bulan Desember 2019 atau Januari 2020.

Di samping Sekolah Deklamasi, terlaksana juga Sekolah Puisi, Sekolah Cerpen, Sekolah Nasyid, Sekolah Lukis, dan Sekolah Dai.

Sekolah Seni Ibrahimy (SNI) ini diselenggarakan oleh Sanggar Seni Cermin IKSASS Putra untuk santri putra, dan Akademi Kreatifitas Ibrahimy (ARI) IKSASS Putri untuk santri putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo.

Untuk SNI ARI tahun ini memasuki angkatan ke-9 sejak program ini dilaksanakan pertama kali sekitar tahun 2008. Sudah banyak alumni sekolah seni ARI dan Sanggar Cermin, baik yang masih menuntut ilmu di pondok maupun melanjutkan pendidikan di luar pesantren atau hidup bermasyarakat.




Tulisan Terkait

Utama 124402427871795077

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbitan Buku

Marlena Marlena Marlena Marlena Marlena terbitan buku rumah literasi sumenep terbitan buku rumah literasi sumenep

Testimoni

silakan unduh materi literasi

Terbaru


Indek

Memuat…

Kamar Pentigraf

Kearifan Lokal

Puisi Pihan

Kolom Anak dan Remaja

item